
Di Luar sana ada yang rela menunggu dengan sabar, hanya demi sebuah kabar. Dan di sini, ada yang kehilangan kesabaran, bahkan saat tengah bersama.
Orang itu tidak lain adalah Arjuna, ia merangkul sang istri sambil terus mengecupnya, gairah untuk mencumbu sang istri membuatnya lupa daratan.
“ kak jangan seperti ini, kita sedang ada di tempat umum” Lika memberontak pada perlakuan sang suami, bukan karna tak suka, ia hanya merasa malu karna terus di perhatikan.
Arjuna menghela nafas panjang saat terpaksa menuruti permintaan sang istri, sang presdir tampan itu tak mengerti, kenapa istrinya begitu peduli dengan tatapan orang lain terhadap kemesraan mereka.
“ kau tunggu di sini! Aku akan memesan kamar untuk kita” ucap Arjuna seraya mencolek dagu sang istri,
Lika duduk di sofa ruang tunggu terbuka, ia memainkan ponsel agar tidak jenuh saat menunggu sang suami.
Sementara Arjuna mendatangi resepsionis untuk memesan kamar.
Ada tiga resepsionis yang berjaga kala itu. Ida, Nita dan Cindy, mereka histeris saat melihat seorang pria tampan berjalan mendekati meja resepsionis.
“ Lihat pria itu! Dia sangat tampan” ucap Ida
“ kau benar Ida, wajahnya tampak mulus seperti pantat bayi” seru Nita
“ sudah hentikan teman-teman, dia sudah semakin mendekat” sahut Cindy
“ Apa ada kamar kosong?” ucap Arjuna
'suaranya merdu ya!' ucap Ida melalui tatapan mata, dan dibalas kedipan oleh Nita sebagai tanda setuju dengan pendapat itu.
“ ada tuan! Mau tipe kamar apa?” jawab pegawai resepsionis bernama Cindy diiringi tanya, senyumnya mereka, ia seperti mendapat sebuah keberuntungan karna melayani pria setampan Arjuna.
“ Golden pasturi” jawab Arjuna sambil tersenyum, pria itu pun melirik sang istri yang tengah menunggunya.
‘ woww... Dia terlihat lebih tampan lagi saat tersenyum, tapi sayang dia sudah menikah, beruntung sekali wanita yang menjadi pasangannya' isi hati Ida, Nita dan Cindy yang selalu kompak jika menyangkut pria tampan.
“ bisa saya lihat kartu identitasnya tuan !” seru Cindy yang tak mendapat respons dari Arjuna.
Ketiga resepsionis itu saling melirik, mereka seolah kembali memiliki pertanyaan dan pemikiran yang sama.
‘Ada apa dengannya?’
'Apa yang dia lihat?’
' ohh... Ternyata dia melihat istrinya'
‘ eh tunggu... Bukankah ini kesempatan yang bagus untuk menyentuh tangannya'
Ida menyenggol lengan Nita, dan Nita menyenggol lengan Cindy, walau Ida dan Nita merasa iri, mereka tetap mendorong Cindy untuk bergegas mengambil kesempatan yang datang itu.
Arjuna langsung menarik tangannya dengan kasar saat merasakan sebuah sentuh, dengan lentang ia berkata “ jangan sentuh sembarangan, saya pria beristri” seraya menatap tak suka pada pegawai di hadapannya itu.
Cindy merasa malu setengah mati, tapi Ida dan Nita diam-diam malah terkekeh pelan mendengar ucapan Arjuna.
“ oh... Maafkan saya tuan, saya tidak bermaksud untuk menggoda tuan, tanpa diberi tahu pun saya sudah tahu tuan adalah pria beristri, karna pria single tidak mungkin memesan kamar golden pasturi” ucap Cindy menjelaskan panjang lebar,
“ Lalu?” Arjuna bertanya seolah tengah menantang lawan bicaranya itu.
__ADS_1
“ saya terpaksa menyentuh tangan tuan, karna tuan mengabaikan saya, bisa kita lanjutkan proses check-in -nya tuan? “ Arjuna mengangguk
“ untuk itu saya membutuhkan data diri anda, boleh saya pinjam KTP -nya tuan? ”
Arjuna meraih dompet di saku jasnya, ia mengeluarkan kartu pengenalnya, dan memberikannya pada pegawai resepsionis itu, sang presdir tampan itu pun kembali menatap sang istri yang tengah menunggunya, Arjuna seperti takut Lika akan menghilang jika tidak dia perhatikan.
‘Arjuna, nama yang sesuai untuk pria tampan sepertinya' batin Cindy memuji.
Ida dan Nita berusaha untuk melihat nama yang tertera dalam kartu Identitas itu, tapi Cindy enggan menunjukkan pada kedua temanya itu, dan di saat yang sama telepon di meja resepsionis itu berdering.
Arjuna sempat menoleh saat mendengar suara telepon berdering, namun ia memilih untuk kembali menatap Lika saja.
Ida mengangkat telepon itu yang ternyata dari pimpinan teratas.
Ida : Hello, dengan Ida di sini, ada yang bisa saya bantu?
Walau tak terlihat Ida tetap tersenyum dengan ramah.
“Berikan teleponnya pada temanmu yang tengah bertugas melayani tamu itu”
Suara dari balik telepon terdengar tak ramah, walau begitu Ida tetap menjawab dengan ramah.
Ida : Baik! Tunggu sebentar ya tuan.
