Menitipkan Anak Ke Nenek

Menitipkan Anak Ke Nenek
Bab 30 Akibat kecerobohan


__ADS_3

"Tidak adil gimana maksud mu?. " tanya Mama.


"Ini tidak adil mah, aku bahkan tidak menerima surat panggilan sidang." ujar irfan dengan sedikit merasa lemas.


" Pasti kamu menerima surat gugatan, di mana-mana setiap yang setiap terdakwa akan selalu menerima surat gugatan. " jawab Ayah.


" Tapi pak, aku sama sekali tidak menerima surat itu. " Kata irfan.


" Kalau gitu pasti ada yang sengaja tidak memberikan surat itu pada mu agar kamu tidak mengikuti sidang. " ujar Ayah.


" Apa mungkin Metty yang melakukan semua ini?".


ujar irfan yang merasa bingung dengan semuanya.


"Pokoknya Ayah tidak mau tahu kamu harus kembali padanya samai semua harta itu berada di tangan kita. " Kata Ayah.


"Tapi yah aku sudah resmi bercerai dengannya, gak mungkin aku minta rujuk padanya. " ujar irfan.


plak.


Ayah yang mendengar irfan berbicara seperti itu menamparnya.


" Ayah tidak mau tahu kamu harus bisa kembali padanya irfan. " ujar Ayah dengan penuh penekanan.


" Irfan apa yang dikatakan Ayah mu benar, kamu harus menurutinya. " ujar mama menimpali.


" Tapi mah, yah, gimana caranya irfan bisa kembali sedangkan irfan tidak tahu alasan metty menceraikan aku. " ujar Irfan.


Mendengar perkataan irfan orang tuanya bingung jikalau anaknya sendiri saja tidak tahu alasan istrinya menggugat ia, lalu apa yang bisa mereka lakukan.


"Kamu cari tahu dulu dimana surat gugatan itu dan siapa yang menerima nya. " ujar Ayah.


"Iya Pak aku akan berusaha mencarinya. " Ujar irfan.


"Kalau sudah ketemu aku yang akan mengurus siapa yang menyembunyikan surat panggilan itu. " ujar Ayah yang terlihat sangat garang.


Tiara yang mendengar ucapan mertuanya merasa merinding, ia merasa telah melakukan kesalahan besar dengan menyembunyikan surat itu.


"Iya Yah aku akan mencari tahu siapa orang itu. " ujar irfan.


" Kalau gitu aku akan mencoba menelepon metty yah, aku akan minta penjelasan darinya. " ujar irfan lagi.


" ya memang sebaiknya kamu melakukan itu." ujar Ayah.

__ADS_1


"Mas Ayah, ibu aku kamar dulu ya mau ganti pakaian. " ujar tiara yang disetujui oleh mereka.


Tiara pun segera menuju kamarnya, mendengar perkataan mertua ia berniat untuk segera menyembunyikan surat gugatan cerai yang ia sembunyikan.


" Aduh surat itu dimana sih, perasaan aku letakkan di sini deh, kok malah gak ada. " ujar Tiara sedikit panik, kalah ia tidak menemukan surat gugatan itu.


Setahu ia, dia menyimpan surat itu rapat-rapat dalam lemari nya. Tapi sekarang kok malah gak ada sih.


Ia membongkar semua isi lemari nya, namun ia sama sekali tidak menemukan yang ia cari, ia pun berganti pakaian dan menuju rumah tengah.


Bisa-bisa nanti mereka curiga lagi kalau aku lama keluar dari sini.


"Gimana mas? apa kamu sudah bicara sama metty. " tanya tiara.


"Belum sayang, metty tidak mau mengangkat telepon dari aku, ia terus menolak panggilan ku." ujar irfan yang terlihat sedikit pucat.


Tiara yang mendengar ucapan irfan pun mempunyai ide, agar ia bisa leluasa mencari surat gugatan nanti, tapi ia harus menyuruh irfan untuk tidak di rumah.


" Gini aja mas, gimana kalau kamu susul saja dia ke rumahnya. " ujar tiara berharap idenya itu diterima.


" Ide bagus, Irfan memang sebaiknya kamu ikuti saran istri mu itu. " ujar Ayah.


