
"Ingat jangan berlarian sayang, hati-hati," teriak Rania yang kembali dibuat tercengang dengan kelakuan anak kembarnya itu.
"Lihatlah anak-anak kita sayang, mereka sangat bahagia setelah berada di Jakarta," Reza tersenyum bahagia melihat kebahagiaan anak-anaknya itu.
"Syukur Alhamdulillah jika, anak kita semuanya bahagia dan happy tinggal di Indonesia tanah kelahiran mereka," tuturnya Rania tersenyum bangga pada anaknya karena kedua anaknya cepat dan mudah bersosialisasi maupun beradaptasi dengan lingkungan barunya mereka.
Mereka sudah berada di dalam mobil yang akan membawa mereka hingga ke depan rumah Papa mertuanya Rania yaitu Pak Hadi..
Setelah berbicara dengan Reza, Pak Hadi segera menghubungi semua keluarganya yang ada di Jakarta untuk segera datang ke rumahnya, dikarenakan Reza beserta keluarga kecilnya sudah sampai di Jakarta dan di dalam perjalanan sudah akan ke sana. Mereka pun menyambut sukacita dan penuh kebahagiaan berita baik tersebut.
Mereka sangat bersyukur karena Rania dengan Reza beserta anak-anaknya selamat sampai di Indonesia. Nyonya Martha saking bahagianya sampai-sampai tidak henti-hentinya menangis dalam perjalanan ke rumahnya Papa Hadi besannya sekaligus pengacara pribadinya itu.
"Syukur Alhamdulillah ya Allah ya Rohman,ya Rohim ya Robbi atas kesempatan dan waktu yang Engkau berikan kepada kami yang insya Allah atas izinmu setelah sekian lama Kami pun bisa bertemu dan berkumpul seperti dahulu lagi," gumam Nyonya Martha.
Mobilnya sudah memasuki area kediaman kakeknya Rendra. Ternyata sesampainya di sana sudah banyak yang berdatangan, bahkan semua keluarga besar mereka sudah hadir di sana sambil menunggu pintu rumah itu terbuka dengan kedatangan mereka.
Kehadiran Ibu Martha juga akan menjadi kejutan tersendiri terkhusus untuk Rania yang selama ini tidak menyangka dan belum mengetahui jika Nenek Martha adalah Nenek dari suaminya sekaligus pemilik rumah kontrakan yang disewa dulu.
Tante Hilda yang melihat Nenek Maritha segera berdiri dan menyambut kedatangannya. Beliau langsung cipika-cipiki lalu berpelukan saling melepas kerinduan mereka.
"Bagaimana kabarnya Nek?" tanya Tante Hilda dengan raut wajahnya yang sudah tidak sabar menanti kehadiran mereka.
"Alhamdulillah baik sayang, kalau kamu dan keluargamu gimana apa mereka juga baik saja?" tanya balik Nyonya Martha.
"Alhamdulillah mereka juga baik Nek, kebetulan mereka juga ada bersama kita di sini," jawabnya Bu Hilda sambil mengarahkan jarinya telunjuknya ke hadapan anak-anak dan juga cucunya.
Ayu dan Alea adalah anaknya segera mendekati Bu Marttha untuk mencium punggung tangan beliau yang sudah mulai keriput itu dimakan usia senjanya. Hari ini juga Bryan pun sudah kembali setelah mendapatkan tugas dari Martin.
Bastian tanpa sengaja berdiri di samping kanannya Alea sedangkan ia sama dengan yang dialami oleh Bastian yang tidak mengetahui hal tersebut.
Sehingga keponakannya Aleai naik ke pangkuannya untuk duduk baru lah mereka menyadari jika sedari tadi sudah duduk berdampingan layaknya sebuah keluarga kecil yang sangat bahagia.
Mereka pun saling adu pandang dan mata mereka sama-sama saling mengisyaratkan bahwa mereka sangatlah saling merindu dan mendamba satu sama lain. Hingga pintu nan tinggi itu yang bercat coklat tua itu terbuka lebar barulah mereka memutuskan kontak mata mereka.
Dua orang anak kecil berlarian ke arah dalam rumah megah dan besar itu yang sudah dipenuhi oleh banyaknya anggota keluarga mereka.
