
“ setelah bertemu denganmu dia mulai berubah, aku seperti melihat sosok orang yang berbeda, Lika! Seburuk apa pun aku, bukankah? Aku juga berhak untuk mengharapkan kebahagiaan” ucap Layla
“ tentu saja! Mbak masih punya banyak waktu untuk itu”
“ waktu? Hidupku bahkan sudah tak berarti, dan satu-satunya pria yang bisa menerimaku apa adanya, sudah kau rebut sepenuhnya”
“ jika mbak merasa hidup mbak sudah tidak berarti, kenapa mbak tidak mencarinya (arti hidup), belum terlambat jika mbak memulai hidup baru sekarang, sebab selama mbak masih bernafas, kesempatan itu selalu ada, tidak ada gunanya terus merutuki apa yang telah terjadi, dan andai kata mbak masih bersama dengan kak Arjun, belum tentu mbak akan bahagia, jadi carilah kebahagiaan yang lain selain suami ku”
“ benar apa yang dikatakan nak Lika sayang! Jika kehidupan yang lalu hancur lalu kenapa? Kau bisa memulai hidup barumu, abi yakin! Suatu hari nanti kau pasti bisa menemukan kebahagiaanmu, hingga kau lupa bahwa kau pernah menderita” sahut abi seraya berjalan mendekat.
“ percayalah sayang! Kau hanya perlu keluar dari kamar ini, dan umi yakin! Semuanya akan baik-baik saja” timpal umi yang mengikuti abi dari belakang.
Layla terdiam, dering ponsel Lika memaksanya untuk beranjak dari tempatnya.
“ sepertinya aku sudah harus pamit, jaga kesehatan mbak ya!” Ucap Lika tulus
“ biar abi antar ke luar” seru abi
Lika dan abi pun keluar dari kamar itu, meninggalkan umi yang tengah melakukan tugasnya sebagai seorang ibu.
“ Terima kasih karna sudah peduli pada putri kami nak!” ucap abi menghantar kepergian Lika
“ tidak abi! Jangan berterima kasih, Lika melakukan semua ini bukan karna peduli, tapi demi menghilangkan rasa bersalah yang mengerikan ini” ucap Lika jujur
“ Meski begitu kau pantas untuk mendapatkan ucapan itu nak! Abi bisa mengerti perasaanmu, beberapa orang memang cenderung tak peduli, tapi ada juga orang-orang yang merasa tak enak hati, bahkan saat mengambil barang yang mereka titipkan, dan abi akan selalu berdo'a, agar nak Lika selalu termasuk pada golongan orang-orang baik itu, amin... “
“ amin”
Setelah pamit dengan sopan, Lika pun masuk ke dalam mobil taksi yang dengan setia menungguinya, ia kembali ke kediaman Arjuna.
Mobil taksi itu berhenti di depan pagar yang dikunci, sang sopir pun bertanya “ benar ini rumahnya nyonya?” Untuk memastikan, karna rumah itu tampak seperti rumah kosong.
“ benar pak! Tolong bantu turunkan koper saya” pinta lika
Sang sopir pun mengangguk, ia ikut turun dari mobil, lalu menurunkan koper Lika dari bagasi, begitu berbalik
“ astagfirullahaladzim “ sang sopir memekik karna kaget
“ kenapa kau beristigfar? Kau pikir aku hantu!” geram Arjuna
__ADS_1
“ Bukan begitu pak! Saya hanya kaget karna bapak tiba-tiba berdiri di belakang” ujar sang sopir
“ Aku tidak tiba-tiba berdiri di belakangmu, kau lah yang tiba-tiba MENCULIK ISTRIKU” ucap Arjuna kesal
“ saya hanya sopir taksi pak, saya tidak tahu apa-apa” ucap sang sopir, ia yang panik bergegas kembali ke dalam mobil, dan pergi dari sana begitu saja.
“ hi pak! Tunggu! Ini ongkosnya” teriak Lika yang terabaikan
Lika berbalik, ia menatap suaminya dengan tatapan tajam, lalu mengajukan sebuah tanya “ kenapa kakak melakukan itu? Beliau hanya sedang mencari nafkah, tapi karna cemburu, kakak malah membuat kerja kerasnya sia-sia”
“ cemburu? Aku tidak cemburu sayang, aku hanya kesal, kesal padanya, dan kesal padamu, alu tidak akan memaafkan mu dengan mudah Lika” ucap Arjuna penuh ketegasan
Arjuna mengangkat tubuh sang istri. Lika pun berteriak karna kaget. Arjuna mengendong Lika dengan satu tangan, seperti tengah memanggul sekarung beras, sementara satu tangannya yang lain menyeret koper Lika.
