
Pagi ini Risma dan Bu Sumartini berencana ingin masak berbagai macam masakan kesukaan dari suaminya. Ada ikan tongkol masak woku, sayur asem, udang tepung, dan sambal terasi yang akan mereka buat dan sudah ada beberapa masakan yang selesai mereka masak. Sedangkan Ali berada di dalam kamarnya sedang menyelesaikan tugas sekolahnya.
"Bu semuanya di cuci sayurnya yah, terus kalau airnya sudah mendidih apa langsung dimasukin semua atau gimana Bu?" tanya Risma sembari memegang beberapa bahan sayuran disaat ingin mencuci bahan-bahan untuk masak sayur asem.
Bahan itu terdiri dari ada jagung manis kuning, kacang panjang, labu siam, sedikit perasan asam Jawa, kacang tanah, cabe rawit dan bawang putih dan merah untuk menambahkan sebagai pelengkapnya.
"Biarkan airnya mendidih sesaat lalu masukkan, jagung manisnya hingga matang ke lalu bahan lainnya yang menurut Kamu ukurannya besar dan tebal seperti labu siam, yang terakhir adalah kacang panjangnya karena kacang panjang yang paling cepat matang," jelas Bu Sumartini yang melihat ke arahnya Risma.
Muhammad Ali dan ibunya Bu Suharti sudah bergabung dan berkumpul dengan Pasutri yang akan meresmikan hubungan mereka kelak di depan khalayak umum di meja makan. Rudi menatap kearah Risma sebelum mengucapkan pujian yang dilontarkan oleh Dion kepadanya.
"Kamu yang masak kah semua masakan ini?" tanya Rudi yang keheranan dan sedikit tidak percaya dengan kenyataannya, jika Maya lah yang memasak beberapa makanan kesukaannya.
Rudi sangat bangga dengan istrinya itu karena Risma sudah bisa masak makanan yang paling disukainya walaupun hanya masakan sederhana saja. Padahal sebelum dan awal mereka menikah siri hanya masak air putih saja bisanya.
"Kalau begitu Ali, tolong pimpin doanya ya sayang," perintah Risma yang tersenyum simpul ke arah Ali yang berharap Ali yang membaca doa makan.
Alif tanpa pikir panjang langsung membaca doa sebelum makan. Seperti yang biasa dilakukannya setiap hari selama mereka tinggal seatap di Apartemen mewah itu. Beberapa saat kemudian mereka sudah menyendok makanan ke dalam piring mereka masing-masing.
Diantara mereka makan dengan penuh hikmah dan tanpak dari raut wajah mereka kebahagian yang tidak terkira saat menyantap makanan tersebut. Tidak ada perasaan sedih, kecewa yang mereka rasakan hanya perasaan bahagia dan bangga yang muncul dari dalam dirinya mereka berempat pagi itu.
"Sayang, Mas ingin berbicara sesuatu yang penting kepada Kamu," tutur Rudi yang menatap serius ke arah Risma.
Rudi yang berbicara pada saat sedang makan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Ali. Dia tidak tahu jika, Ali anaknya Bu Suharti sama sekali tidak mengetahui jika Ali membenci seseorang yang berbicara atau mengeluarkan suara apa pun saat dia makan.
"Uncle!!! please kalau makan itu jangan bicara Ali tidak suka," wajahnya yang awalnya penuh rona bahagia langsung berubah garang lalu berdiri meninggalkan meja makan itu tanpa sepatah kata pun lagi.
__ADS_1
Semua mata tertuju kepada Alif yang berjalan meninggalkan meja makan dengan wajah marahnya. Semua orang keheranan dengan sikap Ali yang tidak seperti biasanya.
Risma Erlene Keysha dan Dion Haidar Tan tidak pernah melihat sikap Muhammad Ali putra tunggalnya Bu Suharti yang seperti itu, hanya dikarenakan masalah sepele saja yaitu Rudi yang membuka pembicaraan dengan istrinya yaitu Risma pada saat sedang makan.
Ibu Suharti merasa tidak enak hati melihat putranya yang bersikap seperti itu di hadapan Nona Muda dan Tuan Muda nya. Emaknya Ali sangat menyesal. Beliau meminta maaf kepada Risma dan Rudi dan merasa sedih dengan sikap Ali yang kurang cocok untuk mereka berdua.
"Maafkan Ali yah Mbak Risma dan tuan Muda Rudi, Alif dari dulu seperti itu, jika ada yang berbicara disaat makan, maka Alif tidak akan segan untuk menegur dan marah di hadapan orang itu," jelas Ibu Suharti yang menyayangkan sikap dari Ali.
Emaknya Alif pun mengejar putranya dan berusaha untuk menenangkan anaknya itu. Alif menutup pintu kamarnya dengan sangat kuat sehingga menimbulkan suara yang cukup keras.
Bruuuuuukkkkkk!!! Pintu itu tertutup dengan cukup keras hingga menimbulkan bunyi dentuman keras dari arah kamarnya Ali.
"Alif ini Emak nak, tolong buka pintunya," ucap Emaknya yang meminta tolong agar pintunya segera dibuka.
"Alif maafkan Mas Rudi dan Mbak Risma mereka tidak tahu jika Alif tidak menyukai bila ada orang yang berbicara pada saat Alif makan," suara ibu Sumartini yang sudah lemah lembut itu masih tidak membuat Alif berubah pikiran dan membuka pintunya.
Raut wajah Emaknya sangat khawatir dengan keadaan Alif yang tidak ada reaksi sedikit pun dari arah kamar putranya. Tapi, Bu Sumartini tidak menyerah dan terus membujuk putranya agar membukakan pintu tersebut lalu kembali makan bersama dengan lainnya.
Pasangan suami istri itu segera menyelesaikan makanannya yang sudah terlanjur terisi ke atas piringnya. Mereka Ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka. kenapa Ali hanya masalah kecil seperti itu, tapi sangat marah.
...----------------...
Silahkan mampir juga ke novel Aku yg lainnya:
__ADS_1
Dilema Diantara Dua Pilihan
Cinta dan Dendam
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Cinta ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Menggenggam Asa
Cinta Kedua CEO
Kau Hanya Milikku
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all...
Tetap berikan dukungannya untuk menggenggam asa dengan cara, Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, berikan gift dan Votenya juga…
Mohon maaf jika banyak terdapat kesalahan dalam pengetikan cerita ini atau Typonya yang meresahkan...
__ADS_1