"Makasih banyak ya Allah… Engkau memberikan kami kesempatan untuk bertemu dan berkumpul seperti dahulu lagi," Reza membatin.
__ADS_1
Alexa dan Rendra berlarian berlomba untuk menjadi yang paling tercepat sampai seakan-akan mereka tidak pernah sedikit pun merasakan kelelahan setelah menempuh perjalanan yang jauh.
Reza dan Rania bergandengan tangan berjalan masuk ke rumah yang baru kali ini Amairah injakan kakinya.
"Syukur Alhamdulillah… aku masih bisa melihat keluargaku," batinnya Rania.
Mereka kayaknya sepasang pengantin baru yang ditunggu sedari tadi kedatangannya. Mereka mengumbar senyum kebahagiaan mereka ke arah semua keluarga besar yang hadir di tempat itu.
A
Rania bersama Alexa berlari ke arah Papanya itu dan langsung memeluk erat tubuhnya Pak Hadi.
"Papa, maafkan Rania Papa," tangisnya pun pecah dikala dalam pelukan Papa Mertuanya itu.
"Putriku, Papa yang seharusnya minta maaf pada kamu nak, Papa sudah menyembunyikan...," perkataan Pak Hadi terpotong karena langsung dicegah oleh Rania menggunakan tangan kanannya.
Rania menggelengkan kepalanya lalu menghapus jejak air mata papanya. Satu persatu mereka berpelukan dengan Rania hingga anggota keluarganya yang belum pernah ditemui.
Aunty Hilda pun sangat bahagia dan terharu dengan pertemuan kembali dengan keponakan cantiknya yang sejak kecil ia rawat sebelum insiden yang memisahkan mereka hingga kembali bertemu.
Tetapi tanpa saling kenal dengan identitas baru mereka. Rania pun berjalan ke arah sisi rumah di mana Reza berada dan sedang berbincang-bincang dengan Neneknya.
Reza dan orang yang berada di sampingnya bersamaan menoleh ke arah Rania. Wajah Rania terkejut dan tanpa aba-aba langsung berlari ke arah Ibu mertuanya Nyonya Martha yang Rania kira hanya sebatas sebagai pemilik rumah yang pernah disewanya dulu di Kota Bandung.
Mereka saling melepas rindu dan saling bercengkrama satu dengan yang lainnya.
Mereka menghabiskan waktunya mereka sambil berbincang-bincang santai hingga ada anak kecil laki-laki yang tanpa sengaja menjatuhkan dan memecahkan benda itu di atas lantai keramik. Semua mata tertuju pada sosok anak kecil itu.
Rania pun berjalan ke arah sumber suara kegaduhan tersebut karena hanya penasaran dengan apa yang terjadi. Tapi, baru selangkah kakinya melangkah ada yang memanggilnya.
"Rania sayang," panggilnya Bu Martha
Ternyata yang memanggilnya adalah Mama mertuanya.
Rania pun menolehkan kepalanya ke arah sumber suara seseorang yang memanggilnya tersebut.
"Biarkan saja Mama yang memeriksanya Kamu di sini saja bersama mereka," cegah Nyonya Martha kepada anak menantunya itu.
__ADS_1
Rania pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Nenek Masita pun berjalan ke arah dapur Karena penasaran beliau pun masuk.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Bu Martha yang bertanya kepada semua orang yang berada di dalam dapur.
Ibu Sumartini yang mendengar suara tersebut langsung menengadahkan kepalanya ke arah Nyonya Martha, tapi apa yang terjadi wajah Emaknya Alif seketika pucat pasi, tubuhnya bergetar ketakutan dan wajahnya sudah dipenuhi dengan keringat yang bercucuran.
"Itu tidak mungkin, pasti aku salah lihat?" Bu Martha membatin.
...----------------...
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya yang ceritanya lebih seru dari Menggenggam Asa loh..
Dilema Diantara Dua Pilihan
Cinta dan Dendam
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Tetap berikan dukungannya untuk menggenggam asa dengan cara, Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, berikan gift dan Votenya juga…
__ADS_1
Mohon maaf jika banyak terdapat kesalahan dalam pengetikan cerita ini atau Typonya yang meresahkan...