Menggenggam Asa

Menggenggam Asa
Bab. 17


__ADS_3

Rumah yang hanya berukuran 4X5 kecil itu menjadi saksi bisu beberapa hari ini menjadi tempat tinggalnya Bu Sulastri dan Ali anak laki-laki yang berusia sekitar 11 tahun.


"Maaf yah Mbak, kami belum punya alas lantai jadi hanya pakai sarung dulu," ucap Ibunya Alif.


Ali pun ikut duduk di samping ibunya di atas tikar sarung itu yang memanjang cukup mereka bertiga duduk.


"Tidak apa-apa kok Bu, maaf kedatangan Risma ke sini untuk menawari Ibu untuk bekerja dan sekaligus tinggal bersama Saya kebetulan saya lagi cari orang yang bisa bantuin saya jaga rumah dan masakin," tawar Risma.


Dia menatap ke arah dalam bola mata Ibu Sumartini yang seperti seseorang yang sedang gelisah. Ia kemudian menyentuh punggung tangan Ibu Sulastri.


"Mak terima saja tawaran Kakak Risma dari pada kita harus tinggal di sini dan setiap hari melihat dan mendengar orang yang berkelahi gara-gara kalah taruhan judi," tutur Ali yang merengek pada Emaknya.


Hal ini adalah permintaan pertama Alif selama ini tidak pernah sedikit pun berniat atau pun bermimpi untuk meminta sesuatu pada emaknya karena Alif tahu dengan sangat persis kondisi keuangan emaknya yang hanya buruh tani yang digaji harian saja.


"Betul sekali yang dikatakan Alif dari pada hidup di lingkungan yang tidak baik seperti ini terus menerus dan bisa berdampak buruk dengan perkembangan psikis dan mental Alif," Risma membatin.


"Bagaimana Mak, terima saja yah, Alif tidak mau lihat ada ibu-ibu yang bertengkar dengan suaminya setiap hari," Alif semakin merengek pada emaknya untuk memenuhi permintaan dari Risma.


"Tapi, apa kami akan tinggal bersama Mbak Risma atau akan bolak balik pulang ke rumahnya kalau pekerjaanku sudah beres?" Tanyanya Bu Sulastri.


Wajah Emaknya Alif langsung sendu seketika dan kebingungan jika harus pergi pagi dan pulang malam bagaimana dengan nasib anaknya, jika harus ditinggal seorang diri di lingkungan yang tidak aman seperti di Kosannya.


"Alif berharap Emak menyetujui permintaan dari Mbak Risma," pintanya Ali kepada ibunya dengan menggoyang lengan Bu Sulastri.


Wajah sendu membayangi wajahnya Ibu Sulastri dan ada rasa segan untuk memenuhinya permintaan dari Risma dan Putranya.


"Semoga ibu Sulastri bersedia ikut bersamaku dan tinggal di Apartemenku," Risma membatin.


Dengan berbagai pertimbangan yang matang Ibu Sulastri pun menyanggupi keinginan dari Risma dan putra kecilnya.


"Baiklah Saya mau Mbak, kerja di rumah Mbak," ucap Ibu Sulastri.


"Alhamdulillah, makasih banyak Bu," ucap Risma dengan wajah yang langsung berseri-seri sambil memegang tangan Bu Sulastri.


"Tapi bagaimana dengan anakku yang masih sekolah dan apa jauh dari sini rumah Mbak Risma?" tanya balik Ibu Sulastri.


"Ibu tidak pernah perlu merisaukan tentang Alif karena kalian berdua akan tinggal bersamaku di Apartemen pribadiku dan kalian tidak akan tinggal di sini lagi untuk selamanya," ucap Risma yang berusaha menyakinkan kepada Ibunya Ali.

__ADS_1


"Benar apa yang dikatakan Mbak Risma, kalau kami tidak perlu tinggal dan hidup di sini lagi?" tanya Alif dengan antusiasnya.


"Iya Alif tidak perlu lagi kembali ke sini untuk selamanya dan semua barang-barang pribadinya Alif yang tidak penting tidak usah Alif bawa pulang," ucapnya yang entah kenapa ada perasaan berdesir dari dalam hatinya.


Perasaan hangat tiba-tiba dirasakan oleh Risma ketika melihat senyuman manis dari wajah tampan Alif.


"Iya Mbak akan belikan Alif banyak pakaian baru dan juga mainan," timpal Risma.


