
Sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah istri yang sholehah. Cinta hanyalah sebuah kata sampai seseorang datang dan memberinya makna Cintamu melukiskan gambaran yang indah tentang apa arti cinta yang sebenarnya..
Reza sangat bahagia karena istrinya rela menjaganya dikala dia sakit dan tertidur di sampingnya dengan cara terduduk di kursi sedang kepalanya berada di pinggir ranjangnya.
Matahari telah terbit di sebelah timur, sinarnya yang mampu menghangatkan jiwa-jiwa yang terlelap dalam tidurnya. Matahari bersinar menerangi seluruh isi alam semesta. Cahaya sangat dibutuhkan oleh makhluk bumi.
Rania perlahan-lahan membuka kelopak matanya, dan mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan sinar cahaya lampu yang masuk ke retina matanya. Ia melihat ke sekelilingnya dan wajah pertama kali di lihatnya adalah Reza Bramantya Aiman lah yang masih terlelap dalam tidurnya. Rania pun refleks tersenyum saat Amairah menyentuh kening suaminya yang sudah tidak panas seperti kemarin.
"Alhamdulillah suhu tubuhnya sudah tidak panas lagi," ucapnya Rania lalu melepaskan tangannya dari keningnya Reza.
Rania ingin bangkit dari tidurnya, tapi pergerakannya terganggu dikarenakan ada tangan kekar yang melingkar di atas punggungnya. Dia ingin mengangkat dan memindahkan lengannya Reza dari atas perutnya, tapi upaya yang ia lakukan dicegah oleh Reza.
"Mas mohon biarkanlah seperti itu sebentar saja, please!!" cegah Reza dengan memohon.
Reza masih memejamkan kedua matanya dan kembali mendekap tubuh istrinya dan semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh istrinya. Hal tersebut mampu membuat jantung Ranis berdegup lebih kencang dan berdetak tak karuan. Selama masa pernikahannya, Rania belum pernah diperlakukan seperti ini olehnya.
Rania yang terakhir kalinya ia ingat saat berhubungan intim dengan Martin yang akhirnya melahirkan anak kembar sekaligus anak keduanya itu, tapi tidak seperti sekarang ini. Hubungan LDR yang mereka jalani dahulu di awal pernikahannya membuat Rania jarang mendapatkan perlakuan istimewa dari suaminya sendiri.
Wajahnya bersemu kemerahan dan deru nafasnya langsung menerpa hidung mancung Reza. Dia yang mendengar degupan jantung istrinya hanya tersenyum dan bahagia, karena ia bersyukur dengan hal tersebut itu sama saja dengan cinta yang dirasakan oleh Raniah masih sama seperti awal dulu saat mereka menikah.
Reza tanpa aba-aba langsung mendaratkan ciuman di atas kening Rania. Dia sekejap mata langsung menutup kedua matanya. Seakan-akan sedang meresapi ciuman itu yang lima tahun belakangan ini dia dambakan.
"Makasih banyak sayang, Mas sangat bahagia karena masih diberi kesempatan dan waktu oleh Tuhan untuk bertemu dengan istriku tercinta," batinnya Reza sambil menatap ke dalam bola mata indahnya Rania.
__ADS_1
Rania yang ditatap sedemikian rupa oleh suaminya langsung menundukkan kepalanya dan tersenyum malu-malu. Rania bagaikan gadis remaja yang baru mengenal apa arti cinta.
Mungkin Jarak dan waktu yang memisahkan mereka belakangan ini yang membuat mereka sama-sama memiliki rasa yang seperti seseorang yang baru jatuh cinta. Reza menyentuh hidung bangir Rania yang sudah nampak kemerahan itu. Reza pun mencubit kecil hidung mancung itu.
Rania yang diperlakukan seperti itu hanya terdiam dan tersipu malu malahan semakin menundukkan kepalanya dan menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang suaminya. Reza mengangkat tinggi sedikit dagunya Rania hingga mendongak.
"Sayang jangan menundukkan kepalamu, Mas ingin melihat wajah cantikmu, ijinkan Mas menatap wajah ini lebih lama lagi," ucapnya.
Amairah pun mendongakkan wajahnya ke arah wajah Martin. Martin tersenyum sangat manis bahkan mengalahkan manisnya madu dan gula.
Perlahan tapi pasti Reza memajukan wajahnya ke wajah Rania hingga deru nafas Martin menerpa hidungnya. Reza semakin menepis jarak mereka. Rania yang menyadari hal tersebut hanya bisa terdiam dan tanpa dia sadari sudah memejamkan matanya.
Reza yang melihat hal tersebut langsung melanjutkan langkahnya untuk mendekatkan kedua bibir mereka. Ia meminta izin terlebih dahulu sebelum melakukannya. Reza tidak ingin asal nyosor saja seperti yang semalam sempat dilakukan diam-diam.
Suara Martin serak karena sudah diselimuti hawa gairah yang sudah tidak tertahankan lagi. Martin menunjuk bibir istrinya. Amairah langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju dan mengijinkan Martin untuk berbuat lebih terhadapnya.
Martin pun memulai apa yang dia inginkan. Martin memegang tengkuknya Amairah sedangkan kepalanya dimiringkan sedikit untuk mendapatkan posisi ternyaman dan lebih leluasa lagi.
Reza men ji la ti bibir merah semerah delima itu dengan lidahnya, sedangkan Rania spontan membuka jalan untuk Reza berbuat lebih di atas bibirnya. Reza tersenyum gembira dan mulailah meluncurkan aksinya.
Reza ******* bibir itu dan bermain di area mulut Rania sambil memainkan lidahnya. Reza semakin memperdalam ciumannya hingga tanpa disadari tangannya perlahan membuka satu persatu kancing bajunya Rania hingga semuanya sudah terlepas dari pengaitnya.
Nafas keduanya memburu dan ngos-ngosan karena pasokan udara yang masuk ke dalam rongga mulut mereka semakin menipis. Reza sepintas menciumi puncak bibir istrinya.
__ADS_1
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
...1. Dilema Diantara Dua Pilihan...
...2. Cinta dan Dendam...
...3. Pelakor Pilihan...
...4. Hanya Sekedar Pengasuh...
...5. Cinta ceo Pesakitan...
...6. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...
...7. Menggenggam Asa...
...8. Cinta Kedua CEO...
...9. Kau Hanya Milikku...
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo..
__ADS_1