
Kebahagiaan terpancar dari wajah anggota keluarga besar Reza Almeyer Keynan. Pasalnya mereka sudah menggenggam bukti bahwa, Muhammad Ali adalah putra sulungnya yang hilang hampir lima tahun lamanya.
"Ali janji akan turutin semua perkataan Mommy, Daddy dan Dokter yang penting Ali sehat dan sembuh," balasnya dengan senyuman kebahagiaan.
Reza hanya terdiam melihat reaksi dari istrinya dan Alif yang masih belum diketahui lebih jelas identitasnya. Walaupun Amairah sudah yakin sekali setelah berbicara dengan kakeknya yang ada di New York City.
Sesibuk apapun, sejauh apapun pergi, keluarga merupakan tempat pulang. Uang dan popularitas tak mampu membayar kebersamaan dengan keluarga.
Tapi, kamu juga harus siap dengan kehidupan setelahnya. Pernikahan adalah hak untuk menemukan kesempatan saling berbahagia dan bertengkar sesering mungkin.
Tiada kebahagiaan yang dirasakan oleh Reza, ketika membaca sebuah map yang berisi beberapa lembar kertas.
Berkas tersebut berisikan hasil tes DNA Rafael yang dilakukan oleh Martin di Rumah Sakit Harapan Kasih untuk meyakinkan kecurigaan dan dugaan beberapa hal yang mereka curigai beberapa hari ini.
Melalui syukuran Reza menyalurkan rasa bahagianya dan kegembiraannya dengan berbagi bersama seluruh anggota keluarganya. Dengan cara berbagi dengan beberapa anak Panti Asuhan serta ibu-ibu pengajian Majelis Taklim yang ada di sekitar Lingkungan komplek perumahannya.
"Alhamdulillah Nenek sangat bahagia Nak, dan semoga kebahagiaan lainnya segera menyusul setelah ini," Tuturnya Nyonya Martha.
"Reza juga sangat bahagia dengan berita ini, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi Nek," matanya berbinar dengan indahnya menandakan dia sangat bahagia.
Rudi dan Risma berjalan ke arah mereka. Nenek Martha tersenyum menyambut kedatangan kedua calon manten tersebut.
"Sini nak duduk di sampingnya Nenek," Neneknya Bu Martha menepuk-nepuk kursi kosong yang ada di sebelahnya.
"Makasih banyak Nenek," balasnya dengan senyuman yang tidak kalah manisnya.
Rudi dengan Risma duduk berdampingan dengan kakak sepupu dan neneknya.
__ADS_1
"Mas, kok Mbak Rania gak ada?" Risma celingak-celinguk mencari keberadaan sahabat sekaligus kakak iparnya itu.
"Mbak Kamu masih sibuk dengan trio bocil Lee, ada yang mau ini ada yang mau itu dan masalahnya, mereka tidak ingin dibantu oleh Mbak Marni atau Mbak Wanti," tanyanya Risma.
Nenek Martha menyesap tehnya yang masih mengepul asapnya itu. Cangkir yang bermotif bunga-bunga itu di dalam genggaman jarinya yang sudah mulai keriput.
"Hari minggu lusa akad nikah kalian kan, tempat akad nikahnya di Mesjid atau di kediaman Mamimu?" Neneknya memandangnya dengan tatapan menyelidik.
"Insya Allah hari minggu, Papi maunya di rumah saja, katanya lebih dekat dan hemat waktu," sahutnya Risma.
Risma ikut menikmati seduhan teh asli Thailand. Teh hijau kesukaannya Nenek Martha terhidang di depan mereka.
"Aku mau lihat tingkah dan keseruan mereka, Mas disini saja yah temani Nenek untuk kontrol persiapan acaranya," Risma sedikit kesal dengan ulah Rudi yang selalu mengekor dirinya ke manapun seakan-akan dia akan menghilang.
Risma pun berjalan dengan langkah kakinya yang cukup panjang. Ia sedari tersenyum karena lepas dari pengawasan dan pengawalan Rudi. Sekitar dua jam lagi acara syukuran akan segera dimulai. Banyak sanak saudara mereka yang sudah datang dan memenuhi rumah sangat besar dan mewah itu.
"Alhamdulillah kita bisa bertemu lagi yah Mbak Martha," terang sepupunya Martha ibu Naurah.
"Syukur Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan untuk berkumpul bersama di sini," timpalnya Bu Marissa.
Nenek Martha menuntun tamunya hingga ke dalam ruangan yang sudah dipersiapkan untuk tamu undangan.
"Silahkan dicicipi makanan yang ada, maaf makanannya hanya masakan sederhana saja," dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari wajahnya.
"Mbak Martha terlalu merendah, ini sudah sangat wooow luar biasa loh banyaknya," tangannya telaten mencicipi semua jenis masakan tersaji di atas meja.
Sedangkan di dalam ruangan lain, teriakan anak-anak menghiasi kamar pribadinya Rania. Ke tiga anaknya tidak ingin memakai pakaian, jika bukan Mommy mereka yang memasangkan sendiri. Rania sibuk mengurus tamu-tamunya yang kebetulan rekan kerjanya yang dari Bandung dan Surabaya hadir di acara mereka juga.
__ADS_1
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya yang ceritanya lebih seru dari Menggenggam Asa loh..
Dilema Diantara Dua Pilihan
Cinta dan Dendam
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Tetap berikan dukungannya untuk menggenggam asa dengan cara, Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, berikan gift dan Votenya juga…
__ADS_1
Mohon maaf jika banyak terdapat kesalahan dalam pengetikan cerita ini atau Typonya yang meresahkan...