"Bagaimana dengan sekolahnya Alif Mbak, karena saya sudah carikan sekolah yang cocok untuk Alif tapi, tidak ada yang mau menerima Alif sebagai murid di Sekolahnya dengan berbagai alasan yang cukup membuat saya heran," jelas Ibu Suamartini.


"Ibu tidak perlu mengkhawatirkan itu semua, serahkan semuanya pada saya, aku yang akan mengurusnya dengan baik dan Alif hanya siap bersekolah dan harus rajin sekolah dan giat belajar hanya itu yang Mbak minta kok dari Alif," ucapnya.


"Kalau gitu kami akan kemas-kemas barang-barang kami dahulu Mbak," ucap Ibu Sulastri lalu bangkit dari duduknya.


"Baik Bu," jawab singkat Risma.


Beberapa saat kemudian mereka sudah menutup rapat pintu kamar yang beberapa hari ini sudah ditempati oleh Alif bersama emaknya.


Alif sangat bahagia karena akan kembali bersekolah. Ibu Sulastri pun merasa lega karena sudah terbebas dari kosan yang sangat tidak layak untuk dijadikan hunian.


Dia sangat bersyukur karena berkat pertemuannya yang tidak terduga dengan Mbak Risma yang bisa mengeluarkan dia dari lingkungan yang tidak kondusif dan sehat itu.


"Silahkan masuk ke mobil aku, maaf mobilnya kecil," ungkap Risma merendah sembari membukakan pintu mobil untuk Alif dan emaknya.


"Wooow mobil Mbak Risma sangat bagus yah, tempat duduknya sangat empuk harum lagi dan bersih," puji Alif dengan lugunya.


"Kita ke Mall dulu untuk beli beberapa lembar pakaian untuk Alif sama emak yah, besok Mbak akan ajak Alif untuk mendaftar di Sekolah terbaik yang ada di sekitar Apartemen Mbak, jadi sekarang kita cari perlengkapan sekolahnya Alif terlebih dahulu," jelasnya panjang lebar.


Risma lalu mulai menyalakan mesin mobilnya dan mengemudikan mobilnya ke arah jalan raya untuk segera bergegas meninggalkan lingkungan yang cukup kumuh itu.


Mobil Risma sudah berbaur dengan pengendara jalan lainnya. Suasana jalan yang terbilang ramai tapi, Untung tidak terjadi kemacetan yang berarti. Sehingga mereka cepat sampai ke tempat Parkiran Mall.


Alif dibuat terkejut dan heboh melihat bangunan yang tinggi mengjulang ke atas langit.


"Mbak ini bangunan apa namanya kok tinggi banget yah?" tanya Alif yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di sekitar area Mall dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling mall.


Risma hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu dan polos Alif. Dia tidak menyangka jika anak seumuran Ali 11 tahun sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya ke dalam salah satu Mall apa pun.

__ADS_1


"Maaf Mbak ini pertama kalinya Alif ke Mall, Ibu tidak pernah membawa Alif jalan-jalan untuk lihat kondisi Mall itu bagaimana, maklumlah kami tidak punya uang lebih Mbak, untuk makan saja tidak ada," tutur Ibu Sumartini panjang lebar dan tersenyum malu.l tapi raut wajahnya sendu menyiratkan ada kesedihan dibaliknya.


"Kalau gitu mulai detik ini kalau Mbak ada waktu Mbak akan ajak Alif ke Mall, Alif mau gak tak ajakin nanti ke sini lagi?" tanya Risma saat mereka sudah berjalan masuk ke area Mall.


"Alif mau! tidak akan pernah menolak untuk Ikut bersama Mbak Risma," ucap Alif kegirangan.


Mereka pun sudah berjalan memasuki pintu Mall. Tingkah lucu dan polosnya Alif membuat Risma tersenyum bahagia. Mereka berbelanja beberapa potong pakaian untuk Alif dan emaknya serta perlengkapan dan kebutuhan sekolahnya Ali.


Risma juga berbelanja kebutuhan sehari-harinya seperti kebutuhan pokok dan bumbu-bumbu dapurnya. Ia dibantu oleh Ibu Sumartini dalam memilih bahan makanan yang bagus dan juga bumbunya. Mereka berbelanja hingga sore hari.


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:



Dilema Diantara Dua Pilihan


Hasrat Daddy Anak Sambungku


Aku Diantara Kalian


Cinta dan Dendam


Cinta yang tulus


Bertahan Dalam Penantian


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...

__ADS_1


__ADS_2