
Sore itu, mereka berkumpul di ruang tengah yang dijadikan sebagai ruangan tempat berkumpul bersama menghabiskan waktu luang untuk saling bercanda bersama.
Reza dan Alexa segera berjalan ke arah dimana Mommynya, Daddy dan Kakeknya berada. Mata Rebdra berbinar bahagia melihat krupuk tempe kesukaannya tersaji di depannya dalam toples tinggi nan besar itu. Rendra mendahului Echa yang ingin juga meraih toples itu.
"Mommy krupuknya enak banget," Rendra yang menikmati cita rasa krupuk tempe yang baru pertama kali dia rasakan.
Alexa lebih bahagia lagi pun bahagia seumur hidupnya karena ini pengalaman pertamanya makan kerupuk buatan mommynya sendiri.
"Dimakan biasa saja tetap enak apa lagi di makan dijadikan lauk pasti akan lebih nikmat," tegasnya, raut wajah Tuan Luis sangat bahagia saat menikmati krupuk tempe itu.
Hingga menjelang magrib, mereka masih asyik berbincang-bincang, ada-ada saja pertengkaran yang dilakukan oleh anak kembar mereka. Tetapi di mata Reza dan Rania apa yang dilakukan oleh duo anaknya itu sangatlah lucu.
Kelucuannya itu terjadi karena kadang baikan baru berapa detik mereka bertengkar lagi dan ada-ada saja yang mereka ributkan. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 08 malam, Tuan Luis sudah masuk ke dalam ruangan pribadinya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.
Rania mengantar ke dua anaknya ke dalam kamar masing-masing. Setelah mereka tertidur barulah ia meninggalkan kamar itu. Sedangkan Reza, berbaring di atas ranjangnya lalu menelpon nomor hp Neneknya yang ada di Jakarta. Dia tidak sabar ingin pulang sambil memboyong putra keduanya dan memperlihatkan kepada Mamanya Nyonya Maulida dan seluruh dunia bahwa dia memiliki dua anak kembarnya yang sangat lucu.
"Ya Allah… semoga papi mengijinkan kami untuk pulang ke Indonesia," batinnya Reza.
Percobaan pertama gagal, telpon neneknya sibuk, hingga Reza mencoba lagi hingga telpon yang keempat kalinya. Martin mencobanya tapi tidak berhasil juga. Hingga ia sudah lelah menunggu sambungan teleponnya diangkat oleh nenek Masitha dan Mamanya Bu Maulida.
Hingga dia tidak sadari matanya terpejam sedangkan tangannya masih menggenggam hpnya. Rania masuk ke dalam kamarnya disaat Reza sudah tertidur dengan posisi tengkurap tanpa melepaskan hpnya.
"Sepertinya Mas Reza kebingungan dan bimbang harus berbuat apa dan bagaimana caranya untuk berbicara di hadapan Papi," batinnya Rania yang menatap intens reaksi raut wajahnya suaminya itu.
Rania hanya tersenyum melihat pola tidur dari suaminya itu yang seperti seseorang yang merajuk. Ia memperbaiki letak posisi selimut yang dipakai suaminya yang hanya sebatas kakinya saja.
__ADS_1
"Aku yang akan bicara sama Papinya, walaupun Mas tidak memberitahukan kepadaju, tapi aku tahu apa yang sedang Mas pikirkan, aku sangat mengerti dengan kegundahan dan kegelisahan hati Mas," terangnya Rania yang berniat membantu Reza untuk membalik tubuh dan memperbaiki posisinya Reza.
Setelah Reza tidur nyenyak kembali, Rania berjalan ke arah luar kamar pribadinya dan menutup rapat. Rania tersenyum mengingat posisi tidur Reza yang seperti anak kecil saja yang lagi ngambek dan merajuk menginginkan sesuatu yang tidak bisa dipenuhi oleh kedua orang tuanya. Rania berjalan ke arah ruangan pribadi milik Papinya.
Rania juga timbul sedikit keraguan untuk menyampaikan keinginannya dan niatnya untuk kembali ke Indonesia. Ia takut jika Kakeknya merasa keberatan dan tidak mengijinkan serta menolak keinginannya atau yang paling parah adalah marah.
"Bismillahirrahmanirrahim," cicitnya yang sambil memutar knop pintu ruangan tersebut.
Rania berjalan ke dalam dan mencari sosok kakeknya tersebut. Ia mengitari seluruh pojok ruangan yang begitu luas dan megahnya membuat seseorang yang berada di dalam ruangan itu akan betah berlama-lama.
"Papi!!," matanya menyapu ke sekeliling ruangan tapi, sosok yang dia cari tidak menampakkan dirinya sama sekali.
Hingga Rania tersenyum bahagia setelah berbalik tubuhnya ke arah kanan ruangan itu dan melihat Papinya berjalan ke arahnya. Rania segera menghampiri papinya dengan senyuman khasnya dan segera bermanja-manja di lengan kakeknya tersebut.
"Kita duduk dahulu, papi tahu apa yang Kamu inginkan," tutur Papinnya sembari bergandengan tangan berjalan bersama cucunya.
Rania hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Papinya setelah mendengar perkataan dari pria yang paling berjasa dalam hidupnya itu.
"Papi selalu tahu apa yang kau inginkan, tanpa harus mengutarakannya terlebih dahulu, kamu adalah darah dagingnya papi," Papinya menarik pelan hidung mancung nan bangir milik anak semata wayangnya itu.
Mereka sudah duduk berhadapan lalu tangan si Kakek tua itu yang masih muda dan segar dibandingkan dengan usianya yang sudah uzur. Jika orang yang tidak mengenalnya pasti akan terkejut jika mengetahui usia yang sebenarnya. Usianya yang sudah masuk kepala tujuh tapi jika ditelisik dari postur tubuhnya orang akan mengira jika Kakek tua itu baru berumur 50an.
...****************...
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
__ADS_1
Dilema Diantara Dua Pilihan
Cinta dan Dendam
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Tetap berikan dukungannya untuk menggenggam asa dengan cara, Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, berikan gift dan Votenya juga...
__ADS_1