Menggenggam Asa

Menggenggam Asa
Bab. 66


__ADS_3

"Saya bisa memakluminya, hal itu wajar Kok Nyonya," balasnya Bu Suharti.


Ia sedari tadi yang selalu menundukkan kepalanya sedari tadi jika mereka mengajaknya berbincang-bincang.


"Sepertinya ada yang aneh dan disembunyikan oleh Ibu Suharti, sejak kejadian Alif menjatuhkan piring raut wajahnya dan sikapnya sungguh tidak seperti biasanya, sejak itu Ibu Suharti selalu nampak grogi dan ketakutan, bahkan tak jarang Aku lihat banyak peluh keringat yang membasahi wajahnya."


Berry yang diserahi tugas segera bertindak untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan siapa sebenarnya Alif dan Ibu Sumartini.


Nyonya Martha setelah memilih, melihat dan mempertimbangkan segalanya, ia segera bertindak untuk memastikan dugaannya salah atau benar adanya.


Bu Marthaa segera memberikan kode kepada Berry Adams untuk segera menjalankan tujuannya. Berry yang diberikan kode langsung cepat tanggap untuk meninggalkan tempat tersebut dan memenuhi permintaan dari Nenek Martha.


"Maafkan kami ibu hal itu terjadi karena Kami terlalu gembira melihat Alif dan menyangka dia adalah Rafael karena dari wajahnya mirip sekali dengan cucu Kami, tapi ternyata bukanlah Rafael dan kami sangat menyesal dan tidak bermaksud apapun itu, jadi kami mohon jangan dimasukkan di hatinya Bu," Terang Nenek Martha dengan raut wajahnya yang teduh dan penuh kelembutan.


"Saya bisa memakluminya hal itu wajar terjadi nyonya," timpal ibu Suharti yang selalu menundukkan kepalanya sedari tadi jika ada yang mengajaknya berbincang.


"Sepertinya ada yang aneh dan disembunyikan oleh ibu Sumartini sejak kejadian Alif menjatuhkan piring, raut wajahnya dan sikapnya sungguh tidak seperti biasanya sejak itu ibu Sumartini selalu nampak grogi dan ketakutan bahkan tak jarang aku lihat banyak peluh keringatnya membasahi wajahnya." Batinnya Risma yang sedari tadi tidak henti-hentinya memperhatikan gerak gerik Bu Suharti.


Berry Adam yang diserahi tugas segera bertindak untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan siapa sebenarnya Muhammad Alif dan Ibu Sumartini itu. Beberapa saat kemudian, mereka sudah bubar dan kembali ke rumah masing-masing.


Rania dan ke dua anaknya memutuskan untuk hari ini akan menginap di rumah Pak Hadi papa mertuanya dan besoknya tiba gilirannya rumahnya mamanya Nyonya Martha yang selama ini menjadi rumah tempat Reza dan putrinya tinggal. Kedua orang tuanya Rania sudah berpisah dan bercerai sejak dia masih kecil.


Reza sudah memutuskan untuk menempati rumahnya yang sudah sejak lama dia beli khusus untuk istrinya tersayang dan ke tiga anaknya.

__ADS_1


Berry sedari tadi mengutak atik komputer yang ada di depannya. Ternyata cukup sulit juga untuk menemukan data pribadi tentang Bu Sumartini dan Ali.


Awalnya ada secercah harapan,tapi kembali sirna setelah kembali gagal. Ibu Marthaa masuk ke dalam ruangan khusus untuk Bryan bekerja. Pintu terbuka dan masuklah Martha kemudian duduk di hadapan Berry yang serius bekerja tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Nyonya Martha.


Sedangkan Berryn yang melihat kedatangan Nenek Marthatha hanya melirik sepintas saja dan kembali serius untuk menatap layar laptopnya.


Nyonya Martha mendekat Berry sambil bertanya sesuatu, "Bagaimana Berry apa kamu sudah mendapatkan petunjuk tentang mereka?" tanya Nyonya Martha dengan wajah seriusnya.


"Maaf Nenek, tidak mudah untuk mencari informasi tentang mereka, di sini banyak sekali orang yang dibilang Suharti," jawabnya Berty yang cukup kebingungan.


"Apa sebaiknya kita bertanya pada Risma atau Doni saja sepertinya kita bisa dapat petunjuk dari mereka," ujar Bu Martha.


Berry menatap ke arah Nenek Martha lalu berkata," itu ide yang bagus dan Saya yakin kita pasti dapat info yang bisa berguna untuk pencarian kita secepatnya dan segera berhasil."


"Aku akan telpon Risma, karena kalau Rudin pasti sibuk dengan pekerjaannya," ujar Nenek Martha yang memberikan solusi yang tepat untuk permasalahan mereka.


"Waalaikum salam sayang, apa kamu bisa datang ke rumah nenek, ada yang ingin nenek bicarakan dengan kamu," tutur nyonya Martha.


"Bisa kok nenek, tunggu beberapa menit aku mau mandi dulu, gerah soalnya," jawab Risma Erlene Kesya adiknya Reza.


"Oke sayang, hati-hati," ucapnya lagi Bu Martha dengan tersenyum lega.


Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya yang ceritanya lebih seru dari Menggenggam Asa loh..

__ADS_1



Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta dan Dendam


Pelakor Pilihan


Hanya Sekedar Pengasuh


Cinta ceo Pesakitan


Ketika Kesetianku Dipertanyakan


Menggenggam Asa


Cinta Kedua CEO


Kau Hanya Milikku



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...

__ADS_1


Tetap berikan dukungannya untuk menggenggam asa dengan cara, Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, berikan gift dan Votenya juga…


Mohon maaf jika banyak terdapat kesalahan dalam pengetikan cerita ini atau Typonya yang meresahkan...


__ADS_2