Menjadi Pelakor

Menjadi Pelakor
Episode 80


__ADS_3

“ kenapa harus terjadi lagi”


Juli kembali masuk ke ruang presdir setelah setengah jam berlalu, ia mengeluh saat mendapati kursi pimpinan yang kosong, dan jelas Juli tahu ke mana dan apa yang tengah dilakukan dua sejoli penghuni ruangan itu.


Anehnya! Meski tak terdengar lagu cinta, Juli terap saja membayangkan hal yang tidak seharusnya, wanita itu bahkan menyentuh bibirnya ketika ingatan saat berciuman dengan beni muncul, Juli juga memeluk dirinya sendiri ketika teringat saat beni memeluknya dengan mesra.


“ Apa yang sedang kau lakukan?”


Pertanyaan itu mengagetkan Juli yang tengah berangan, ia menoleh dan menatap malas pada Beni yang tengah berjalan mendekatinya.


“ di mana bos?” tanya Beni lagi setelah berada di samping Juli.


“ di kamar” jawab Juli singkat, ia sungguh malas bicara dengan sosok pria bernama Beni itu.


“ ehhh... Pak Ben mau ke mana?” tanya Juli seraya menarik tangan Beni untuk menghentikan langkahnya.


Beni menatap tangan Juli yang menyentuh kulitnya, entah kenapa perasaan yang tak nyaman seolah di terpa ombak laut yang mendinginkan, sudut bibirnya bahkan tertarik tanpa ia sadari.


“ hai Juli! Apa kau begitu senang menyentuhku?” Tanya Beni seraya menatap mata Juli


Juli menghempaskan tangan Beni, tatapan matanya memperlihatkan rasa sebalnya, tapi entah kenapa hati beni seolah di terpa kesejukan.


“ presdir sedang tidak bisa di ganggu” ucap Juli kemudian


“ tapi klien dari PT Xx sudah datang” ucap Beni


“ biar aku yang temui dan memintanya pulang” ucap Juli


Ucapan Juli terdengar oleh CEO dari PT Xx, CEO yang biasa di panggil Koko itu sudah berdiri di ambang pintu, ia yang tak mengerti dengan situasinya pun bertanya “ aku baru saja datang, kenapa kau hendak memintaku kembali pulang? Bukankah tuan Arjun sudah bersedia mengajukan jadwal rapat kita? “


“ itu Ko! Anu.... Itu... Sebenarnya pak Arjun tiba-tiba berada dalam situasi terdesak, jadi sepertinya beliau tidak bisa jika sekarang”

__ADS_1


Juli sedikit gelagapan saat harus menjelaskan apa yang terjadi, ia takut salah bicara, wanita itu bahkan berkali-kali melirik ke arah pintu kamar.


“ terdesak? Melihatmu selalu melirik ke arah pintu kamar istirahat, aku jadi mengerti, presdir kalian tengah berselingkuh di kantor kan!” ucap Koko menduga, ia terlihat sebal harus mengatakan itu.


Beni menatap tak percaya pada Juli setelah mendengar asumsi sepihak Koko.


“ tidak Ko! Beliau melakukan itu dengan istri sahnya” sanggah Juli cepat, Juli jadi keceplosan karna sedikit panik, padahal sebagai seorang sekretaris harusnya Juli bisa menjaga privasi atasannya.


“ itu tidak mungkin! aku dan paman sudah memintanya untuk tidak melakukan itu di kantor, lagi pula aku tak mendengar senandung lagu cinta?” Ucap Beni


“ senandung lagu cinta?” tanya Koko seraya menatap Juli dengan tatapan penasaran.


“ ahhh... “ Beni memekik kesakitan


Juli dengan sengaja menginjak kaki Beni karna kesal harus kembali memberikan penjelasan, malas tuk berpikir, Juli pun melemparkan tanggung jawabnya seraya berkata “ tanyakan saja pada pak Ben” dengan nada ketus


“ kenapa aku? Kau lah yang harus menjelaskannya, Koko kan bertanya padamu” ucap Beni acuh


Koko tertawa mendengar itu, ia berpikir bahwa sekretaris yang bernama Juli itu hendak membeberkan rahasia presdirnya, ia sama sekali tak menyangka bahwa Juli bisa mengatasi keingintahuannya dengan baik.