"Tapi yah, aku takut jikalau nanti di sana aku dipukulin warga. " ujar irfan.


"Mas memang sebaiknya mas pergi aja ke rumah metty. " ujar tiara.


" Tapi apa alasan ku nanti jika mereka tahu kedatangan ku?. " ujar irfan yang takut dipukulin bapaknya metty.


" Mas bawain aja oleh-oleh tadi, itu bisa jadi alasan mas. "


" Dan mas harus bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja. " ujar Tiara yang ingin segera mencari keberadaan surat yang ia sembunyikan.


"Baik lah, kalau gitu aku pergi dulu. " ujar irfan seraya membawa oleh-oleh yang khusus dibelikan untuk metty dan keluarga nya.


Tiara yang melihat kepergian irfan merasa lega ia segera kembali ke kamarnya.


" Mah,Yah aku ke kamar dulu ya. " ujar tiara.


Mama dan ayahnya irfan hanya mengangguk mendengar ucapan menantunya.


Tiara kembali membongkar seluruh isi lemarinya, bahkan sampai pakaian irfan pun dikeluarkan, Tapi nihil ia sama sekali tidak menemukan apa yang ia cari.


Karena tiara tidak menemukan apa yang ia cari, ia memanggil mbok siti untuk membantunya membereskan semua pakaian yang dikeluarkan tadi.

__ADS_1


" Mbok siti, mbok? " panggil tiara yang tidak mendapati mbok siti di dapur.


"Iya nyonya ada yang bisa mbok bantu? " ujar mbok siti yang baru keluar dari kamar mandi.


"Ini mbok tadi pakaian dalam lemari saya jatuh semua, bisa tolong bantu saya rapikan lagi?. " Ujar diana.


"Baik nyonya, mari kita ke kamar nyonya. " ujar mbok siti.


sesampainya di kamar mbok siti kaget melihat semua isi lemari berantakan, nggak mungkin pakaiannya jatuh, kalau jatuh pasti kenarinya juga rusak. Batin mbok siti.


"Nyonya kok bisa pakaiannya berhamburan gitu?. " ujar mbok siti.


"Tadi saya lagi cari pakaian yang biasa saya pakai di kamar mbok, tapi nggak jadinya saya bongkar dee eh lemarinya. " ujar tiara.


"Kalau gitu biar saya yang bereskan, nyonya makan saja dulu, nyonya pasti capek baru pulang dari perjalanan jauh. " ujar mbok siti.


Tiara yang mendengar ucapan mbok siti pun berniat untuk pergi makan karena memang sedari tadi ia belum makan.


"Ya udah mbok, kalau gitu saya makan dulu,tolong ini dibereskan semua ya mbok. " ujar Tiara sembari berlalu dari kamarnya.


Di lain sisi irfan sudah berada di depan rumah metty, terlihat rumah metty sepi dan kalau dia masuk kemungkinan dia akan diterima dengan baik.


irfan pun mengetuk pintu rumah dan mengucapkan salam, berharap orang yang akan membuka pintu itu adalah metty.


"Tok tok tok assalamu'alaikum " ujar irfan.


Metty yang sangat familiar dengan suara itu sengaja tidak membukakan pintu.


"Biarkan saja dia nunggu berjam-jam baru aku akan membukakan pintunya. " ujar metty dalam hati.


"Metty kayanya ada yang datang tuh, yuk kita lihat." ajak diana yang mendengar ucapan salam itu.


" Jangan dulu din. " ujar metty sambil menahan tangan diana yang hendak bangkit untuk membuka pintu.


" Kenapa metty siapa tahu itu orang penting, atau teman orang tua mu, ayok kita buka pintunya." ujar diana.


" Aku tahu itu pasti mas irfan din, biarkan dia menunggu selama berjam-jam baru kita buka pintunya. " ujar metty.


" Oh itu irfan toh, ternyata dia masih berani datang kesini. " ujar diana.


"Udah din, biarkan saja dia diluar dulu, biar tahu rasa dia. " Ujar metty.


"Hahahaha ternyata kamu bisa kejam juga ya metty. " ujar diana sembari tertawa melihat tingkah Sahabat.

__ADS_1


__ADS_2