Menggenggam Asa

Menggenggam Asa
Bab. 62


__ADS_3

Alif melepas pelukannya Rudin lalu beralih memeluk kakinya Maya dengan kegirangan dan saking gembiranya sudah hilang seketika itu juga dengan tergantikan oleh perasaan bahagia menggantikan perasaan sedih dan marahnya.


Rudi pun memegang tangan Ali lalu berjalan ke arah dapur dan menunggui Alif hingga selesai sarapan pagi. Risma dan Bu Sumartini berjalan beriringan menuju dapur dan mengekor di belakang Rudi dan Alif yang berjalan beriringan sambil berpegangan tangan seperti layaknya seorang ayah dengan anaknya saja.


"Makasih banyak Mbak," ucap tulus Emaknya Ali.


"Sama-sama Bu, kami sayang sekali dengan Ali seperti keluarga kami sendiri," jawab Risma.


Sedangkan di dalam ruangan lain, Pak Hedi sudah tidak sabar menunggu kepulangan dan kedatangan anak dan cucunya. Segala persiapan mereka sudah persiapkan.


Kebahagiaan sangat terlihat begitu jelas.


tersenyum lega dan bahagia sekaligus terharu melihat kedekatan yang tercipta di antara mereka. Rudi bagaikan seorang ayah yang sedang berusaha membujuk putranya yang sudah merajuk.


"Kalau gitu Alif harus makan dulu ya, nggak bisa ke Dufan bersama Mas Rudi kalau belum makan," bujuk Risma dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


Perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh Risma layaknya seorang ibu kepada putra kandungnya sendiri.


Risma berbicara dengan Alif dengan penuh kelembutan dan sifat keibuan Maya perlahan-lahan sudah keluar semenjak kehadiran Alif di Apartemennya. Alif melepas pelukannya Rudi lalu beralih memeluk kakinya Rismayang sedang berdiri di dekat Rudi dengan kegirangan.


Saking gembiranya hilang sudah seketika amarah yang sebelumnya dia rasakan tergantikan dengan rasa kegembiraan yang meluap-luap.


Sedangkan di dalam kediaman Hadi Aiden Tan Prabowo Papa dari Risma sekaligus Kakek dari Rafael, Alexa dan Rendra sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya persiapan untuk menyambut kepulangan Anak, cucu dan menantunya.


"Bagaimana persiapannya, apa sudah beres dan kalian tidak menemukan kendala kan?" tanya pak Hadi kepada anak buahnya yang diserahi tugas untuk mengatur persiapan sesuai untuk menyambut kedatangan mereka.


"Alhamdulillah, semuanya sudah beres Tuan, tinggal kateringnya yang belum selesai, karena kata Tuan tunggu Nona Muda dulu baru mereka masak," jawabnya.


"Ok, ingat lakukan yang terbaik, jangan sampai ada kesalahan dikit pun," ujarnya lalu meninggalkan ruangan tersebut dan berjalan naik ke tangga rumahnya.

__ADS_1


Pak Hadi sangat bahagia setelah mengetahui kedatangan anak tunggalnya bersama kedua cucu kembarnya. Dia pun sudah menginformasikan kepada Martin jika mereka sudah berada di Jakarta beliau lah yang akan menjemputnya.


"Akhirnya Kalian bisa kembali ke Tanah air, dan maafkan Papa yang tidak bisa meyakinkan Kakekmu untuk merestui hubungan kalian," Pak Hadi membatin.


Penyesalan yang dirasakan oleh Heri sangat beralasan setelah kepulangannya dari Singapura dan Jepanghanya untuk bertemu dengan Tuan Besar Marcel Prin Atmadja tidak membuahkan hasil yang baik. Pak Hadi kembali menerima kegagalan bahkan perkataan yang dia dapatkan lebih parah lagi dari biasanya.


Pak Hadi bahkan mendapatkan hinaan yang dilayangkan oleh Tuan Besar Marcell di hadapannya yang mengingatkan kisahnya dan masa lalunya dahulu.


"Papa akan berusaha untuk meyakinkan beliau gimana pun caranya, Papa akan berusaha sekuat tenaga dan semampu Papa," Pak Hadi membatin.


Beberapa jam kemudian, hp Tuan Hadi berdering di atas meja nakas ranjangnya. Padahal baru beberapa menit yang lalu matanya bisa terpejam. Ia segera bangun dari tidurnya dengan tergesa-gesa. Pak Heri tersenyum ketika melihat siapa yang menelponnya.


"Assalamu alaikum Papa," ucap salam Reza dengan senyum sumringah bahagianya.


"Waalaikum salam Nak, kamu sekarang ada di mana?" tanya Pak Hadii yang sudah duduk di tepi ujung ranjangnya dengan rasa penasaran dan tidak sabarnya menunggu kepulangan anak cucu menantunya itu.


"Alhamdulillah baru saja pesawat kami mendarat Pa, Papa katanya Rania Papa gak usah repot-repot datang untuk jemput Kami, lagian sudah ada beberapa anak buahku yang bersiap dan berjaga menunggu kepulangan Kami di Bandara," jelasnya panjang lebar.


"Makasih banyak Pak atas pengertiannya, Assalamualaikum," pungkas Reza lalu menutup sambungan teleponnya itu.


Reza mendaratkan ciuman di kening istrinya itu. Lalu mereka turun dari pesawat sambil bergandengan tangan menuruni tangga yang cukup muat untuk mereka berdua berjalan beriringan. Alexa dan Rendra berjalan terlebih dahulu dan sudah menginjakkan kakinya di Bandara bersama Ananda Akyurek.


"Ingat jangan berlarian sayang, hati-hati," teriak Rania yang kembali dibuat tercengang dengan kelakuan anak kembarnya itu.


"Lihatlah anak-anak kita sayang, mereka sangat bahagia setelah berada di Jakarta," Reza tersenyum bahagia melihat kebahagiaan anak-anaknya itu.


"Syukur Alhamdulillah jika, anak kita semuanya bahagia dan happy tinggal di Indonesia tanah kelahiran mereka," Amairah tersenyum bangga pada anaknya karena kedua anaknya cepat dan mudah bersosialisasi maupun beradaptasi dengan lingkungan barunya mereka.


Mereka sudah berada di dalam mobil yang akan membawa mereka hingga ke depan rumah Papanya Amairah.

__ADS_1


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya yang ceritanya lebih seru dari Menggenggam Asa loh..


...****************...



Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Dendam


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...


Tetap berikan dukungannya untuk menggenggam asa dengan cara, Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, berikan gift dan Votenya juga…

__ADS_1


Mohon maaf jika banyak terdapat kesalahan dalam pengetikan cerita ini atau Typonya yang meresahkan...


__ADS_2