Menjadi Pelakor

Menjadi Pelakor
Episode 19. pergolakan batin arjuna


__ADS_3

Kamar berukuran 4×6 meter itu kembali menjadi saksi bisu ketidakberdayaan arjuna, presdir tampan itu lagi-lagi harus kembali berusaha menahan rasa sakit demi menjaga bahtera pernikahannya.


Arjuna terus mencoba tetap bodoh mencintai layla sepenuh hati, meski hatinya tak kunjung kebas dengan derita yang ditorehkan, ia terus berusaha membenahi apa yang salah walau harus merangkak.


Sang presdir tampan membawa tubuhnya untuk perlahan duduk di atas ubin yang dingin, menyandarkan punggungnya pada dinding tepian tempat tidur.


Akal sehatnya meronta meminta dibebaskan dari segala penderitaan, hingga alam bawah sadarnya menciptakan ilusi, membuatnya melihat sesosok bayangan dirinya sendiri yang bertanya dan menghina.


“ Apa yang baru saja kau lakukan arjuna? Kenapa kau malah meladeni kegilaannya? Bodoh! Kau benar-benar pria yang bodoh, kenapa kau biarkan dirimu terus disakiti?”


Sementara nuraninya yang menyimpan rasa bersalah menjelma membela.


“ tidak ada yang salah dengan apa yang kau lakukan arjuna, kau sudah benar! Kau memberikan nafkah batin yang sudah menjadi hak layla walau harus melalui pria lain, rasa sakit itu tidak bisa terelakkan karna keadaanmu sendiri”


“Sadarlah arjuna! Bahtera pernikahan yang jalin kini sudah seperti tali yang mengikat di lehermu, siap menjeratmu sampai mati, untuk apa kau menjadi manusia yang taat? Jika yang kau dapatkan hanya derita, ceraikan saja dia, ceraikan saja istrimu yang sudah menjadi binal itu” sosok bayangan akal sehatnya itu kembali mengeluh dan mulai membujuk dirinya.


“ tidak! Kau tidak boleh menceraikannya, dia menjadi seperti itu karna dirimu, kaulah yang sudah merusaknya, dan sekarang, setelah kau merusak hidupnya, kau mau menyakiti hatinya juga, ingatlah arjuna, jika kau menceraikannya tidak hanya hatinya yang akan terluka, tapi hati keluarganya pun akan hancur” sosok dari rasa bersalahnya kembali bersua


Setelah sosok bayangan dari akal sehat dan rasa bersalahnya, kini sosok dari egonya ikut muncul membela sosok akal sehatnya.


“ kenapa kau harus memperdulikan orang lain arjuna, pikirkan saja kebahagiaanmu sendiri, di sisimu masih banyak wanita cantik, tinggalkan saja layla yang hanya selalu membuatmu menderita”


“ jangan dengarkan mereka arjuna, layla itu manusia, dia bukan barang yang bisa kau buang setelah kau merusaknya, yakinlah layla pasti akan berubah, ya! Suatu saat dia pasti akan kembali seperti dulu, dia pasti akan kembali membuat dirimu jatuh cinta lagi” ujar sosok rasa bersalah yang mencoba mendominasi


Perdebatan dari ke tiga sosok dalam jiwanya itu membuat kepala arjuna terasa pening, walau ketiga sosok yang menjelma seperti bayangan dirinya itu telah lenyap, namun rasa frustrasinya seolah tak mau pergi, arjuna ingin berteriak kencang, namun ia enggan untuk membuat kegaduhan di tengah malam.


Helaan nafas panjang terus arjuna lakukan, ia berharap bisa mendapatkan ketenangan, presdir tampan itu mengepalkan tangan seraya memeluk lututnya yang ia tekuk, berharap emosi dalam jiwanya akan mereda, arjuna menundukkan kepalanya dalam, seraya merenungi nasib dalam diam.


“ juna!”


