Menggenggam Asa

Menggenggam Asa
Bab. 61


__ADS_3

"Tolong dimaafkan Ali yah Mas Rudi dan Mbak Risma mereka tidak tahu jika Alif tidak menyukai bila ada orang yang berbicara pada saat Alif makan," suara ibu Sumartini yang sudah lemah lembut itu masih tidak membuat Alif berubah pikiran dan membuka pintunya.


Raut wajah Emaknya sangat khawatir dengan keadaan Ali yang tidak ada reaksi sedikit pun dari arah kamar putranya. Tapi, Bu Sumartini tidak menyerah dan terus membujuk putranya agar membukakan pintu tersebut lalu kembali makan bersama dengan lainnya.


Pasangan suami istri itu segera menyelesaikan makanannya yang sudah terlanjur terisi ke atas piringnya. Mereka Ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka. kenapa Ali hanya masalah kecil seperti itu, tapi sangat marah..


"Mas, kok sifatnya Alif mirip Rafael putra sulungnya Mas Reza yah, Alif juga akan ngambek dan ngomel-ngomel jika dua lagi makan dan ada yang tiba-tiba berbicara, Axel tidak akan segan untuk menegur orang tersebut, siapa pun itu," terang Risma yang teringat beberapa tahun silam saat Rafael marah dengan alasan yang sama seperti sekarang.


"Aku pun sama dengan yang Kamu rasakan, wajah dan beberapa sifatnya Alif hampir semuanya sama dengan Rafael," tuturnya Risma.


Rudi menatap kearah istrinya sambil berucap," apa jangan-jangan Alif itu adalah Rafael yah?" tanya Rudi yang merasa curiga dan yakin jika Rafael adalah Alif.


"Tapi, itu tidak mungkin banget deh sayang, Alif itu adalah putra tunggalnya Ibu Sumartini tidak mungkin jadi anaknya Mbak Rania dan Mas Reza, mungkin kesamaan dan kemiripan mereka hanyalah kebetulan belaka saja," terang Maya yang sebenarnya di dalam hatinya sedikit membenarkan perkataan dan argumen dari Risma lagi.


"Apa kita informasikan hal ini kepada Mas Reza dan Mbak Rania yah Mas?" Tanyanya Risma yang menatap intens suaminya.


"Itu ide yang bagus, kita harus secepatnya beritahukan mereka agar lebih cepat bisa mengetahui apa benar Ali adalah keponakan kita Sayang," ungkap Rudi.


Mereka berdua tidak memungkiri jika banyak kesamaan dari mereka, tapi Alif adalah anak kandungnya Bu Sumartini.


"Bagaimana kalau kita melihat Alif?" ajak Risma kepada Rudi yang sudah berdiri dari posisi duduknya di meja makan.


"Ayok kita lihat apa kah Alif sudah tidak marahan lagi," jawabnya Rudi yang mengikuti langkah kaki Risma.


Mereka berdiri dari meja makan setelah menyelesaikan makannya dan Rudi membantu Risma untuk merapikan dan menyimpan peralatan makannya yang kotor dan sisa dari makanan mereka masukkan ke dalam lemari pendingin.


Mereka melihat Ibu Suharti yang masih berdiri di depan pintu kamarnya Ali dan masih saja membujuk dan merayu Ali yang tidak bergeming di dalam kamarnya.


"Bagaimana dengan Alif Bu?" tanya Maya yang merasa Khawatir dengan kondisi Alif.


"Masih seperti tadi Mbak, Alif belum membuka pintu kamarnya dan Alif tidak menyahut sedikit pun dari dalam," jawab Emaknya Alif.


"Ibu bergeser sedikit, Saya akan coba untuk membujuk Alif, semoga dengan cara yang Saya lakukan bisa membuat Alif berubah pikiran dan membuka pintunya segera," pungkasnya Rudi kemudian berjalan ke arah Ibu Sumartini lalu mereka berganti posisi.

__ADS_1


Emaknya Alif langsung berpindah tempatnya ke arah belakang bergeser sedikit tepat di belakang punggung Dion. Guratan di wajahnya nampak kecemasan dan ketakutan.


"Ya Allah semoga saja putraku baik-baik saja," Bu Suharti membatin.


