
"Bisa kok nenek, tunggu beberapa menit aku mau mandi dulu, gerah soalnya," jawab Risma Erlene Kesya adiknya Reza.
"Oke sayang, hati-hati," ucapnya lagi Bu Martha dengan tersenyum lega.
Nyonya Martha berjalan ke arah luar ruangan itu setelah mematikan sambungan teleponnya dengan Risma.
"Aku yakin Alif itu cicitku Rafael, tapi gimana caranya agar aku bisa mengetahui informasi itu dengan secara detail tanpa Ibu Sumartini tersinggung dengan apa yang kami lakukan," batinnya Bu Martha.
Ibu Sumartini duduk di atas ranjangnya setelah membersihkan seluruh apartemen Maya. Ibu Sumartini teringat masa lalunya.
Flashback on...
Waktu itu malam hari setelah membereskan semua perabot rumah tangga di rumah besar itu. Rumah bak istana itu adalah rumah kakaknya sendiri.
Tapi, ibu Sumartini tidak pernah dianggap sebagai adiknya sendiri melainkan dijadikan sebagai pembantu saja, bahkan kesalahan sedikit saja beliau lakukan pasti akan kena marah.
Juga kadang tidak segan Kakaknya akan memerintahkan kepada anak buahnya untuk memukuli tubuhnya Ibu Sumartini. Ibu Sumartini seperti sapi perah saja yang setiap hari bekerja tanpa mendapatkan gaji sedikit pun.
Hanya omelan dan pukulan yang dia dapat. Setelah membereskan dapur, Ibu Sumartini berjalan ke arah tangga yang berdekatan langsung dengan kamar pribadi kakaknya.
"Semua keturunan dari Marcel Prin Wijayanto bersama Anwar Muhammad Austen harus mati semuanya apapun yang terjadi, dan anak kecil itu kamu harus bunuh dia tapi caranya Kamu harus tabrakan mobil box itu ke dalam jurang, kamu pakai mobil yang ada di belakang gudang sekarang juga!!" Geram Pak Nur.
"Astagfirullahaladzim, Abang sampai seperti ini, tidak bisa Abang lupakan Mbak Masitha yang sudah jadi istri orang lain bahkan suaminya meninggal gara-gara Abang, anak kecil itu tidak tahu apa-apa dan tidak bersalah sedikitpun," gumam Bu Suharti
Ibu Suharti menutup mulutnya agar tidak ketahuan jika dirinya menguping pembicaraan mereka walaupun hanya lewat telpon saja. Sebelum anak buah dari abangnya bergerak dia yang lebih dahulu bergerak meninggalkan rumah besar itu menuju.
Ia segera menujugudang dengan cara mengendap-endap. Dia berjalan perlahan dan sangat hati-hati hingga ke depan pintu gudang yang kebetulan penjaganya masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku harus ikut di dalam mobil box itu, karena kalau Aku selamatkan anak Kecil itu sepertinya itu sangat susah dan mustahil aku lolos, tapi bagaimana caranya agar Aku tidak ketahuan?" tanyanya sambil memutar tubuhnya menatap mengelilingi sekitar gudang itu.
__ADS_1
"ya Allah semoga Aku berhasil menyelamatkan anak kecil itu," lirihnya bu Suharti.
Sumartini berjalan dengan sangat hati-hati, hingga semut pun tidak mati jika dia injak saking pelannya berjalan. Perlahan tapi pasti langkahnya sudah berhasil menuntun dirinya hingga ke belakang mobil box itu.
"Bismillahirrahmanirrahim," Bu Suharti lalu mencoba menarik pintu itu.
Untungnya pintu itu tidak tergembok sehingga memudahkan jalannya untuk naik ke atas mobil. Baru ingin melangkahkan kakinya tiba-tiba ada suara seseorang yang batuk berasal dari arah depan mobil.
"Ya Allah Aku harus gimana? apa Aku langsung naik saja, tapi mereka juga akan naik dan melihatku, aku coba saja semoga ada barang-barang di atas mobil yang bisa Aku pakai untuk menutupi tubuhku," cicitnya.
Ia pun naik dan ternyata di dalam mobil box itu ternyata ada beberapa kardus bekas. Dia bisa pakai. Ibu Sumartini naik lalu membuka dos yang paling besar itu dan tidak lupa menutup kembali dengan rapat pintu mobil bak itu. Tubuh Sumartini mulai kepanasan apa lagi saat anak buah Abangnya menggembok dan mengunci rapat pintu tersebut.
"Panasnya," Ibu Sumartini mengipas pakaiannya dengan merobek ujung kardus tersebut untuk mengurangi rasa gerah, tapi bukannya berkurang malah nambah panas saja.
Tubuhnya sudah bercucuran keringat hingga membasahi seluruh bajunya. Tidak ada sedikitpun angin yang masuk ke dalam bak mobil yang bisa mengurangi rasa panas dan gerahnya di atas mobil itu.
Ibu Sumartini segera menunduk dan menutup rapat kardusnya hingga tidak ada yang curiga jika dia ada di dalam mobil itu. Tubuh Anak kecil itu dimasukkan ke dalam mobil dengan begitu teganya.
Mereka sama sekali tidak memiliki hati nurani sedikitpun dengan melempar anak tersebut ke atas mobil seperti seseorang yang melempar kardus saja, untungnya ada tumpukan kardus yang melindungi kepala anak itu.
Beberapa saat kemudian, mobil itu sudah jalan ke arah lokasi yang sudah mereka putuskan untuk menjadi tempat terakhir dari cucu musuh bebuyutan Abang dari Ibu Sumartini. Mereka berangkat malam saat itu sehingga mempermudah langkah dari Ibu Sumartini.
Perjalanan mereka butuh waktu sekitar 7 jam dari rumah besar itu, tepatnya di pinggiran hutan ada gunung yang cukup curam di sana lah yang menjadi tempat eksekusi mereka.
"Ibu Sumartini mendekati tubuh anak kecil itu yang sudah terkulai lemas dan tidak berdaya. Entah kenapa tiba-tiba hujan turun membasahi bumi, perlahan hujan itu semakin deras saja yang membuat jalan yang mereka lalui cukup licin.
Jalan itu sangat berbahaya karena di sepanjang sisi jalan yang mereka lalui adalah daerah yang cukup terjal dan dalam serta curam.
...----------------...
__ADS_1
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya yang ceritanya lebih seru dari Menggenggam Asa loh..
Dilema Diantara Dua Pilihan
Cinta dan Dendam
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Tetap berikan dukungannya untuk menggenggam asa dengan cara, Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, berikan gift dan Votenya juga…
Mohon maaf jika banyak terdapat kesalahan dalam pengetikan cerita ini atau Typonya yang meresahkan...
__ADS_1