Ida pun menyerahkan teleponnya pada Cindy, dan Cindy pun menerimanya.
“ siapa?”
Cindy dan Nita bertanya lewat tatapan mata, dan Ida menjawab dengan mengedikkan bahu seolah berkata 'entahlah! Aku juga tidak tahu'
Xx: Dengarkan aku Cindy! Jika kau masih ingin bekerja maka jangan berikan kamar pada pria di hadapanmu itu.
Cindy: Maaf tapi ini siapa ya?
Xx: Aku adalah presiden direktur dari grup yang menaungi hotel ini.
Tut... Tut... Tut...
Tanpa ada kejelasan, sambungan telepon itu terputus begitu saja.
Cindy menatap bingung pada pria tampan di hadapannya itu, ia tak tahu apakah ia harus menuruti ucapan pria di telepon itu, atau mengabaikannya.
“ Mohon maafkan saya tuan, dengan berat hati saya tidak bisa memberikan kamar untuk tuan” ucap Cindy, tangannya terulur untuk mengembalikan kartu identitas milik Arjuna
Ida dan Nita menatap Cindy dengan penuh tanya, begitu pun dengan Arjuna.
“ Kenapa begitu?” tanya Arjuna
“ saya mendapat perintah dari atasan saya untuk tidak memberikan kamar pada tuan” jawab Cindy jujur
Ida dan Nita saling melirik seolah bertanya ' siapa atasan yang di maksud oleh Cindy?'
“ Telepon atasanmu, bilang padanya aku akan bayar 3x lipat, dia pasti akan setuju untuk memberikan aku kamar” ucap Arjuna dengan nada memaksa
__ADS_1
Cindy menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia tidak tahu harus menghubungi siapa, gadis itu bahkan tak tahu siapa yang tadi menelepon dan memberikan perintah.
Melihat gelagat rekanya, Ida dan Nita pun mengambil inisiatif untuk menghubungi manajer hotel, dan tak lama sang manajer pun datang.
“ Ada apa ini?” tanya sang manajer hotel yang bernama Dody
Arjuna pun menjelaskan apa yang terjadi. Cindy menjadi tegang karna tatapan sekilas Dody.
” mohon maaf atas ketidaknyamanannya tuan! tapi direktur kami memang melarang kami untuk memberikan kamar pada anda” ucap Dody dengan penuh percaya diri.
Arjuna menghela nafas kasar, di liriknya graffiti nama hotel yang tertera di dinding, simbol yang tak asing pun tertangkap oleh matanya yang indah.
Arjuna pun tersenyum kecut saat bayangan wajah Arsena melintas di pikirannya, dan berkata ‘ karna kau sudah merebut cintaku, aku tidak akan membiarkanmu bercinta di hotel ku’ sambil tersenyum
“ terkutuk kau Arsena” geram Arjuna kesal sambil memukul meja resepsionis, padahal Arjuna hanya membayangkannya saja, tapi itu cukup untuk membuatnya kesal.
Arjuna pun berlalu dan mengajak sang istri untuk pergi dari sana.
“ ayo kita kembali ke kantor sayang” ucap Arjuna, walau tengah kesal ia tetap bicara dengan nada suara yang lembut
“ ada apa? Kita gak jadi check-in?” tanya Lika bingung
“ Sahabatmu itu masih tak bisa menerima hubungan kita, karna itu kita tidak bisa chack-in di sini” jawab Arjuna
“ Arsena bukan orang yang seperti itu”
“ kau membelanya” Arjuna jadi cemburu 8(>_<)8
“ Jangan marah! kita cari hotel lain bagaimana?”
“tidak ada hotel bagus di sekitar sini sayang”
“ kalau tidak salah ada hotel xx kan!”
“ tidak! Itu hotel bintang 5, aku bisa di pecat jadi mantu kalau ayahmu tahu”
“ lalu bagaimana?”
“ kita kembali ke kantor saja, tenang saja! Aku masih bisa menahannya sampai nanti malam”
“ kakak yakin?”
“ tentu saja sayangku, ayo masuk mobil, setidaknya aku ingin berciuman denganmu”
Walau cobaan melanda, cinta dan kemesraan Arjuna dan Lika tetap sama.
Sementara itu di sisi lain, di dalam hotel, di depan meja resepsionis, ada presdir lain yang tengah marah-marah ٩(╬ఠ༬ఠ)و
“ Kau ini bagaimana si? Kau menuruti saja tanpa tahu siapa yang memberi perintah, kau sungguh tidak kompeten Cindy, bagaimana jika yang menelepon tadi bukan aku melainkan koki hotel, atau staff kebersihan, apa kau akan mengusir tamu lain lagi tanpa ragu seperti itu?”
“ mohon ampuni saya tuan muda Ars, tolong jangan pecat saya, tolong berikan saya kesempatan, saya janji! Saya akan berusaha agar kejadian hari ini tidak akan terulang kembali” ucap Cindy memohon
“ baiklah.... Karna kau sudah menjalankan perintahku dengan baik, kali ini akan ku maafkan, tapi tidak untuk lain kali, dan ini berlaku untuk kalian semua, ingat itu!”
__ADS_1
Ternyata Arsena tetap tak merasa senang walau rencananya telah sukses, dalam hatinya ia tetap menggeram kesal ‘Arjuna sialan, berani-beraninya dia mau chack-in di hotelku, heh! Tidak akan kubiarkan, setelah merebut cintaku, dia mau bercinta di tempatku, enak saja!’