Menggenggam Asa

Menggenggam Asa
Bab. 28


__ADS_3

Semua hanya tentang waktu, tunggulah dan tetap doakan, jangan berubah atau menyerah..


I Swear i'll love you in a different way..


Aku bersumpah akan mencintaimu dengan cara yang berbeda.


Kamar yang bercat putih itu menjadi saksi kesedihan dan penyesalan yang mendalam yang dirasakan oleh Rania. Dia tidak menyangka, jika keputusannya selama ini meninggalkan suami dan putrinya dalam keadaan emosi dan amarahnya membuat suaminya harus hidup dalam dunia penyesalannya.


Rania menarik kursi yang berada tidak jauh dari posisi ranjang bangkar Reza. Dia pun duduk di kursi itu. Ia memegang kedua tangan suaminya dan tak segan untuk meneteskan air matanya yang membasahi tangan kekar suaminya.


"Mas maafkan aku, ini semua gara-gara Rania sehingga Mas seperti ini, maafkan aku yah Mas, aku berjanji tidak akan pergi jauh lagi dari sisi kalian," tutur Rania sembari menciumi punggung tangan suaminya yang terpasang selang infus.


Karena kelelahan dan juga sudah mengantuk tanpa terasa Rania tertidur nyenyak di samping tangannya Reza, sedangkan tangannya masih setia menggenggam tangan suaminya.


Beberapa jam kemudian Reza terbangun dari tidurnya dan melihat ke arah kanannya dan mendapati istrinya yang sedang tertidur dengan bertumpu pada kedua tangannya.


Jam di dinding berdetak dengan bunyinya yang nyaring di tengah keheningan malam itu. Rania yang sudah tertidur pulas tidak mengetahui pergerakan dari seseorang yang berada di hadapannya sedari tadi.


Reza membuka matanya dan yang pertama kali dia lihat adalah wajah perempuan yang hampir lima tahun dia rindukan yaitu istrinya tercinta.


Rania yang ketiduran sambil duduk di sampingnya. Senyuman itu tercetak nyata di wajahnya. Dia tidak menyangka jika pingsannya membawa hikmah dan berkah dalam hubungannya bersama istrinya itu.


"Makasih banyak ya Allah Engkau memberiku kesempatan dan waktu untuk bertemu kembali dengan istriku lagi, walaupun dalam keadaan yang tidak baik saja, dan semoga dia memaafkan aku atas semua khilaf dan salahku," Reza membatin.


Reza memutuskan untuk memanggil salah satu Perawat yang berjaga untuk membantunya. Dia memerintahkan perawat untuk memeriksanya terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk mencabut selang infusnya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Suster pun datang dan masuklah ke dalam kamar Martin langsung memberikan aba-aba agar tidak menimbulkan suara yang bisa membuat istrinya terbangun. Suster tersebut pun mengerti dengan maksud dari pasiennya.


"Ada yang bisa kami bantu Tuan?" tanya Suster dengan suara yang dipelankan sesuai permintaan dari Reza yang menaruh jarinya di depan bibirnya.


"Tolong periksa kondisiku soalnya saya rasa tubuhku sudah membaik dan juga cairan di dalam infus itu pun sudah habis, bagaimana kalau Suster melepasnya saja," pinta Reza.


Suster segera bertindak sesuai dengan permintaan dan petunjuk dari Reza. Perawat itu memeriksa dengan seksama keadaan tubuhnya Reza tanpa terkecuali mulai dari tekanan darah, suhu tubuh serta yang lainnya.


"Karena ini permintaan dari Tuan sendiri, kami akan melepasnya, dan saya harap nanti Dokternya datang Tuan sendiri yang berbicara langsung kepada-nya," tutur Suster itu lalu mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Reza.


"Itu menjadi tanggung jawab saya suster, Anda kerjakan saja sesuai yang saya inginkan selebihnya tidak usah khawatir dengan yang lainnya termasuk prosedur di Rumah Sakit ini," jawab Reza dengan sikap yang sabar dan tenang.


Suster itu pun tersenyum dan hanya butuh waktu singkat selang infus itu sudah berada di dalam tong sampah di dalam kamar VIP itu.


"Makasih banyak Suster, dan ini ada sedikit sebagai ucapan Makasih saya sudah dibantuin," tutur Martin lalu menyodorkan beberapa lembar uang Yen ke tangan suster itu.


"Tidak apa-apa Tuan, saya ikhlas membantu Tuan lagian ini semua sudah menjadi tugasku," tolak Perawat itu.


"Tidak apa-apa anggap saja Anda lagi mendapatkan bonus karena kebaikan Anda dan saya bersyukur dan juga bahagia jika Anda menerima pemberian ku ini," ungkap Reza yang berusaha untuk meyakinkan Suster tersebut.


Dengan berat hati perawat itu pun mengambil uang tersebut dan karena pekerjaannya sudah selesai, Ia pun pamit dan meninggalkan Reza bersama Rania yang masih tertidur lelap dalam mimpinya.


Reza segera berjalan ke arah pintu untuk menguncinya rapat-rapat kamar perawatannya dan mengangkat tubuh istrinya ke atas ranjangnya.


Sekarang Rania pun sudah berbaring di atas ranjangnya. Reza menggendong tubuh istrinya diam-diam untuk memindahkan tubuh Rania ke atas ranjang. Setelah dirasa cukup tenang dan tidurnya Rania sedikit pun tidak terusik, ia pun naik ke atas ranjang dan ikut berbaring di samping Amairah dan tidak lupa menyelimuti tubuh mereka.

__ADS_1


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:



Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Dendam


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...

__ADS_1


Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo..


__ADS_2