
Rania sepulang dari kamar papinya ia yang berjalan ingin ke arah kamarnya Ananda. Dia ingin menyampaikan maksud dan rencananya di depan Ananda langsung.
Rania terlalu bahagia karena mendapat ijin dari Papinya untuk bisa pulang ke tanah air tercinta Indonesia. Rania merasakan kebahagiaan yang teramat sangat dan bersyukur karena Papinya tidak marah.
"Syukur Alhamdulillah, papi mengijinkan aku dan suami dan anak-anakku bisa secepat pulang ke tanah air," lirihnya Rania yang melangkahkan kakinya penuh dengan senyuman di wajahnya.
Ia berpapasan dengan Reza yang ternyata terbangun dari tidurnya dan mencari keberadaan Istrinya setelah menyadari jika Rania tidak berada disampingnya lagi.
"Aku sangat bahagia, suamiku," cicitnya Rania.
Rania sama langsung memeluk tubuh suaminya dengan erat dan menumpahkan seluruh kebahagiaan di dalam pelukan suaminya. Reza keheranan dengan sikap istrinya sendiri yang tanpa aba-aba langsung memeluknya dan menangis tersedu-sedu di dalam pelukannya.
Reza membiarkan Rania mengeluarkan semua beban dan kesedihannya. Reza tidak ingin mengganggu ataupun melayangkan berbagai macam pertanyaan.
Reza hanya berharap semoga dengan memeluk tubuhnya mampu membuat Amairah bahagia dan lega. Tubuhnya Rania bergetar hebat di sela isak tangisannya. Ia terlalu bahagia dengan apa yang telah diucapkan oleh Papinya Tuan Besar Luis.
"sayang!! istriku apa yang terjadi padamu, katakan sama Mas?" tanyanya Reza dengan raut wajahnya yang keheranan dan bingung dalam waktu yang bersamaan.
Rania semakin memeluk erat tubuh suaminya dan mengeluarkan semua bebannya melalui tangisannya. Beberapa saat kemudian, setelah dirasakan tangisan merah mereda martin melepas pelukannya lalu menangkap dagu istrinya.
Reza menatap ke dalam bola mata Rania yang seperti sebening tetesan embun pagi secerah sinarnya mentari dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tulus.
"Apa yang terjadi sayang kamu baik-baik saja kan?" tanya Reza.
Reza lalu menantikan bibir merah merona seperti gua delima itu terbuka lebar dan mengucapkan sesuatu kata. Tetapi bukannya perkataan yang terlontar dari bibir merah meronanya, malahan Rania saking bahagianya refleks mencium bibir Suaminya.
"Aku terlalu bahagia suamiku karena kita akan segera kembali ke Jakarta," gumam Rania.
Hal tersebut membuat matanya membulat sempurna dan melotot percaya dengan tindakan absurd tiba-tiba yang dilakukan oleh Rania yang tidak biasa.
Tindakan yang menurutnya sangat berani untuk melakukan kegiatan tersebut di luar kamarnya. Reza yang tahu persis sifat Rania, jika berhubungan atau membahas sesuatu yang lebih intim yang sifatnya rahasia di hadapan orang lain pasti akan marah dan risih.
"Istriku semakin membuat aku tergila-gila padanya," Reza membatin.
Walaupun lorong antara kamarnya itu jarang ada yang melewatinya, jika mereka tidak diperintahkan langsung. Reza tanpa ragu sedikitpun membalas ciuman dari Rania. Dia dengan senang hati memainkan lidahnya dan mengecap lebih dalam area rongga mulutnya. Reza seakan-akan ingin mengabsen seluruh gigi dan bagian-bagian mulutnya Rania.
Kamu mau sembunyi di mana
__ADS_1
Aku bisa mengendus baumu
Jangan pernah lari dariku
Karena kita telah berjanji
Biar matahari bohong pada siang
Pura-pura tak mau panas
Tak perlu menyiksa diri sendiri
Sembunyikan cinta yang ada
Aku tak perlu bahasa apapun
Untuk mengungkap aku cinta Kamu
Aku tak pernah beristirahat untuk mencinta Kamu
Sesuai janjiku, promise
Yang kuingat hanya wajah Kamu
Janjiku tak pernah main
Sekali Kamu tetap Kamu
Aku tak perlu bahasa apapun
Untuk mengungkap aku cinta Kamu
Aku tak pernah beristirahat untuk mencintai Kamu sesuai janjiku.
Reza semakin menautkan bibir merah merona bagaikan buah delima itu. Reza memiringkan sedikit kepalanya agar lebih leluasa dan memegang leher jenjang nan putih milik Rania yang semakin membuatnya lepas kontrol.
Hingga pasokan oksigen yang masuk ke dalam rongga mulut mereka semakin menipis dan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri ciuman mereka. Reza menghapus saliva yang tersisa di pinggir bibirnya Rania. Lalu refleks sigap dan menggendong tubuh istrinya dengan ala bridal style.
__ADS_1
"Aku sangat menyukai gayamu yang seperti ini sayang," ujarnya Reza yang sedari tadi tersenyum penuh kegirangan.
Kedua tangannya ke leher suaminya dan sedari tadi selalu tersenyum menatap ke arah suaminya itu dengan kedua bola matanya yang memancarkan cahaya kilatan kebahagiaan.
Anak buahnya yang berjejer di sepanjang jalan yang mereka lalui refleks menundukkan kepalanya dan tidak ada yang menatap ke arah mereka. Mereka sama sekali tidak berani untuk memandang sekilas saja sudah membuat mereka takut.
Sudah seperti itu jika tuan mereka melakukan hal-hal yang berbau hubungan suami istri mereka akan bertindak seperti itu. Reza membuka pintunya menggunakan kaki panjangnya, pintunya pun terbuka lebar dan masuklah mereka, lalu menutup kembali pintu itu dengan kakinya kembali.
"Sayang turunkan aku yah, sepertinya berat aku semakin bertambah, kasihan sama kamu jauh loh gendong aku apalagi tadi kita naik tangga," ucap Rania.
Rania merasakan rasa sungkan yang merasa kasihan karena melihat peluh keringat sudah berkilauan diterpa cahaya lampu. Reza tidak menanggapi permintaan dan rengekan dari Rania, ia hanya mengecup sekilas bibir Amairah agar diam dan tidak perlu mengkhawatirkan keadaannya.
......................
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
Dilema Diantara Dua Pilihan
Cinta dan Dendam
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Kau Hanya Milikku
__ADS_1
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Tetap berikan dukungannya untuk menggenggam asa dengan cara, Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, berikan gift dan Votenya juga...