Menggenggam Asa

Menggenggam Asa
Bab. 71


__ADS_3

Ahmad mencintai Martha dalam diamnya,dia sama sekali tidak berani mengutarakan perasaannya. Padahal Masitha juga ada rasa. Hingga kedatangan Anwar pemuda tetangga kampungnya yang melihat Martha yang lebih berani untuk menyatakan cinta dan nekatnya melamarnya muda dulu.


"Ya Allah, Abang entah apa yang merasukimu hingga hati nuranimu tertutupi dengan kebencian dan dendam yang tidak berkesudahan," batinnya Martha dengan menutup mulutnya Saking tidak percayanya mendengar penjelasan dari Nur.


Balas dendam hanya akan menutup banyak pintu. Menghilangkan banyak kesempatan, mengungkungnya untuk satu tujuan yang pada akhirnya hanya menghasilkan kepuasan semu. Balas dendam terbaik adalah hanya dengan memperbaiki diri sendiri. Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik.


Jika jahat dibalas kejahatan, maka itu adalah dendam.


Jika kebaikan dibalas kebaikan maka itu adalah perkara biasa.


Jika kebaikan dibalas kejahatan maka itu adalah zhalim.


Tapi, jika kejahatan dibalas kebaikan itu adalah mulia dan terpuji.


Bukan baru kali ini Nenek Rita tidak mempercayai jika Pria yang baik, penyayang, jujur dan baik hati berubah menjadi pendendam bahkan menjadi angkara murka yang menghancurkan ketiga keluarga besar saling bermusuhan menjadi terpecah belah.


"Ya Allah Engkau lah pembolak hati dan perasaan seseorang, maka dengarkanlah permohonanku, Aku mohon bukalah pintu hatinya Nur agar segera merubah sifatnya yang telah keliru," batinnya Bu Martha.


"Setelah Aku mendengar pembicaraan mereka, aku pun segera menyelesaikan pekerjaanku waktu itu, dan berjalan ke arah Gudang tempat dimana Alif dikurung dan disekap," jelasnya Bu Nur.


"Terus apa yang terjadi lagi dengan Alif Bu?" tanya Rania yang semakin tidak sabaran yang sudah matanya sembab saking kerasnya dia menangis.


Matanya Pak Hadi yang sedari tadi menjadi pendengar setia, matanya pun sudah berkaca-kaca. Dia tidak menyangka jika ada orang yang sudah tertutup mata hati dan nuraninya, sehingga tidak memperdulikan apapun yang dia lakukan.


Ibu Nur menghela nafas panjang. Seakan-akan ada beban berat yang akan terlepas dari pundaknya itu. Ia tidak akan menyembunyikan sesuatu apa pun lagi.

__ADS_1


"Aku pun tanpa pikir panjang segera berjalan ke Gudang itu, aku sangat terkejut melihat kondisi Alif yang sedang terbaring dengan kedua tangan dan kakinya terikat, dengan kondisi yang sudah tidak sadarkan diri lagi." Jelas Bu Nur.


Sesekali Ibu Nur sesegukan saat menjelaskan semuanya kepada mereka. Hidung sudah memerah dan sesekali mengeluarkan air bening.


"Ya Allah sungguh miris melihat anak sekecil itu harus dihukum yang tidak punya salah sedikit pun," terang Risma yang baru-baru saja ikut bergabung dengan mereka.


Raniah memegang tangan Ibu Nur dengan penuh kasih sayang dan penuh kelembutan.


"Aku tidak ingin ingin menunda lama lagi, jadi aku segera menyelamatkan tubuh Alif, aku menggendong tubuh Alif hingga ke dalam mobil berbak milik Abang Ahmad," tuturnya lagi.


Nenek Ritha, Bu Martha dan yang lainnya menutup mulutnya setelah mendengar penjelasan dari Ibu Nur yang sangat mencengangkan dan miris menusuk sembilu. Nyonya Martha ingin menghentikan pembicaraan Ibu Nur.


Karena tidak sanggup mendengar apa lagi membayangkan apa yang dialami oleh Alif waktu itu. Tapi, Raniajuga tidak sabar dan kepo dengan nasibnya Alif. Amairah ingin mengetahui apa betul Ali adalah putra sulungnya yaitu Rafael.


"Belum Nona Risma, Saya baru mencari cara untuk membawa tubuhnya Alif hingga keatas mobil yang akan mereka pakai, hanya itu satu-satunya cara yang ada, jika membawa ke tempat lain pasti ujungnya akan gagal usaha yang saya lakukan," terang Bu Nur.


"Ada yah orang yang setega itu, kalau aku diposisinya Ibu pasti akan Aku lapor ke polisi agar si Ahmad segera ditangkap dan dijobloskan ke dalam penjara, biar dia juga merasakan gimana rasanya menderita," geram Risma dengan menggebu-gebu.


"Maya husss, biarkan emaknya Alif selesaikan perkataannya, Sedari tadi selalu memotong pembicaraan," sanggah Nenek Ritha yang tersenyum melihat kemarahan dan rasa jengkel yang membuncah di dalam hatinya Risma.


"Maaf Nek," ucap Risma yang cengengesan saking semangatnya mendengar kisahnya Bu Nur.


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya yang ceritanya lebih seru dari Menggenggam Asa loh..


__ADS_1


Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Dendam


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...


Tetap berikan dukungannya untuk menggenggam asa dengan cara, Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, berikan gift dan Votenya juga…


Mohon maaf jika banyak terdapat kesalahan dalam pengetikan cerita ini atau Typonya yang meresahkan...

__ADS_1


__ADS_2