Menggenggam Asa

Menggenggam Asa
Bab. 8


__ADS_3

"Ya Allah… bukakanlah pintu hatinya Mbak Maya agar segera kembali berkumpul bersama Kami, kasihan istriku kalau harus terus-menerus begini." Rudi membatin.


"Aku kasihan melihat Mas Reza harus terpuruk menahan rasa rindu dan penyesalannya," jelas Risma.


Rasa rindu yang dirasakan oleh seorang anak manusia akan membuat dan membawa diri dalam kesedihannya yang berlarut hingga tak berujung.


Risma sepintas melihat sosok seorang perempuan yang sangat mirip dengan Riana. Dia pun berinisiatif untuk mencari tahu dan mengikuti wanita yang dianggapnya saudara kakak ipar sekaligus teman terbaiknya itu.


Tapi, kenyataan harus diterima jika perempuan itu bukanlah Riana sahabatnya. Sedih, kecewa sangat dirasakan oleh Risma.


Rudi sebagai suaminya sekaligus adik sepupu dari Riana berusaha untuk menenangkan diri Istrinya, yang sudah kalut dalam kesedihannya dan kerinduannya pada Riana.


"Ya Allah.. bukakanlah pintu hatinya Mbak Riana untuk segera bertemu dengan Risma, Aku tidak sanggup melihat istriku yang bersedih karena kerinduannya kepada Riana yang sangat mendalam," batinnya Rudi.


"Ya Allah.. ijinkan aku bertemu dengan Mbak Riana walaupun hanya sesaat saja, Aku sangat merindukan sahabatku itu," Risma membatin.


Risma menyerah dan pasrah saat bertemu langsung dengan perempuan yang sedari tadi dia ikuti dan ternyata itu bukanlah Riana.


"Kamu harus sabar dan banyak berdo'a, semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan Mbak Riana," ucapnya Rudi yang menciumi kepalan tangan Risma.

__ADS_1


Rudi sedari tadi berusaha untuk memberikan ketenangan dan rasa nyaman pada Risma yang terguncang hebat dalam tangisannya.


"Iya Mas, insya Allah aku akan lebih bersabar lagi untuk terus dan selalu menunggu kehadiran Mbak Riana kembali," ujarnya Risma dengan deraian air matanya.


Kafe Anhalt menjadi saksi kesedihan Maya dan ketidakberdayaan nya di sore hari itu. Mereka menghabiskan waktunya di dalam Kafe itu sambil menikmati makanan dan minuman khas Jerman.


"Mas besok pagi kita ke Perusahaan Centec, semoga Ceo-nya hadir yah, jadi kita cepat kembali ke tanah air," tutur Risma yang berusaha menetralkan perasaannya.


"Insya Allah Sayang, besok kita kembali bertempur dan berjuang untuk mendapatkan tanda tangan kontrak CEO mereka," jawabnya yang setia menggenggam tangannya Risma.


"Sudah mau masuk waktu shalat Magrib yuk pulang, gak baik kalau kita berada di luar saat maghrib, kata orang gitu," terang Risma lagi yang mulai beranjak dari tempat duduknya.


"Sepertinya itu ide yang bagus sayang, aku sangat senang jika selalu shalat berjamaah bareng sama Mas," timpalnya dengan malu-malu.


"Kalau gitu let's go," sahut Rudi yang bangkit dari duduknya.


Mereka meninggalkan Kafe tersebut dengan perasaan Risma yang sedikit terobati dan lega setelah Rudi memberikan nasehat dan masukan yang sangat berarti untuk Risma.


Saling memberi dan menerima kekurangan masing-masing pasangan adalah hal yang paling terbaik untuk dilakukan dalam membina hubungan apa pun itu.

__ADS_1


Mereka berjalan beriringan sambil berpegangan tangan menuju parkiran untuk mengambil mobilnya.


Mesjid Al-falah menjadi tujuannya mereka, Mesjid yang dibangun atas prakarsa masyarakat Indonesia yang tinggal dan menetap di Sekitar Kota Berlin Jerman. Dan menjadi satu-satunya Mesjid yang ada di Kota Berlin.


Mereka berdua berpisah saat akan masuk ke dalam kamar atau ruangan khusus untuk mengambil air wudhu. Dan mereka bertemu kembali setelah akan melangkah kakinya menuju tempat shalat.


Suasana di dalam masjid cukup ramai dipadati oleh kaum muslim yang ingin melaksanakan shalat Magrib berjamaah. Beberapa saat kemudian mereka pun kembali ke Hotel karena sudah larut malam, dan besok akan kembali bekerja.


Keesokan harinya, pasangan suami istri itu sudah bersiap untuk otewe ke Perusahaan Centec milik Tuan Luis Horne, Luis Horne adalah saudara kembar Nenek Maya sekaligus istri dari tuan besar Mark Prin Atmadja.


"Semoga lancar yah Mas, meeting kita bersama CEO mereka," tutur Risma yang sudah mengambil posisi duduk di samping Dion di dalam mobilnya.


"Amin ya rabbal alamin, semoga apa yang kita ingin dan harapkan berhasil, jadi kita segera pulang ke Indonesia," ucap Rudi yang memasang seatbelt nya ketubunya.


"Kok hatiku belum bisa menerima jika kemarin yang aku lihat bukanlah Mbak Amairah yah?, bahkan seolah-olah hati ini menyatakan Aku akan bertemu dengan Mbak Riana," Risma membatin.


Rudi yang melihat Maya kembali bengong langsung menyadarkan Risma, ia takut jika istrinya itu keseringan menghayal dan terbengong bisa hal-hal jelek menghampirinya. Seperti kerasukan atau diikuti hal mistis seperti roh halus.


"May sayang, hey kamu baik-baik saja kan?" tanyanya Rudi yang berusaha membantu Maya untuk segera kembali ke alam nyatanya.

__ADS_1


Rudi terus berusaha menggoyangkan tubuhnya Risma dengan lembut dan hati-hati, ia tidak ingin hanya karena membangunkan Risma sehingga membuat tubuhnya kesakitan.


__ADS_2