Menjadi Pelakor

Menjadi Pelakor
Episode 62. Kegalauan.


__ADS_3

Arjuna, Lika. Kedua insan yang kini tengah berada di antara kegalauan, di tempat yang berbeda keduanya bergerak ke sana-kemari, mondar-mandir tak jelas dengan memikirkan masalah hati masing-masing.


‘ kenapa kak Arjun tidak bisa dihubungi? Aku tidak bisa pergi menemuinya karna ayah menahanku di sini, tapi kenapa dia tidak datang menemuiku? Apa kakak tidak sadar kalau aku tidak ada di rumah? Atau jangan-jangan benar kata mereka, kak Arjun hanya mempermainkanku'


Batin Lika terus bersua, pikirannya dipenuhi tanya, perasaan hatinya terus gusar karna tak kunjung mendapat kepastian, ia ingin menemui sang pujaan hati, namun kini Lika berada di rumah sang ayah, dan tidak di izinkan untuk pergi meninggalkan kediaman.


Di sisi lain, di salah satu titik koridor rumah sakit, seorang pria menghentikan langkahnya, ia menatap jauh ke dalam satu ruangan di depannya.


‘Aku ingin menemui Lika, tapi aku tidak bisa meninggalkan umi untuk merawat dua pasien, kasihan umi’ batin Arjuna seraya menatap istri dan ayah mertuanya yang terbaring dalam perawatan.


Beni datang menghampiri, tapi Arjuna tidak menyadarinya sampai sang asisten menepuk pundaknya, lalu berkata “ Jika ingin pergi maka pergilah, biar aku yang menemani umi”


Arjuna hanya menoleh lalu mengangguk, ia balas menepuk pelan bahu beni sebelum meninggalkan tempat itu, dengan tergesa-gesa Arjuna berjalan menuju perkiraan.


“ sial!”


Arjuna mengumpat saat mendapati ban mobilnya kempes, jika hanya satu tidak masalah, ia bisa menggantinya sendiri, ada ban serep dan juga alat-alat di dalam mobilnya, tapi ini adalah kesialan yang di sengaja, karna di pikir bagaimana pun tidak mungkin ke empat ban mobil bisa kempes bersamaan.


Dengan sangat terpaksa, Arjuna berlari menuju gerbang rumah sakit, jarak yang cukup jauh membuat pria itu kelelahan, keringat pun membanjiri tubuhnya di beberapa tempat.


“ Ada yang bisa saya bantu pak” tanya seorang petugas keamanan yang datang menghampiri.


“ tidak perlu, terima kasih “ jawabnya dengan sedikit acuh


Arjuna pun berjalan naik ke atas trotoar, pria tampan itu berhenti tak jauh dari halte, di ia berusaha menghentikan setiap taksi yang melewatinya, namun tampaknya malam ini taksi sedang kebanjiran pelanggan, tak ada satu pun dari taksi yang melintas bersedia untuk berhenti.


“ sial! Kenapa kemalangan seolah terus mengikutiku” umpat Arjuna kesal.


Seorang pak tua yang tengah mengendarai motor tiba-tiba berhenti di hadapannya, ia menaikkan kaca helmnya kemudian tersenyum ramah, Arjuna pun membalas senyum itu.

__ADS_1


“ ojek pak!” tawarnya kemudian.


Sejenak Arjuna berpikir, apakah ia harus menerima tawaran itu? Pria tampan itu pun memperhatikan motor sm sport cub classic yang di kendarai pria tua itu, batinnya pun mempertimbangkan tawaran kang ojek.


‘ naik tidak yah! Jika aku naik motor itu, sudah pasti lututku akan pegal karna harus di tekuk selama perjalanan, tapi jika menunggu taksi, entah kapan aku mendapatkannya'


“ Mau naik tidak! Jika tidak mau saya cari penumpang lain”


Ucapan itu terdengar seperti ancaman bagi sang presdir, pria itu pun terpaksa menerima tawaran tukang ojek tua itu, saat Arjuna mendudukkan diri, kakinya yang panjang itu bahkan sudah menekuk, saat ia menaikkan kakinya ke atas footstep, ia merasa seperti tengah duduk di atas bangku jongkok.


“ lebih cepat lagi pak” ucap pinta Arjuna, suara motor yang bising membuat Arjuna bicara dengan berteriak


“ ini juga sudah cepat nak” sahut kang ojek, suara dari obrolan mereka terdengar seperti orang yang tengah bertengkar.