“ baiklah! Aku akan menunggu sampai bosan, semoga saja presdir kalian bisa menyelesaikannya dengan cepat” ucap Koko yang kemudian mendudukkan diri di sofa.


Beni ikut duduk untuk menemani ceo itu berbincang, sementara Juli keluar untuk menyiapkan minuman, ia tak bisa membiarkan tamu yang datang dan bersedia menunggu itu merasa kehausan.


“ Juli sangat cantik ya! Ia juga memiliki manners yang baik sebagai sekretaris, aku jadi penasaran dengan kehidupan pribadinya” ucap Koko memuji


“ Koko! Ingat! Anda sudah beristri dan memiliki satu anak” ucap Beni, entah kenapa ia tak suka mendengar pujian itu.


“Ben kau kan asisten sekaligus sepupu bos, tidak bisakah kau periksa rencana kerja sama kita dan membahasnya denganku” ucap Koko


“ pak Ben tidak akan bisa melakukannya Ko!” seru Juli yang kembali dengan membawa nampan di tangannya.

__ADS_1


“ apa kau sengaja merendahkanku? Kau juga tahu kan Jul! Bukan sekali dua kali aku menggantikan presdir untuk meeting, tentu saja aku bisa melakukannya“ ucap beni kesal, pria itu bangkit dari duduknya, berjalan menuju meja dan mencari berkas kerja sama itu.


“ padahal maksud saya bukan seperti itu” ucap Juli


“ lalu?” tanya Koko penasaran


“ada banyak bahasa cinta dalam bisnis perencanaan yang belum di susun rapi, aku dan ketua tim perencanaan saja masih belum bisa memahami beberapa istilah yang presdir ciptakan, sementara pak Ben kan selalu menerima berkas yang sudah rapi” ucap Juli


Beni memang menemukan berkas itu, ia berniat untuk duduk sebentar untuk memahami isi berkas, namun ternyata ada beberapa bagian yang tak bisa beni mengerti.


Di sisi lain Koko dan Juli justru tengah asyik bermain ludo dari ponsel, tepat setelah mendengarkan penjelasan dari Juli, Koko menarik tangan Juli untuk duduk bersamanya, CEO itu kemudian mengeluarkan ponsel dan mengajak Juli untuk memainkan game yang biasa ia mainkan bersama putri kesayangannya.


30 menit sudah berlalu, tapi Beni masih belum bisa memahami seluruh isi dari berkas perencanaan itu, sampai CEO dari PT Xx itu berkata “ baiklah nona Juli! Aku sudah merasa bosan, tolong kau atur kembali jadwal meetingnya, kalau bisa besok”


“ baik Ko! Maaf karna waktu Koko jadi sia-sia seperti ini” ucap Juli sopan


“ hey... Jangan bilang begitu, aku cukup menikmati waktu santai bersamamu” ucap Koko


Koko memperhatikan Beni sesaat sebelum meninggalkan ruangan, ia sampai menggelengkan kepala saat melihat betapa fokus Beni mempelajari berkas itu, sampai tak sadar dengan apa yang terjadi di sekitarnya.


Beni menyerah, ia bangkit seraya berkata “ maaf sudah membuat Koko menunggu lama”


“ loh... Koko pergi ke mana?” tanya heran beni saat tak melihat orang yang ia ajak bicara.


“ Koko sudah pergi, saya sudah bilang, pak Ben tidak akan bisa melakukannya, kenapa harus memaksakan diri” ucap Juli


Juli pun meninggalkan ruangan itu setelah membereskan meja, ia membawa kembali gelas yang sudah kosong dengan bertatakkan nampan yang sama.


Beni menatap kesal pada pintu kamar istirahat presdir, Beni tak suka di pandang dengan tatapan remeh, apalagi di remehkan oleh juli, ia pun melampiaskan kekesalannya, menyalahkan serta memaki sepupunya yang sedang bersenang-senang di dalam sana.


“ ini semua gara-gara kau kak! dasar sepupu kurang ajar! Presdir laknat! Kenapa kau memakai banyak istilah yang sulit di mengerti”

__ADS_1


__ADS_2