
Rania yang sangat bahagia itu kembali mendudukkan bokongnya ke atas kursi yang sedari tadi didudukinya. Tuan Luis mengerti dan memaklumi apa yang dirasakan oleh putrinya itu.
"Papi akan melakukan apa pun itu yang penting kamu dan cucuku bahagia Nak," batinnya Tuan Luis.
Beliau tidak akan menghalanginya atau pun melarang mereka untuk kembali dan berkumpul layaknya sebuah keluarga kecil yang bahagia seperti kebanyakan orang lain di luar sana.
"Pergilah sayang, papi merestui hubungan kalian dan mengijinkan kalian bersatu untuk kembali ke Indonesia, jujur saya pasti akan kesepian tanpa kalian, papi sudah terbiasa hidup dengan kalian di sini," ucap Tuan Besar Luis lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
Tuan Luis tidak ingin membuat anaknya bersedih dan terbebani dengan perasaan sedihnya, tapi semakin Beliau tahan semakin air matanya menetes membasahi pipinya.
Rania memutar tubuhnya lalu kembali berdiri dan berjalan ke arah Papinya berada dan memeluk tubuh itu yang sudah bergetar hebat menahan tangisnya. Rania perlahan menepuk punggung yang masih tegap itu.
"Aku pasti akan ke sini jika sudah bertemu dengan Farel, aku ingin ke dua putraku papi lah yang mendidiknya dan mengajarkan segala hal kebaikan untuk masa depan mereka, jika sudah berumur besar nanti," jelasnya dengan berusaha membuat kakek tua itu bisa lega tapi masih kelihatan awet muda diusianya.
Tuan Luis membalas pelukan putrinya dan akhirnya ikut menangis tersedu-sedu di dalam pelukan anak semata wayangnya. Wajah mereka sembab habis menangis meluapkan kegundahan dan keresahan hatinya.
Sehingga perasaan mereka sekarang serasa beban di pundaknya sudah terlepas dengan sendirinya. Rania pun pamit kepada Papinya karena, sudah larut malam dan ingin memberitahukan kepada Ananda Akyurek kepulangannya besok.
"Putriku bawa lah Ananda bersamamu, Papi sudah mengatakan kepadanya bahwa kamu akan mengajaknya ke Indonesia," pintanya Tuan Besar lalu menyeka air matanya dan tersenyum simpul.
Rania menatap intens ke arah Papinya lalu pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya kebahagiaannya semakin bertambah.
"Perlakukan Aisyah seperti Kakak Kamu sendiri," ucapnya lagi saat Amairah sudah membuka sedikit pintu ruangan itu.
Rania tersenyum penuh kegembiraan sambil membalikkan tubuhnya menghadap berbalik dan tersenyum menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Papi akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian dan tidak akan pernah berhenti untuk mengawasi dan menjaga keamanan kalian juga," tuturnya Papinya Rania kakek dari Baby Echa.
"Syukur Alhamdulillah makasih banyak ya Allah, Engkau masih memberikan aku waktu dan kesempatan untuk segera bertemu dengan putra sulung ku," batinnya Rania.
Raniah yang berjalan ingin ke arah kamar Ananda berpapasan dengan Reza yang ternyata kebangun saat menyadari jika dirinya tidak berada di sampingnya. Rania langsung berhamburan memeluk tubuh suaminya dengan erat dan menumpahkan seluruh kebahagiaannya di dalam pelukan Reza
Reza heran dengan sikap istrinya sendiri yang tanpa aba-aba langsung memeluknya dan menangis tersedu-sedu. Martin tidak ingin mengganggu atau melayangkan pertanyaan. Reza membiarkan Rania mengeluarkan semua beban dan kesedihannya.
Reza penuh berharap semoga dengan memeluk tubuhnya mampu membuat istrinya bahagia dan lega. Dia juga ikut bersedih jika melihat orang-orang yang disayanginya meneteskan air matanya. Setelah dirasakan tangisnya mereda, barulah Reza melepas pelukannya lalu menangkup dagu istrinya dan menatap ke dalam bola mata Rania dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tulus.
"Apa yang terjadi sayang, kamu baik-baik saja kan sayang?' tanya Reza yang kebingungan.
Reza menantikan bibir merah merona seperti buah delima itu terbuka lebar dan mengucapkan sesuatu kata. Bukannya perkataan yang terlontar dari bibir Rania. Malahan Raniahse dirinya sendiri yang menginginkan hal itu, saking bahagianya refleks mencium bibir Reza dengan penuh candu itu.
Reza yang tahu Rania risih jika berhubungan atau pun membahas hubungan yang lebih intim yang sifatnya rahasia di hadapan orang lain walaupun hanya di lorong antara kamarnya itu. Reza kebingungan dengan sikap spontan istrinya tapi sangat menyukai perlakuan manis itu.
Kamar itu jarang ada yang melewatinya jika mereka tidak diperintahkan langsung oleh yang punya rumah bak istana itu. Reza membalas ciuman dari Rania dengan menautkan lidahnya dan mengecap lebih dalam area kerongkongan mulutnya Amaira.
Reza seakan-akan mengabsen seluruh anggota bagian tubuh istrinya di dalam mulutnya. Mereka sudah saling bertukar saliva. Ciuman yang hangat penuh gairah dan semangat yang membara mereka lakukan tanpa peduli jika ada orang yang melihat langsung apa yang sedang mereka lakukan.
Rania terlalu bahagia karena mendapat ijin dari Papinya untuk bisa pulang ke tanah air tercinta Indonesia. Rania merasakan kebahagiaan yang teramat sangat dan bersyukur karena Papinya tidak marah.
...****************...
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
__ADS_1
Dilema Diantara Dua Pilihan
Cinta dan Dendam
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Tetap berikan dukungannya untuk menggenggam asa dengan cara, Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, berikan gift dan Votenya juga...
__ADS_1