“ cepat dari mana, lihat itu! Motor ini bahkan bisa di dahului oleh sepeda” ucap Arjuna seraya menunjuk seorang wanita yang meng-gowes sepeda mendahuluinya.


“saya tidak bisa lebih cepat dari ini, kita bisa di tangkap polisi nanti, buruknya kita bisa celaka bersama” jawab kang ojek santai


“ Tepikan motornya” pinta Arjuna yang terdengar seperti perintah.


Kang ojek pun menuruti perkataan penumpangnya, ia berpikir pria tampan itu akan berhenti di sana, tapi apa yang dia katakan, ia malah meminta kang ojek turun.


“ turunlah” pinta Arjuna yang kemudian di turuti kang ojek


Arjuna menggantikan kang ojek untuk membawa motor itu, dan kang ojek duduk ketakutan sambil memeluk Arjuna dari belakang, Arjuna memacu sepeda motor itu sampai kekuatan penuh, kepulan asap tebal yang keluar dari knalpot pun membuat si pemilik motor di landa ketakutan, ia terus berteriak karna takut motor tua itu akan meledak di tengah perjalanan mereka, tapi untungnya mereka tiba di kediaman Arjuna dengan selamat.


Setelah turun dari motor, Arjuna merogoh dompet dalam saku, ia mengeluarkan seluruh uang cash yang ada dan memberikannya pada kang ojek.


“ jika setelah ini motor anda jadi rusak, saya rasa uang itu cukup untuk memperbaikinya, tapi jika tidak! Anda bisa menghubungi saya di nomor ini” ucap Arjuna seraya memberikan kartu namanya.

__ADS_1


Kang ojek tersenyum, lalu berkata “ anda akan membutuhkan kesabaran lebih dari ini tuan”


Kang ojek kembali menaiki motor kebanggaannya, lalu kembali berucap “ uang anda tidak akan berguna, karna untuk menghadapinya, yang anda butuhkah adalah tekat dan kesabaran yang seluas samudra” lalu pergi meninggalkan Arjuna yang termenung, mencari arti dari ucapannya itu.


Arjuna langsung berlari ke dalam rumah saat menyadari ada hal yang lebih penting dari pada memikirkan ucapan kang ojek, ia mencari Lika, menyusuri setiap sudut rumahnya itu, tapi sayang ia tak dapat menemukan sang istri muda di mana pun.


Arjuna kembali merogoh saku, ia mengeluarkan ponsel dan


“ Sial!”


Arjuna kembali mengumpat saat mendapati ponselnya kehabisan daya, ia melempar ponsel itu ke sofa karna kesal, kemudian membanting diri untuk duduk di sana.


Arjuna menghela nafas panjang, ia menoleh dan melihat telepon rumahnya menganggur, di ambilnya gagang telepon itu, di tekanya tombol nomor sambil mengingat-ingat, dan suara seorang wanita pun terdengar dari seberang sana.


“ Maaf nomor yang anda tuju tidak terdaftar...


Arjuna langsung meletakan kembali gagang telepon itu dengan kasar, ia kesal karna tidak bisa mengingat nomor Lika dengan benar.


Di pandanginya telepon rumah yang kembali menganggur itu, otaknya bertanya-tanya siapa yang bisa dia hubungi untuk menanyakan perihal keberadaan sang istri muda, sang presdir tampan pun kembali mengambil gagang telepon dan kembali menekan satu persatu nomor, dan kini suara seorang pria yang terdengar dari seberang telepon.


“ Maaf pemilik ponsel ini sedang sibuk, silakan hubungi lagi nanti” jawabnya dengan ketus


“ tunggu pah! Jangan matikan teleponnya” pinta Arjuna, nada bicaranya sedikit panik


Suara dengusan sang papa bisa terdengar oleh Arjuna, jelas sikap papanya itu menunjukkan bahwa saat ini ia tengah merajuk.


“ katakan!” desak Bastian dengan ketus


“ ini tentang Lika pah” Bastian berdehem dengan malas

__ADS_1


“ Lika tidak pulang ke rumah, apa papa tahu Lika di mana?” tanya Arjuna dengan serius dan hati-hati


“ Tidak pulang ke rumah? Apa maksudmu? Lika sudah kembali ke rumahnya tuh! Papa rasa, tak perlu kau cari dia lagi” ucap Bastian yang kemudian menutup panggilan begitu saja.


__ADS_2