
"Tidak apa-apa anggap saja Anda lagi mendapatkan bonus karena kebaikan Anda dan saya bersyukur dan bahagia jika Anda menerima pemberian ku," ucap Reza yang berusaha untuk meyakinkan Suster tersebut dengan membujuk berbagai alasan.
Dengan berat hati perawat itu pun mengambil uang tersebut dan karena pekerjaannya sudah selesai, Ia pun pamit dan meninggalkan mereka berdua di dalam kamar perawatan yang super lengkap.
Reza segera bangkit berjalan ke arah pintu untuk menguncinya rapat-rapat kamar perawatannya dan mengangkat tubuh istrinya ke atas ranjangnya.
Reza menggendong tubuh Rania pun ke atas ranjang, dan sudah berbaring di atas ranjangnya. Reza pun menyusul pun naik ke atas ranjang dan ikut berbaring di samping Rania istrinya dan tidak lupa menyelimuti tubuh mereka.
"Lima tahun kita tidak bertemu, wajahmu semakin cantik dan kembali membuatku jatuh cinta hingga berulang kali," pujian Reza dilontarkan untuk istrinya seorang.
Reza dengan pelan dan sangat hati-hati membalik posisinya sehingga sudah berhadapan dengan Rania yang sama sekali tidak terusik dengan apa yang dilakukan oleh Martin sedari tadi.Martin mencium keningnya Rania. Perlahan ke bawah hingga ke hidung mancung nan bangir milik Rania dan berhenti sejenak di depan bibirnya. Dia hanya memainkan kedua bibir Rania yang memerah seperti buah delima itu.
Reza yang sudah lama berpuasa dan tidak melakukan hal itu pun akhirnya memutuskan untuk mencium bibir Istrinya dengan perlahan dan sangat lembut. Saking lembutnya membuat Rania tanpa dia sadari membuka mulutnya. Reza tersenyum melihat hal itu, seakan-akan Rania memberinya akses dan jalan untuk berbuat lebih dari sekedar ciuman biasa saja.
"Semoga saja Istriku tidak terbangun dari tidurnya, kalau pun bangun itu sangat memalukan jika melihatku mengambil ciumannya tanpa seijinnya dalam keadaan tidur pula," batin Reza dengan masih memainkan bibir kenyal itu.
Reza tersenyum malu-malu sendiri dengan apa yang akan dia lakukan di atas bibir Rania yang ranum seperti merahnya buah delima di atas pohonnya. Martin perlahan memajukan wajahnya yang hanya terpangkas beberapa centimeter saja jaraknya.
Reza perlahan menciumi bibir merah merona itu dan perlahan **********, karena Rania membuka jalan yang mempermudah ciuman, sehingga ia pun tidak segan lagi untuk ********** dan memainkan lidahnya di dalam area rongga mulut Rania yang seakan sedang mengabsen satu persatu anggota mulutnya Rania..
Hingga tanpa mereka sadari keluarlah des ah an dan lenguhan kecil dari keduanya. Martin tersenyum gembira melihat sikap Rania yang memberikan keleluasaan dan kebebasan untuk bermain di area itu.
Ia memegang tengkuk lehernya istrinya dengan lembutnya dan hati-hati sehingga mampu untuk semakin memperdalam lumatannya dan mereka sudah saling bertukar saliva masing-masing.
__ADS_1
Hal tersebut berlangsung hingga beberapa menit sampai nafas mereka saling memburu dan seakan-akan akan kehabisan nafasnya, sehingga Reza pun berinisiatif untuk mengakhiri kegiatannya di tengah malam buta itu.
Nafas mereka terengah-engah dan ngos-ngosan. Sebenarnya Reza menginginkan hal lebih di atas tubuh istrinya itu, tapi dia tidak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Reza ingin melakukan hal yang lebih, jika Rania dengan senang hati dan suka rela mengijinkan Reza untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami.
"Makasih banyak sayang, maaf Mas harus melakukannya tanpa seijin kau terlebih dahulu, Mas tidak sanggup menahan hasrat yang tiba-tiba muncul dari dalam dirinya Mas hanya melihat bibirmu sayang," gumam Reza sambil memainkan bibir sedikit montok itu.
Reza lalu meraih tissue yang ada di atas meja nakas, tissue itu dipakai untuk membersihkan sisa-sisa saliva mereka yang sudah bercampur dan tersisa sedikit di ujung bibir istrinya.
Jam di dinding baru menunjukkan pukul 02:15 Reza bangkit dari tidurnya dan menyelimuti tubuh Rania, Reza akan melaksanakan sholat tahajud terlebih dahulu sebelum kembali melanjutkan istirahat dengan tertidur di sampingnya. Karena kondisi kesehatan dan tubuhnya sudah lebih segar dan sehat dari sebelumnya.
Reza berjalan ke arah toilet yang ada di dalam ruangan itu, dan bergegas mengambil air wudhu. Ia mengganti pakaiannya dengan setelan pakaian yang ada di dalam lemari yang sebelumnya sudah dipersiapkan oleh Rudi untuknya.
"Rudi sedari dulu memang pantas untuk diandalkan dalam segala hal selalu mendampingiku kemanapun Aku pergi," pujinya Reza.
Reza melaksanakan shalat tahajud dengan khusyuk dan tak bosan-bosannya mengucapkan syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa atas pertemuannya kembali dengan istrinya dan dalam doanya meminta agar Rania tidak lagi pergi dari sisinya tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Setelah melaksanakan shalat sunnah dan menyelesaikan ritual doanya yang begitu panjang, Reza pun kembali berdiri dan melipat perlengkapan shalatnya terlebih dahulu dan memasukkan kembali ke dalam lemari. Ia pun kembali ke atas ranjang dan ikut memejamkan matanya menuju pulau kapuk dan siap untuk tertidur lelap di samping Rania.
"Makasih banyak sayang, untaian kata-kata mungkin takkan cukup bisa menjelaskan arti penting dirimu bagiku, tapi yang ku tahu pasti dirimu adalah pusat duniaku dan seluruh bagian dari hatiku," lirihnya Reza agar Rania bisa tidur nyenyak dan tenang tanpa terganggu sedikitpun dengan apa yang dilakukannya barusan.
Reza mencium kening istrinya sebelum memejamkan matanya tangannya yang melingkar di atas tubuh istrinya lalu memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
Dilema Diantara Dua Pilihan
Cinta dan Dendam
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Kau Hanya Milikku
__ADS_1
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Mohon maaf jika ada penulisan yang salah atau terdapat typo..