Menggenggam Asa

Menggenggam Asa
Bab. 64


__ADS_3

Rania pun menolehkan kepalanya ke arah sumber suara seseorang yang memanggilnya tersebut.


"Biarkan saja Mama yang memeriksanya Kamu di sini saja bersama mereka," cegah Nyonya Martha kepada anak menantunya itu.


Rania pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Nenek Masita pun berjalan ke arah dapur Karena penasaran beliau pun masuk.


"Apa yang terjadi di sini?" tanya Bu Martha yang bertanya kepada semua orang yang berada di dalam dapur.


Ibu Sumartini yang mendengar suara tersebut langsung menengadahkan kepalanya ke arah Nyonya Martha, tapi apa yang terjadi wajah Emaknya Alif seketika pucat pasi, tubuhnya bergetar ketakutan dan wajahnya sudah dipenuhi dengan keringat yang bercucuran.


"Itu tidak mungkin, pasti aku salah lihat?" Bu Martha membatin.


Ibu Suharti yang mendengar suara tersebut langsung menengadahkan kepalanya ke arah Nyonya Martha, tapi apa yang terjadi wajah emaknya Muhammad Ali, seketika pucat pasi tubuhnya bergetar ketakutan dan wajahnya sudah dipenuhi dengan keringat yang bercucuran.


"Ini tidak mungkin? pasti aku salah lihat saj," batinnya Bu Suharti.


Ibu Suharti menyembunyikan wajahnya dan semakin menunduk. Ia gemetar ketakutan dan salah tingkah.


"Ibu maafkan Alif, Alif tidak sengaja, Ibu tidak boleh marah sama Alif yah," rengek Alif lalu memegang tangan emaknya dengan penuh harap agar emaknya tidak memarahinya.


Wajah Alif semakin memelas dan air matanya menetes membasahi pipinya. Ia takut dan tidak mau jika ibunya marah dan kecewa padanya.


"Emak Alif tidak sengaja, tolong jangan marahin Alif yah," rengek Alif yang menggoyangkan tubuhnya Ibu Suharti.


Ia yang sedari tadi mematung di tempatnya dan tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, tapi Alif mengira jika Emaknya terdiam dikarenakan marah dengan kecerobohannya.


Ibu Marthaa yang melihat hal tersebut refleks mendekati Alif dan spontan memeluk tubuh anak kecil yang sedari tadi menangis ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Emak kamu mungkin tidak marah, jadi jangan sedih lagi yah, ada Nenek bersama Kamu kok," tuturnya Nyonya Martha dengan penuh kelembutan dan kasih sayangnya.


Ibu Martha heran dengan sikapnya sendiri, karena hanya melihat kesedihan yang terpancar dari wajah Alif membuat hatinya bagaikan teriris sembilu. Beliau pun memeluk tubuh kecil Alif dengan penuh kasih sayang.


Alif yang diperlakukan demikian masih saja menangis hingga membalas pelukan dari Bu Martha yang lebih erat lagi.


"Bersihkan sisa pecah beling itu, Alif ikut Nenek yah," perintah Bu Martha lagi yang tidak akan ada yang melanggar atau pun membantah perkataannya.


Bu Suharti ibunya Ali hanya jongkok dan tidak tahu harus berbuat apa. Ibu Sumartini untuk menutupi rasa gugupnya segera membantu art yang lain untuk membersihkan lantai. Ia sangat takut jika rahasia terbesarnya terbongkar.


Nenek Martha menggandeng tangan Alif lalu mereka berjalan hingga ke arah dalam tempat mereka berkumpul dan menikmati sajian yang ada. Tante Herna yang melihat Nenek Martha berjalan beriringan dengan Alif.


Ia refleks berdiri dari duduknya dan segera menyimpan piring kue yang tadi dipegangnya itu. Ibu Herna langsung berjalan tergesa-gesa ke arah Nenek Maritha dengan wajahnya yang bahagia melihat Alif tantenya itu.


Air matanya pun menetes membasahi pipinya yang masih muda itu diusianya yang sudah kepala 5. Ibu Herna segera berlutut dan memeluk tubuh Alif. Pelukannya yang sangat erat membuat Alif tidak nyaman.


Semua mata kembali tertuju pada Ali sedangkan Rania tidak ada di tempat itu.


Rania soalnya Alexa merengek ingin ditemani tidur siang, padahal sudah sore hari. Sehingga dia tidak melihat kejadian tersebut mungkin akan terkejut jika melihatnya.


Rezan pun sudah meninggalkan tempat itu,karena ada kliennya yang meminta melakukan meeting hari itu juga dan jika ia menolaknya bukan hanya Perusahaannya yang rugi besar, tapi banyak perusahaan kecil yang bekerja sama dengannya ikut merugi.


Sehingga hal itu otomatis jika mereka merugi banyak karyawan mereka yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja atau PHK. Oleh karena Reza, dengan sangat menyesal terpaksa meninggalkan keluarga mereka demi nasib hidup orang banyak.


"Keponakannya Aunty Rafael lihat Oma sayang, lihat baik-baik wajah Oma," ucap Oma Herna adiknya Pak Hadi.


Alif semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Ali kecil memandang ke seluruh ruangan. Alif lalu melepas dengan paksa pelukan dari neneknya.

__ADS_1


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya yang ceritanya lebih seru dari Menggenggam Asa loh..



Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Dendam


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...


Tetap berikan dukungannya untuk menggenggam asa dengan cara, Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, berikan gift dan Votenya juga…

__ADS_1


Mohon maaf jika banyak terdapat kesalahan dalam pengetikan cerita ini atau Typonya yang meresahkan...


__ADS_2