
Reza harus hidup dalam kesendiriannya selama Istrinya diam-diam meninggalkannya karena Rania tidak menyukai dan tidak menerima Reza yang tidak pernah mau jujur dan berterus terang kepada Rania tentang jati dirinya yang sebenarnya.
Reza pun harus terpuruk dalam kehidupannya. Hingga dia memutuskan untuk mencari terus menerus dan melakukan segala cara dan upaya untuk menemukan istrinya yang seperti ditelan bumi saja.
"Risma sayang, hey kamu baik-baik saja kan?" tanyanya Rudi yang berusaha membantu Risma untuk segera kembali ke alam nyatanya.
Rudi terus berusaha menggoyangkan tubuhnya Risma dengan lembut dan hati-hati, ia tidak ingin hanya karena membangunkan Risma sehingga membuat tubuhnya kesakitan.
Kuatkan lah dirimu, memang sekarang semuanya tidak mudah, tapi kehidupan tidak mungkin seluruhnya sulit, Ku mohon bersabar lah.
Pintu nan menjulang tinggi itu terbuka lebar dan masuklah beberapa orang yang berpakaian rapi dan elegan. Dari pakaian mereka saja sudah nampak kelihatan mereka bukan lah orang dari kalangan rakyat biasa.
Risma menatap tajam ke arah salah satu deretan pria tersebut yang berjalan paling depan. Wajah Atika pucat pasi melihat orang itu.
"Ini tidak mungkin, Aku yakin dia orang lain, bukan supir itu," batinnya Atika.
Reza pun sama terkejutnya dengan apa yang dirasakan oleh Atika, bahkan kedua bola matanya
"Ini tidak mungkin, pasti saya hanya ingin saya lihat saja, apa Mbak sudah memutuskan untuk menampakkan dirinya di hadapan umum?" gumamnya Rudi.
"Benar kah yang aku lihat sekarang ini ya Allah, jangan-jangan aku salah lihat lagi, atau mungkin aku sedang bermimpi."
Rombongan petinggi Perusahaan Centec group langsung mengambil posisi duduk sesuai dengan tempat dan posisi mereka masing-masing.
Risma yang sedari tadi berdiri saat mereka masuk hingga sekarang masih berdiri mematung, matanya berkaca-kaca seperti ada embun yang siap jatuh membasahi pipinya.
Rudi segera tersadar dari keterkejutannya, agar Risma tidak mengetahui kalau dirinya sudah beberapa minggu ini mengetahui keberadaan Kakak sepupunya itu.
"M ayok duduk, gak baik berdiri terus, gak enak dilihatin sama orang," ucap Rudi sambil berusaha untuk mendudukkan tubuh Risma ke posisinya semula.
Risma akhirnya duduk dan pandangannya terus menerus ke arah Rania. Beberapa saat kemudian Atika Akyurek mulai membuka meeting mereka dan menjabarkan beberapa konsep kerjasamanya.
Rudi bersyukur karena harapannya sesuai dengan apa yang dijelaskan dan diinginkan oleh Pimpinan Perusahaan Centec yang tidak lain adalah Kakak sepupunya sendiri.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Aisyah Akyurek, seharusnya Risma yang maju ke depan tapi, karena kondisinya yang kurang siap makanya digantikan oleh Risma.
Hingga mereka mencapai kesepakatan bersama dan kerja sama mereka kali ini akan mendatangkan keuntungan yang sangat besar.
"Risma maafkan saya belum bisa mengutarakan secara langsung di hadapanmu siapa saya ini, bersabarlah dan kuharap kamu mampu untuk bersabar sedikit lagi," Rania membatin.
Setelah semuanya dirasa sudah beres dan mereka resmi telah bekerja sama, Rania, Atika dan satu asisten pribadinya berjalan meninggalkan ruangan itu. Risma tanpa aba-aba langsung berlari ke arah Rose dan memeluk tubuh sahabatnya.
"Aku yakin Kamu adalah Mbak Rania sahabatku, Amai apa Kamu tidak merindukan Kami?" tanya Risma yang memeluk erat tubuh Rania.
Atika dan Parker ingin segera bertindak dan menarik tubuh Risma tapi, Rania langsung menggelengkan kepalanya agar mereka tidak bertindak sebelum Rania memberikan perintah.
__ADS_1
Rania memerankan perannya dengan sangat baik, bahkan suaranya saja bisa dia samarkan dan berbeda dengan Amairah.
"Maaf Anda salah orang, saya bukanlah Rania" ucapnya.
Rose melepaskan perlahan pelukan Maya dari tubuhnya, tersenyum ke arah Maya. Rose meninggalkan Maya yang terpaku di tempatnya.
Maya hanya bisa menatap punggung perempuan yang dia anggap adalah Amairah.
"Kamu bukan sahabatku Amai."
Dion sedih melihat kondisi dari Maya tapi Dion tidak memiliki kapasitas dan kemampuan untuk menjelaskan sejujurnya di hadapan Maya. Hal tersebut sesuai Amanah yang diinginkan oleh Amairah sendiri.