"Alif ini Mas Rudi loh, mau gak kamu ikut bersama Mas nanti siang Mas mau ke du ni fan ta si itu dufan tempat bermain anak-anak yang sangat lengkap dan banyak sekali loh, Mas mau naik wahana biangLala, rollcoster dan masih banyak permainan lainnya yang Mas ingin naiki loh," bujuknya Rudi yang berharap agar Alif keluar dari kamarnya.


Rudi yang berdiri di depan pintu seakan-akan berbicara langsung di hadapan Alif walaupun kenyataannya ada pembatas pintu yang memisahkan mereka. Tanpa mereka sadari ternyata pintu itu berdecit pertanda ada yang membuka pintu itu.


Muhammad Ali sudah berdiri di ujung pintu lalu menyembulkan sebagian kepalanya ke arah luar. Alif memegang gagang pintunya dan hanya sebagian tubuhnya yang nampak di mata mereka.


"Serius!!! apa yang dikatakan Mas? Mas nggak bohong kan?" tanya Ali yang ingin memastikan bahwa apa yang dikatakan oleh Rudi benar adanya bukan hanya janji palsu dan memberikan harapan palsu saja.


Rudi lalu mendudukkan dirinya hingga sejajar dengan tinggi tubuhnya Alif, lalu menautkan kedua jari mereka pertanda mereka berjanji dan tidak akan mengingkari janjinya Rudi kepada Alif. Dengan mata bening milik Alif sudah berbinar tanda bahagia dan tidak sabar untuk berangkat segera ke Dufan bersama dengan Rudi.


"Janji, tapi Mas serius kan ajak Alif ke sana? Mas gak bohong kan? entar Mas sibuk Lagi dan batalin janjinya lagi kayak dulu," ujarnya lalu loyo dan semangatnya seakan-akan menguap tinggi ke atas langit dan diterbangkan oleh angin seketika itu juga dan air wajahnya Alif langsung berubah seketika itu juga.


Rudi refleks memeluk tubuh kecil Alif yang sudah sedikit berisi tidak seperti awal kedatangannya di apartemen itu. Dion mengelus rambut Alif dengan perlahan. Ada desiran aneh lagi yang tiba-tiba muncul dari dalam lubuk hatinya yang terdalam.


Maya dan Emaknya Alif tersenyum bahagia dan mereka terharu melihat kedekatan yang tercipta di antara mereka. Dion seakan-akan seperti bak seorang Ayah yang sedang berusaha membujuk putranya yang sedang merajuk.


"Kalau gitu Alif harus makan dulu, gak boleh Alif ke Dufan bersama Mas Dion kalau belum makan," ucap Maya yang berharap perkataannya di dengarkan oleh Alif.


Alif melepas pelukannya Dion lalu beralih memeluk kakinya Maya dengan kegirangan dan saking gembiranya sudah hilang seketika itu juga dengan tergantikan oleh perasaan bahagia menggantikan perasaan sedih dan marahnya.


Rudi pun memegang tangan Alif lalu berjalan ke arah dapur dan menunggui Alif hingga selesai sarapan pagi. Risma dan Bu Sumartini berjalan beriringan menuju dapur dan mengekor di belakang Rudi dan Alif yang berjalan beriringan sambil berpegangan tangan seperti layaknya seorang ayah dengan anaknya saja.


"Makasih banyak Mbak," ucap tulus Emaknya Alif.


"Sama-sama Bu, kami sayang sekali dengan Alif seperti keluarga kami sendiri," jawab Risma.


Sedangkan di dalam ruangan lain, Pak Hedi sudah tidak sabar menunggu kepulangan dan kedatangan anak dan cucunya. Segala persiapan mereka sudah persiapkan. Kebahagiaan sangat terlihat begitu jelas.


Hidup hanya sekali jadi jangan sia-siakan hidup Kamu untuk hal yang bisa Kamu akan sesali nantinya..

__ADS_1


Setiap Manusia memiliki kesempatan ke dua untuk memperbaiki semuanya bahkan kesempatan itu datang berulang kali selama individu itu ingin memperbaiki Hidupnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya yang ceritanya lebih seru dari Menggenggam Asa loh..



Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Dendam


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...


Tetap berikan dukungannya untuk menggenggam asa dengan cara, Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, berikan gift dan Votenya juga…


Mohon maaf jika banyak terdapat kesalahan dalam pengetikan cerita ini atau Typonya yang meresahkan...

__ADS_1


__ADS_2