Menggenggam Asa

Menggenggam Asa
Bab. 58


__ADS_3

Andai saja Rafael berada di antara mereka pasti mereka akan ditegur dan dilarang agar mereka diam disaat mereka menyantap makanan.


Sedangkan jauh di sana di belahan dunia lainnya tepatnya di Jakarta. Risma dan D


Rudi pagi ini janjian untuk sarapan pagi di Apartemen Risma bersama dengan Ali.


Rudi ingin menyampaikan sesuatu kepada Risma tentang kedatangan kakak beserta kakak ipar dan anak-anaknya beserta keluarga kecilnya serta acara penyambutan untuk Rendra Richie Arfathan Meyer..


Rudi juga berniat untuk mengantarkan beberapa oleh-oleh yang dibawakan khusus untuk Muhammad Ali anak tunggal dari pelayan yang baru tinggal di apartemennya Risma.


Rudi sudah bersiap berangkat dan di dalam mobilnya, hpnya berbunyi pertanda ada chat yang masuk ke aplikasi hpnya yang berwarna hijau itu.


Reza segera membukanya lalu membacanya. ia tersenyum saat mengetahui jika Kakak ipar sekaligus Kakak sepupunya beserta yang lain sudah berada di atas pesawat menuju Indonesia..


"Ayok Mas, saatnya kita pulang," ajak Rania meraih tasnya di atas meja nakas yang berisi dompet, beberapa kartu penting dan hpnya.


Reza sama sekali tidak ingin berkomentar apapun walaupun dia tahu apa yang terjadi dengan Istrinya tersebut. Rania yang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


"Rendra, Alexa sayang waktunya kita pulang," lalu mencari keberadaan kedua anaknya tersebut.


"Mommy! Aku ada di sini," jawabnya lalu berlarian bersama adiknya menuju Maninya.


"Kalian siap pulang?" tanya Reza yang ingin memastikan hal tersebut yang menangkap dan memeluk langsung ke dua tubuh anaknya.


"Yes, Daddy kami siap," ucap anaknya mereka bersamaan.


"Kalau gitu let's go," ujarnya Reza kemudianmemegang masing-masing tangan anaknya, Rendra di sebelah bagian kiri sedangkan Echa di sebelah kanannya.


Tawa riang dan gembira terpancar di raut wajah keduanya, mereka sudah tidak sabar untuk pulang. Reza sesekali melirik ke arah wajah istrinya yang kadang memperlihatkan wajah murungnya.


Tetapi sering kali berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan perasaan sedihnya di depan suami dan anaknya.


Rania berusaha tersenyum manis seperti biasanya agar suaminya tidak mengetahui kegelisahan yang dirasakannya.


Rania sangat sedih karena harus kembali berpisah dengan Papinya.

__ADS_1


"Papi, aku pulang jaga diri papi baik-baik," batinnya Rania.


Reza ikut bersedih dengan melihat Sikap istrinya sendiri, tapi dia tidak mungkin harus tinggal selamanya di Inggris London.


"Papi maafkan saya yah selama ini sudah merepotkan dan menyusahkan papi makasih banyak tanpa bantuannya papi, hari ini pasti tidak akan terjadi, aku sangat sayang papi, menunggu kedatangan papi di Jakarta," batinnya Rania dengan berusaha menahan tangisnya.


Rabia menatap ke arah ruangan pribadi kakeknya dengan penuh harap agar kakeknya keluar dari kamar itu dan memeluk tubuhnya sebagai tanda ucapan selamat perpisahan mereka. Tapi, harapan itu tidak mungkin jadi kenyataan.


"Sampai jumpa lagi papi, see you..," gumamnya Rania.


Ananda dan anak buahnya yang lain langsung tanggap untuk membuka pintu mobilnya setelah mereka melihat kedatangan rombongan keluarga kecil yang penuh kebahagiaan.


Wajah mereka sama-sama menyimpan rasa yang berbeda-beda. Rania tidak memungkiri jika dirinya sudah lama ingin kembali dan pulang ke tanah air, tetapi di sisi lain hatinya juga merasakan kegalauan.


Kesedihan yang mendalam saat dia akan meninggalkan kakeknya sendirian yang nantinya akan kesepian tanpa mereka. Walaupun dia sudah berjanji pada dirinya dan di hadapan Kakeknya.


Jika kelak ketiga anaknya sudah besar, mereka akan tinggal di Istana megah ini. Janji itu pasti raniah realisasikan dan buktikan untuk kebaikan anak-anaknya kelak


"Aku pasti akan kembali ke sini lagi papi," lirihnya Rania.


Rania masuk ke dalam mobilnya berdampingan dengan suaminya sedangkan kedua anak yang sudah berada di kursi yang berhadapan langsung dengan mereka dengan wajah yang sumringah kegirangan.


Reza meraih tangan kanan istrinya lalu menciumnya, ia ingin menyalurkan rasa sayangnya agar Amai bisa pulang ke Indonesia dengan ikhlas dan tidak ada beban yang menghimpit pikiran dan hatinya.


"Mommy Rendra senang sekali," ucap polos Rendra anak bungsu mereka saat dirinya sudah duduk di kursi mobilnya matanya sangat berbinar-binar berkilat cahaya kegirangan.


"Kenapa sayang?" tanyanya Rania yang baru saja melap air matanya diam-diam lalu menatap ke arah putranya.


"Saya bahagia karena di Indonesia banyak keluarganya Rendra kan Mommy, kalau di Istananya Kakek cuma Kakek dan Mommy saja," jawabnya dengan raut wajahnya yang tiba-tiba sendu.


"Sabar yah sayang, mereka sudah tidak sabar menunggu kedatangan Rendra loh dan katanya Kakek Heri sudah menyiapkan pesta dan syukuran untuk menyambut kedatangan kita semua," jawabnya yang sudah memangku tubuh putranya itu dengan penuh kasih sayang.


"Serius moms?" tanyanya lagi Rendra dengan kegirangan dan sudah membayangkan hal tersebut.


Rania hanya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan perkataan dari anaknya. Mobil sudah meninggalkan istana megah itu menuju Bandara. Perasaan mereka campur aduk saat meninggalkan kota London Inggris yang penuh dengan kenangan.

__ADS_1


Raniah tidak hentinya menatap ke arah belakang melalui jendela mobilnya, Ia berharap Papinya datang dan berlari mengejarnya.


Tapi, harapan itu hanya tinggal harapan yang tidak terlaksana hingga mobilnya melaju dengan kecepatan sedang ke arah pintu gerbang kokoh nan tinggi itu.


"Good Bye Papi, aku sangat sayang Papi untuk selamanya," gumam Rania yang ujung pelupuk matanya sudah berembun.


Dia tidak kuasa lagi menahan air matanya saat rumah bak Istana itu sudah tidak terlihat lagi dari pelupuk matanya. Suaminya yang melihat istrinya menangis langsung meraih kepala Istrinya untuk dia sandarkan di pundaknya.


"Menangislah, tidak perlu Kamu tahan lagi, Mas sangat mengerti dengan apa yang Kamu rasakan, Mas juga merasakan hal yang sama seperti yang Kamu rasakan," Reza berupaya untuk menenangkan pikirannya dan hati istrinya yang menggenggam erat jemari tangan Rania yang tak bosan untuk menciumnya.


Di mana ada pertemuan pasti ada Perpisahan, tidak ada yang abadi. Kesedihan yang dirasakan setiap insan itu manusiawi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:



Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Dendam


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Kau Hanya Milikku

__ADS_1



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...


__ADS_2