Sedangkan di belahan dunia lainnya, Martin yang sedang sibuk menandatangani beberapa berkas yang sudah bertumpuk di hadapannya di kejutkan oleh Tamu yang tidak di harapkan sama sekali kedatangannya.
"Kenapa ular betina ini bisa lolos masuk ke ruanganku."
Martin langsung menombol tombol khusus untuk memanggil Security. Martin memutar jengah bola matanya ke arah lain. Saking malas dan antinya melihat Nikita Aiman berada di dalam ruangannya. Seakan-akan Nikita adalah Virus Corona saja yang sangat mematikan.
"Maaf Mas ganggu waktunya, Nikita yakin Mas belum makan siang, jadi Nikita berinisiatif bawain Mas makanan kesukaan Mas," ucap Nikita yang menyimpan rantang makanan ke atas meja.
Martin hanya melirik sekilas Nikita hal itu membuat Nikita menjadi marah dan dongkol tapi Nikita berusaha untuk menahan luapan amarahnya. Nikita tidak ingin memperlihatkan wujud aslinya di hadapan Martin.
"*Semoga Martin tergoda setelah melihat pakaianku ini dan langsung klepek-klepek di hadapanku."
Nikita diam-diam membuka dua kancing bajunya yang bagian atas yang membuat belahan dadanya semakin menonjol hingga seakan-akan akan melompat keluar.
Martin yang tidak sengaja melihat hal tersebut hanya menggelengkan kepalanya.
"Benar-benar wanita berbisa, Maaf caramu tidak berkelas untuk menarik simpati ku, lagian apa pun yang Kamu lakukan, aku tidak akan pernah tergoda secuil pun itu, apa lagi akan masuk ke dalam perangkapmu."
Tidak ada reaksi apa pun dari Martin sehingga Nikita pun langsung berinisiatif untuk mendekatinya. Nikita membungkukkan tubuhnya di hadapan Martin yang sangat serius memeriksa berkas-berkasnya.
Percobaan ke dua pun gagal, Nikita berjalan ke depan lebih dekat dari posisi Martin dan sengaja menyenggol buku yang bertumpuk-tumpuk di hadapan Martin.
"Semoga kali ini berhasil, kalau tidak jalan terakhir harus kulakukan."
Buukkkkk....
Buku yang tidak punya kesalahan sedikit pada Nikita akhirnya mendarat bebas di atas Lantai keramik yang begitu mengkilap dan licin, hingga tak ada satupun lalat yang berani hinggap di atasnya.
Martin menolehkan kepalanya ke arah buku yang terjatuh dan bersamaan itu Nikita pun berpura-pura ingin meraih buku tersebut hingga gunung kembarnya seakan ingin meloncat ke arah luar baju yang dipakainya.
Martin sudah jengah melihat tingkah laku Nikita refleks mendorong kuat tubuh Nikita dari hadapannya di saat pintu berdecit dan terbuka dengan lebar.
"Aaauuuuuhhhh sakit Mas," ucap Nikita yang berusaha untuk menahan sakit di bokongnya.
__ADS_1
Pihak keamanan segera berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan Big Bosnya.
"Apa yang kalian kerjakan haaaa!!"
"Maafkan Kami bos," ucap salah satu Security itu yang tidak berani menatap ke arah Pemilik Perusahaan.
"Kalau Maaf kalian diterima buat apa ada polisi," jelas Martin.
"Mas tolongin Nikita dong sakit banget nih," ucap Nikita dengan nada suara yang seksi dan manja.
"Apa lagi yang kalian lihat, seret wanita ular ini keluar dan jangan pernah biarkan wanita ular ini menginjakkan kakinya di Perusahaan dan di hadapanku apa pun alasannya."
Martin dengan amarahnya yang sudah sampai ke ubun-ubunnya karena pekerjaannya harus tertunda beberapa saat karena kedatangan sang pengganggu. Matanya sudah menampilkan kilatan cahaya kemarahan. Bahkan urat-urat lehernya pun sudah menonjol.
Martin kemudian berdiri dan berjalan ke arah ruangan pribadinya dan mengambil figura yang berisi foto Amairah dan Axel.
"Setiap kali rasa marah ini muncul, fotomu mampu meredakan emosi yang bergejolak di dalam dadaku, Amairah Mas sangat merindukan kehadiran kalian di sisi Mas."
Hanya dibutuhkan beberapa detik untuk jatuh cinta, tapi seumur hidup untuk membuktikannya.
Duhai engkau sang belahan jiwa
Namamu terukir di dalam pusara
Di setiap langkah ku selalu berdoa
Semoga kita bersama
Duhai engkau tambatan hatiku
Labuhkanlah cintamu di hidupku
Ku ingin kau tahu betapa merindu
Hiduplah engkau denganku
Dengarkan lah di sepanjang malam aku berdoa
Bersujud lalu aku meminta semoga kita bersama
Dengarkanlah, di sepanjang malam aku berdoa
Cintaku hanya untukmu akan selalu terjaga
Dan aku pasti setia
__ADS_1