Arjuna menurunkan lika tepat di depan pintu mobil, ia membukakan pintu lalu meminta sang istri masuk dengan lembut.
“ kita mau ke mana kak?” Tanya Lika saat Arjuna memasangkan sabuk pengaman untuknya.
“ tentu saja pulang ke rumah mu” jawab Arjuna santai
“ ke rumahku?” Lika sedikit terkejut. Arjuna mengangguk membenarkan.
‘Agar kau tak meminta di pulangkan ke rumah orang tuamu saat kau marah' jawab batin Arjuna
“ tentu karna aku berniat menjual rumah itu” jawab Arjuna sambil tersenyum penuh makna. Lika mulai curiga.
“ berhenti menatapku, atau aku tidak akan tahan untuk menyerangmu”
“ ihhh... Dasar mesum” pekik Lika sebal
“ kau tahu sayang! Kau terlihat seksi saat bibirmu maju, apalagi kalau tidak pakai baju” ucap Arjuna sambil tersenyum.
“ Kakak....”
Jika saja, jika saja Arjuna tidak sedang menyetir, Lika tidak hanya akan berteriak, ia akan memukul gemas tubuh suaminya yang mesum itu.
“ jangan merengek begitu sayang, aku jadi makin tidak tahan”
Arjuna kemudian memperlambat laju mobilnya, ia melirik ke kanan dan ke kiri, memperhatikan sekitar dengan saksama.
__ADS_1
“ kakak sedang cari apa?” tanya Lika serius
“ Cari tempat sepi untuk bermesraan”
Jawaban itu membuat Lika sebal, tapi tak lantas membenci, malah kalau boleh jujur ia sangat menyukainya, wajahnya sampai memerah, ia luapkan rasa malunya dengan mencubit gemas pinggul sang suami, bukannya memekik kesakitan, Arjuna malah mendes ahhh... Seolah menikmatinya.
Di raihnya tangan sang istri. Entah ini kebetulan, atau memang Arjuna sengaja, mobil itu berhenti di area tempat parkir taman yang sepi.
Arjuna pun melepas sabuk pengamannya, lalu melepaskan sabuk pengaman sang istri, kemudian menarik pinggang Lika untuk mendekat, ia mencium bibir merah sang istri. Awalnya Lika menolak karna malu memikirkan are tempat terbuka, namun seiring dengan sentuhan lembut sang suami Lika pun terbuai juga, tak hanya menikmati, ia juga ikut mengambil peran.
Lama mereka bercumbu mesra, tangan Arjuna mulai nakal, menyusup dan hendak membuka sesuatu yang tersembunyi di balik baju.
“ hai buka pintunya! Pria kurang ajar, beraninya kau berbuat mesum di wilayah ku”
Teriakan serta suara kencang kaca yang digedor membuat kesadaran sepasang suami istri itu kembali, Lika bahkan sampai mendorong tubuh suaminya agar menjauh, keduanya masih berburu dengan nafsu, namun tampaknya keadaan tak mengizinkan.
“ police kak! Bagaimana ini?” tanya Lika sedikit gugup
“ kenapa kau cemas begitu sayang, seperti sudah berzina denganku saja, tenang! Kau diam di mobil, biar aku yang hadapi” ucap Arjuna penuh percaya diri
Arjuna pun turun dari mobil dan berdiri tepat di hadapan pak polisi, tak ada senyum di wajahnya, yang ada hannyalah kilat amarah yang terpancar dari tatapan matanya.
“ surat nikah!” seru pak polisi seraya menadahkan tangan
Tapi yang Arjuna keluarkan dari dompet bukan apa yang pak polisi itu minta, sang presdir malah mengeluarkan SIM dan STNK, ia menyodorkan kedua surat penting itu seraya berkata “ saat berkendara kedua hal ini lah yang paling penting”
“ Anda memang benar tuan! Saat melakukan razia pengendara, kedua surat itu memang penting, tapi anda tertangkap bukan ketika melanggar aturan lalu lintas, melainkan saat tengah berbuat mesum, jadi yang penting adalah surat nikah” terang pak polisi yang kemudian mendorong jauh tangan Arjuna yang terulur
“mana surat nikahnya? ” pintanya lagi
“ Yang benar saja pak! Surat nikah bukanlah sesuatu yang bisa dibawa tanpa alasan, saya adalah penduduk negeri ini, sama seperti bapak, izinkan saya bertanya pada bapak, jika bapak mengajak istri keluar rumah, apa bapak selalu membawa surat nikah? ”
“ tentu saja tidak!”
“nah kan!”
“ KARNA SAYA BELUM BER ISTRI “ Lentang penuh ketegasan
🤦♂️
__ADS_1