
Tiara baru saja selesai mengurus surat tanda tangan pengalihan kekuasaannya.
"Syukurlah semuanya sudah beres, sekarang tinggal mengurus yang lainnya. " ujar tiara.
Tiara segera menyimpan semua surat tersebut dan pergi meninggalkan ruangannya untuk menemui Intan.
"Bu mohon maaf boleh saya bicara sebentar? " tanya salah satu karyawan yang berpas-pasan dengan tiara di lobi.
"Oh iya silahkan mas. " ujar tiara.
"Gini bu hari ini ibu ada rapat dengan salah satu klien kita untuk membahas masalah kerja sama dengan perusahaan nya. " ujar karyawan tersebut.
"Jam berapa rapatnya?. " tanya tiara.
"sekitar jam 10 pagi bu, apa ibu bisa menghadirinya atau ibu mau diwakilkan?. " tanya karyawan tersebut.
Tiara berpikir sebentar dan melihat jamnya.
"Sekarang masih pukul 9 akau masih punya waktu sekitaran 30 menit untuk menemui intan. Jadi ku rasa tidak ada salahnya jika aku menemui mereka." batin tiara.
"Gimana by?. " ujar karyawan tersebut yang melihat tiara melamun.
"Eh iya saya bisa ko, nanti suruh saja mereka masuk ke ruangan saya dan tolong siapkan semuanya dengan baik ya. " ujar tiara pada karyawannya.
"Baik bu akan saya sediakan. " ujar karyawan.
__ADS_1
"Ya sudah sekarang kamu kembali bekerja nanti kalau sudah waktunya kamu kabarin saya. " ujar tiara.
"Baik bu kalau gitu saya pamit dulu, permisi bu. " ujar karyawan tersebut seraya berlalu dari hadapan tiara.
Tiara segera menemui intan ke ruangannya sebelum meeting nya di mulai.
"tok.. tok... tok.." bunyi pintu yang di ketuk tiara.
"Assalamu'alaikum intan saya perlu bicara sama kamu. " ujar tiara yang langsung masuk ke ruangan intan.
"Eh bu tiara, kok gak telpon saya aja biar saya yang ke ruangan ibu. " ujar intan.
"Gapapa saya mau ngomong bentar sama kamu. " ujar tiara.
Tiara segera duduk di depan intan dan memulai obrolannya.
Ia menanyakan beberapa hal tentang Sinta dan dari mana ia mendapat bukti-bukti yang dikirimkan intan padanya.
"Jadi di dari mana kamu dapat video itu intan? " tanya tiara langsung ke intinya.
"Oh itu saya waktu itu kan mau pergi makan siang ke cafe yang tak jauh dari kantor ini bu. " ujar intan mulai menjelaskan.
"cafe yang dimana tan?. " tanya tiara yang tak tahu kalau sekitaran kantornya ada cafe.
"Itu loh bu cafe yang sekitaran 300 meter dari kantor kita kan ada cafe yang baru dibuka 3 bulan lalu bu. " ujar intan.
__ADS_1
'Saya gak pernah lihat tan, terus lanjutkan cerita mu tadi. "ujar tiara.
" Lalu saya makan di sana sama pacar saya bu, saat sedang asyik makan saya lihat bu Sinta menemui seorang cowok dan menyerah uang satu koper pada cowok itu bu. " ujar intan.
"Kamu tahu rupa cowok itu? " tanya tiara.
"Tahu bu, Maka dari itu saya video kan mereka dan pindah duduk lebih dekat sam tempat mereka bu, agar saya donat mengetahui pembicaraan mereka. "ujar intan.
" Kenapa kamu tidak tegur saja mereka?. tanya tiara.
"loh kalau saya tegur bisa-bisa saya ketahuan dong, bisa di pecat saya bu. " ujar intan.
"Kok bisa di pecat kan kamu hanya gabung sama mereka dan bisa menggagalkan mereka untuk mengambil uang tiu. " ujar tiara.
"kan waktu bu Sinta jadi pimpinan kami beliau suka seenaknya kalau kami mengetahui sedikit saja rahasianya, maka beliau tidak segan-segan untuk memecat kamu bu. " ujar intan.
"Oh gitu ya, berarti ini video bukan editan tapi asli ya?. " tanya tiara.
"Astaghfirullah bu, mana berani saya edit video bisa-bisa dikenakan saksi nanti bu." ujar intan.
"Ya sudah kalau gitu Terima kasih informasinya ya intan.. " ujar tiara pada intan seraya meninggalkan tunangan intan.
Setibanya di ruangan tiara langsung dihubungi oleh pihak karyawan tadi untuk melakukan meeting.
Tiara segera bergegas untuk menyediakan semua dokumen-dokumen yang mungkin dibutuhkan nantinya.
__ADS_1