Menggenggam Asa

Menggenggam Asa
Bab. 70


__ADS_3

Iya Papa, akan segera mengurus hingga nama Kakek Kamu kembali baik dan segera dipulihkan seperti sedia kala," timpal pak Hadi.


Mereka tersenyum lega karena akhirnya jalan untuk memperbaiki nama Kakek buyutnya trio bocil bisa kembali baik lagi.


"Bagaimana dengan pernikahan Risma dan Rudi?" tanya Pak Hadi.


"Sebaiknya segera dilaksanakan saja Pa, kasihan mereka gara-gara Amai sehingga mereka terpaksa menunda pernikahannya," jelas Rania dengan wajah sendunya.


"Alhamdulillah kalau seperti itu yang Kamu harapkan, Papa sangat bahagia dan bersyukur memiliki putri sebaik kamu, Nak," pujian ditujukan untuk Rania dari bibirnya papa mertuanya itu selaku pengacara di keluarga papanya.


"Nur, Mbak ingin bertanya pada Kamu, Mbak harap Kamu bisa berterus terang kepada Mbak," ucap Martha yang berharap besar kepada Nur.


"Insya Allah Mbak, emangnya Mbak mau bertanya tentang apa?" tanya Nur.


"Mbak ingin mengetahui tentang Ali," balasnya Bu Martha.


Ibu Nurmala menatap wajah Ibu Masitah sebelum membuka suaranya.


"Ali bukan lah anakku Mbak, dia anak yang diculik oleh Abang Nur yang aku selamatkan sekitar kurang lebih enam tahun yang lalu," jelas Bu Nur dengan penuh keyakinan.


"Apa!! apa yang ibu katakan?" tanya Rania yang shock setelah mendengar perkataan dari Ibu Nur.


"Itu tidak mungkin Bu!!" Ujarnya Reza yang ikut dalam pembicaraan mereka.


Rania spontan berdiri dari duduknya lalu memegang kedua pundak Ibu Nur dengan tidak sabarnya.


"Ibu, tolong bicara yang jujur, apa maksud dari perkataan Ibu?" Desak tanya Rania dengan wajah yang sangat serius.


Nenek Rita mendekati cucunya yang sudah bereaksi diluar kendalinya. Nyonya Rita berusaha menenangkan pikiran cucunya.

__ADS_1


"Sayang sabar, dengarkan penjelasan Ibu Nur, tenanglah Nak, Nenek yakin Alif adalah Axel putramu," ujar Nenek Rita..


Rania pun kembali duduk di tempatnya. Nyonya martha sangat mengerti dengan apa yang dirasakan oleh cucu menantunya. Ia pun sebenarnya bersikap seperti itu tapi, Bu Rita terus berusaha menahan rasa marahnya yang sudah di puncak ubun-ubunnya.


"Maafkan anakku Nur, maklumlah dia sangat khawatir dengan putra sulungnya," ucap Nyonya Marta yang memohon agar Nur mengerti dengan kondisinya Rania.


"Nggak apa-apa Kok Mbak, Saya maklum dengan Nona Muda, siapa pun yang berada di posisinya pasti akan bereaksi seperti itu, ibu mana yang tidak akan merindukan kehadiran anaknya," tuturnya.


"Makasih banyak Nur, tolong lanjutkan apa yang kamu ketahui tentang Ali," pinta Nenek Rita yang ikut menimpali pembicaraan mereka berdua.


Ibu Nur pun kembali melanjutkan penjelasannya setelah sempat terhenti gara-gara Rania yang terkejut mendengar penuturan Ibu Nur.


"Ali adalah anak yang aku selamatkan dari tangan Abangku, waktu itu aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Abang lewat telpon dengan kaki tangannya, kalau Abang menyekap seorang anak kecil di dalam gudang," ungkap Bu Nur dengan tatapan sendunya saat mengingat kejadian beberapa tahun lalu.


"Terus apa yang terjadi dengan anak itu?" tanya Raniah yang tidak sabar menunggu kelanjutan kisah dari Alif.


"Ya Allah Ahmad kenapa kamu begitu tega ingin membunuh anak kecil yang tidak berdosa dan bersalah sedikit pun padamu," ratap Ibu Martha dengan dearaian air matanya.


Ibu Martha sangat menyayangkan dan tidak percaya dan sering bertanya-tanya kenapa bisa ada orang yang bisa hidup dengan rasa dendamnya hingga bertahun-tahun lamanya. Bu Rita menggelengkan kepalanya tanda tidak mengerti dengan sikapnya.


Ahmad yang sangat berbanding terbalik dengan yang dia kenal sejak kecil. Ahmad dan Martha muda sejak Sekolah Dasar hingga ke Perguruan Tinggi mereka bersama. Tetapi, Ahmad sudah mencintai Martha sejak mereka masih Sekolah Menengah Pertama masih bau kencur.


Ahmad mencintai Martha dalam diamnya,dia sama sekali tidak berani mengutarakan perasaannya. Padahal Masitha juga ada rasa. Hingga kedatangan Anwar pemuda tetangga kampungnya yang melihat Martha yang lebih berani untuk menyatakan cinta dan nekatnya melamarnya muda dulu.


"Ya Allah, Abang entah apa yang merasukimu hingga hati nuranimu tertutupi dengan kebencian dan dendam yang tidak berkesudahan," batinnya Martha dengan menutup mulutnya Saking tidak percayanya mendengar penjelasan dari Nur.


Balas dendam hanya akan menutup banyak pintu. Menghilangkan banyak kesempatan, mengungkungnya untuk satu tujuan yang pada akhirnya hanya menghasilkan kepuasan semu. Balas dendam terbaik adalah hanya dengan memperbaiki diri sendiri. Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik.


......................

__ADS_1


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya yang ceritanya lebih seru dari Menggenggam Asa loh..



Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Dendam


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...


Tetap berikan dukungannya untuk menggenggam asa dengan cara, Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, berikan gift dan Votenya juga…


Mohon maaf jika banyak terdapat kesalahan dalam pengetikan cerita ini atau Typonya yang meresahkan...

__ADS_1


__ADS_2