Suara seruan lembut dari sang istri membuat arjuna mengangkat kepala dan menoleh ke belakang, menatap sang istri yang baru terbangun dari tidurnya.


“ aku mau mandi” ucapnya kemudian


Arjuna pun mendongak, menatap pada jam dinding yang selalu berdetak tanpa henti, ia sedikit terkejut saat mengetahui malam sudah berganti, padahal presdir tampan itu belum memejamkan matanya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 07:30, Arjuna pun bangkit dari duduknya, ia lalu mengangkat tubuh sang istri, membawanya ke kamar mandi untuk ia mandikan.


“ kenapa kau terlihat tidak bersemangat?” tanya layla yang merasakan sang suami bergerak lamban

__ADS_1


“ maaf sayang! Aku hanya sedikit lelah” jawab arjuna


“ kau mengeluh padaku? Lalu aku harus mengeluh pada siapa? Sebagai suami kau tidak seharusnya mengeluh padaku, kan bukan aku juga yang membuatmu lelah” ucap layla santai


“ iya maaf! ” hanya kata itu yang bisa arjuna ucapkan untuk mencegah pertikaian.


Arjuna hendak mengecup pipi sang istri, namun layla malah menghindar seraya berkata “ jangan bangkitkan gairahku, kau belum lupa kan kalau kau tidak akan bisa meredakannya” walau nada suaranya tidak terdengar ketus, namun kata-katanya terdengar menyakitkan.


“ mandilah sana! Biarkan aku berendam sendiri” ucap layla kemudian


Arjuna menuruti ucapan sang istri, ia membersihkan tubuhnya di bawah guyuran shower, presdir tampan itu tiba-tiba tersenyum saat melihat ke arah sang istri, layla sedang memainkan busa sabun dengan senyum yang ceria.


Arjuna dan layla keluar setelah menyelesaikan ritual mandi mereka, tubuh arjuna dibalut dengan kimono mandi, sementara tubuh layla hanya terbalut handuk. Keduanya menoleh saat mendengar suara handle pintu kamar yang dibuka.


Lika terkejut saat melihat apa yang terjadi, arjuna berdiri di depan kamar mandi seraya menggendong tubuh sang istri, terlebih ada jejak kepemilikan di bagian tubuh atas layla yang terekspos, pemandangan yang menampakkan hubungan suami istri harmonis, yang baru selesai bercumbu di dalam kamar mandi, keduanya sama-sama basah dengan senyum mereka yang terpatri di wajah.


Arjuna mendudukkan sang istri di depan meja rias, presdir tampan itu mengambil hair dryer dari dalam laci rias, lalu membantu sang istri untuk mengeringkan rambutnya.


“ Masuklah lika!” layla berseru dengan senyum menyeringai


“ itu tidak perlu” sahut lika cepat


“ papah dan mama memintaku memanggil kalian untuk sarapan bersama, turunlah setelah kalian selesai “ jawab lika sambil tersenyum


Lika yang masih berdiri di ambang pintu pun kembali menutup pintu kamar itu, ia berjalan sambil sesekali menoleh menatap ke arah kamar arjuna, batinnya bersua “ layla beruntung bisa mendapatkan suami seperti kak arjun, sudah tampan, baik, lemah lembut, bersedia mengayomi pula, suamiku nanti mau membantuku mengeringkan rambut juga gak yah!”


“ kamu mikir apa si lika?” keluh tanya lika pada dirinya sendiri


Lika kembali ke ruang makan, kembali mendudukkan diri, lalu menebar senyum pada bastian dan devi yang sudah duduk menunggu lebih dulu.


“Lika! Dari tadi ponselmu terus berdering, coba kau lihat! Siapa tahu itu penting” ucap devi memberi tahu


Lika mengangguk, gadis itu memang meninggalkan ponselnya di meja makan saat memanggil arjuna dan istrinya.


“ ini dari senior lika mah, lika ada janji temu dengannya siang ini” ucap lika menjelaskan


“ senior yang mana?” tanya bastian, pria yang lika panggil papah jika ayahnya tidak ada itu mulai menginterogasi lika, menggantikan peran gunawan.


