Menggenggam Asa

Menggenggam Asa
Bab. 7


__ADS_3

"Go go go keliling Berlin City gaess, gas poll," ujarnya Risma.


Mereka berjalan beriringan hanya bergandengan tangan tanpa ada drama peluk-pelukan. Seperti itulah kebiasaan mereka jika jalan bareng, karena bagi mereka tunangan itu bukanlah status sah sehingga mereka masih jaga sikap masing-masing.


Sepasang suami istri yang masih harus menahan hasrat dan keinginannya yang tertunda karena permintaan sang istri tercinta yang tidak akan melewati malam pertamanya jika, sahabat sekaligus kakak iparnya belum kembali bersatu dengan abangnya.


Mereka memulai perjalanan Brandenburg Gate, Brandenburg Gade adalah sebagai gerbang utama Berlin. Bangunan yang dibangun pada tahun 1800an, bangunan ini menjadi simbol persatuan Berlin Barat dan Berlin Timur yang punya nilai sejarah tinggi.


Banyak turis yang sengaja datang ke ikon Kota Berlin untuk sekedar berfoto dan berkeliling melihat kemegahan gerbang kota. Akan lebih indah jika turis dan pengunjung datang pada sore hari.


Sinar matahari terpancar dari sela-sela bangunan lawasnya, terasa lebih syahdu. Mereka menyempatkan berfoto bersama dengan berbagai gaya dan fose yang berhasil membuat othor iri loh hehehe.


Setelah melakukan perjalanan ke beberapa tempat yang ada di sekitar Berlin, Risma mencari Kafe yang terdekat dari tempat mereka sekarang. Ia menikmati kebersamaan bersama tunangannya. Kafe Anhal menjadi pilihannya untuk melepas dahaga dan laparnya.


"Mas kita masuk ke Kafe itu saja yah, Kafenya gak terlalu sepi amat jadi bisa berbaur dengan masyarakat asli Jerman sini," ucapnya Risma yang sudah berjalan mendahului Rudi.


Mereka tidak perlu memesan tempat terlebih dahulu, karena Kafe tersebut akan ramai pada malam hari, jadi Sore hari cukup lengang dan sedikit sepoi.


"Mas tadi siang aku melihat perempuan yang mirip dengan Mbak Riana," ucap Risma sambil sesekali meminum minumannya.

__ADS_1


"A-pa!!, itu tidak mungkin dia lah," timpal Rudi yang tidak percaya dengan perkataan dari Risma.


Mimik wajah Rudi seketika pucat pasi dan tidak menyangka, jika Risma melihat Mbak Riana. Peluh keringat membasahi keningnya hingga ke pipinya.


"Gawat, semoga saja Mbak Riana tidak bertemu dengan Risma," gumamnya Rudi yang sudah gemetar ketakutan.


"Kamu kenapa Mas, apa kamu baik-baik saja?" tanya Risma yang keheranan sekaligus takut melihat keadaan suaminya yang tiba-tiba pucat seketika.


Risma tanpa disuruh langsung membantu menyeka keringat di wajahnya Rudi dengan tissue yang tersedia di atas meja.


"Mas tidak apa-apa kok, mungkin Mas hanya kepanasan saja, mungkin ac-nya bermasalah sehingga Mas keringatan begini," kilah Rudi yang beralasan berusaha menutupi perasaan gugupnya.


"Tapi Mas, aku yakin kalau itu Mbak Riana, dan Saya sangat hafal dengan bentuk tubuhnya dan cara jalannya pun sampai detik ini saya sangat hafal Mas, makanya Saya sangat tidak percaya dengan kenyataan yang ada," ucap Risma.


"Mungkin kamu hanya salah lihat, jadi jangan terlalu dimasukin di hati apa yang tadi kamu lihat," terangnya Rudi.


"Aku yakin sekali dan sangat kalau itu Amairah sahabatku bukan orang lain," terang Maya dengan meninggikan sedikit suaranya.


"Sayang, mungkin itu pengaruh kamu yang terlalu merindukan kehadirannya, sehingga kamu sudah tidak bisa membedakan mana Mbak Riana dengan mana cewek lain," ucap Rudi yang berusaha untuk meyakinkan Risma.

__ADS_1


"Mas tidak tahu betapa besar rasa rinduku ini padanya Mbak Riana itu lebih dari sekedar sahabat bagiku, bahkan dia sudah ku anggap Kakak aku sendiri, bahkan disaat aku mendengar kabar kehilangannya aku sampai drop dan sakit gara-gara berita itu," jelasnya.


"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi di hadapan Risma, agar dia mau mengerti bahwa itu bukan Mbak Riana walaupun kemungkinan besarnya adalah Mbak Amairah sendiri," batinnya Rudi.


Rudi memegang ke dua tangan istrinya dengan penuh kasih sayang lalu mengecupnya dengan pelan.


"Mas, aku sudah masuk ke dalam kamar ruangan hotel itu tapi, saya tidak melihat Mbak Riana ada di sana, malahan perempuan yang saya anggap Mbak Riana yang ada di dalam ruangan itu," tuturnya Risma dengan kembali mengingat kejadian kemarin.


Air matanya menetes membasahi seluruh wajahnya. Kerinduan yang sangat di rasakan membuatnya terluka dan sedih. Risma sangat merindukan kehadiran sosok Riana kembali berkumpul bersama keluarga besar mereka seperti dahulu.


"Kamu sudah melihatnya langsung kalau dia bukanlah Mbak Riana, jadi apa lagi yang harus diragukan kebenarannya, dan itu sudah membuktikan kalau Perempuan itu bukanlah Mbak kita," pungkasnya Rudi.


"Tetapi, dia pasrah jika perempuan itu bukanlah Riana, dan Saya terus bersimpuh dan berdoa di hadapan Allah SWT agar segera bertemu dengan Mbak Riana, dan jika saatnya tiba maka dia akan sangat gembira dan bahagia menyambut kedatangannya kembali bersama kita semua," sebait doa yang dihaturkan oleh Risma.


Rudi menghapus jejak air matanya Risma yang masih setia mengalir membasahi pipinya.


"Ya Allah… bukakanlah pintu hatinya Mbak Maya agar segera kembali berkumpul bersama Kami, kasihan istriku kalau harus terus-menerus begini." Rudi membatin.


"Aku kasihan melihat Mas Reza harus terpuruk menahan rasa rindu dan penyesalannya," jelas Risma.

__ADS_1


__ADS_2