“ itu loh pah, profesor boy, anaknya temen papah” jawab lika

__ADS_1


“ oh si boy? Ngapain kamu ketemu dia?” tanya bastian


“ papah inget gak waktu lika terbaring sakit setelah melakukan operasi?” lika bertanya sebelum mulai cerita, dan bastian mengangguk


“ waktu itu senior minta lika untuk bantu nanganin satu pasiennya, dia nagih janji itu sekarang, karna waktu itu kan lika langsung pindah kerja” ucap lika menjelaskan


Devi menggenggam tangan lika lalu bertanya “ memangnya gak apa-apa nak? ” dengan penuh kekhawatiran


“ gak apa-apa mah! Tenang aja, lika sudah ikhlas kok, lagi pula tidak baik terus meratapi kemalangan yang sudah berlalu” ucap lika,


Devi memeluk lika bangga, dan bastian pun mengutarakan rasa bangganya dengan membelai rambut lika.


Tak seperti hari kemarin, sarapan pagi ini berlangsung dengan damai, itu pun karna semua orang mendadak jadi pendiam.


Usai sarapan lika kembali ke rumahnya, ia mengambil jas putih miliknya yang ia simpan di dalam kotak, saat lika kembali ke kediaman bastian, beni sudah terlihat duduk di ruang tamu.


“ bawa apaan tuh?” tanya beni ketus


“ih... kepo... “ sahut lika seraya terus melangkah mengabaikan si pria berkacamata itu.


Lika berpapasan dengan arjuna saat tengah menaiki anak tangga, presdir tampan itu tiba-tiba saja menghentikan langkahnya, lalu berkata “ lika! Hari ini kamu masuk kantor ya! Bu oca, wakil presdir dari perusahaan rekanan kita katanya akan mampir ke kantor untuk menyerahkan dokumen salinan kerja sama, tolong gantikan aku untuk menerima itu”


“ kenapa harus aku? Suruh pak beni aja! Dia kan asisten kakak” sahut lika


“ Aku dan beni ada janji temu dengan orang penting, orang ini sangat sulit di temui, kami sudah menunggu lama untuk bertemu dengannya, ayolah lika,,, ini urusan hidup dan mati perusahaan, hanya sebentar saja, temui dia, terima berkasnya, setelah itu kau bisa lakukan apa pun, oke!” terang arjuna disertai bujuk rayu.


Lika pun akhirnya menyetujui permintaan itu, lagi pula arjuna mengatakan urusan itu tidak akan memakan waktu lama, jadi ia pikir itu tidak akan jadi masalah.


Arjuna pun berlalu pergi setelah berterima kasih pada lika, ia dan beni langsung melesat ke rumah sakit, menemui dokter boy yang katanya sudah membuat janji temu dengan dokter malik.


“ di mana dokter itu?” tanya arjuna tidak sabaran


“ maaf jun, sepertinya kita harus menunggu, dokter malik mengabari bahwa dia akan datang terlambat” jawab boy


“ kok dia bersikap seenaknya gitu si? Mentang-mentang kita membutuhkan bantuannya, dia pikir dia bisa seenaknya” keluh beni


“ dia tidak bersikap seenaknya, sangat wajar jika dia lebih mengutamakan hidup dan mati orang lain di banding dengan urusan kita, toh dia hanya bilang akan datang terlambat, kita harusnya bersyukur karna dia tidak membatalkan janjinya “ terang dokter boy


“ sudah lah beni, benar apa kata boy, lagi pula apa salahnya jika kita harus menunggu satu atau dua jam saja ” ucap arjuna menenangkan beni

__ADS_1


“ bukannya apa-apa kak! Tahu gini tadi kita aja yang ke kantor kan!” ucap beni, ia merasa sayang karna harus menyuruh lika bertemu rekanan bisnis penting dan menerima berkas kerja sama.


__ADS_2