Menjadi Pelakor

Menjadi Pelakor
Episode 27 Magic Scanning Struktur Tubuh


__ADS_3

“ kak juna!”


Untuk ke sekian kalinya beni berseru lagi dengan suara setengah berbisik, kesal karna tak kunjung mendapat respon beni pun mencubit kecil lengan arjuna, pria yang tengah berdiri di sisi ranjang itu tampak sibuk dengan lamunannya sendiri.


“Apa si ben?” jawab tanya arjuna seraya mendudukkan diri di atas ranjang, tepat di depan pinggang beni yang masih setengah berbaring itu.


“ lika itu sungguh dokter malik yang selama ini kita carikah?” tanya beni dengan wajah meringis, bukan menahan sakit, melainkan menahan rasa malu atas kebodohannya selama ini.


“ begitulah... Aku juga sama terkejutnya sepertimu, tapi setelah melihatnya melakukan pemeriksaan, dia terlihat berbeda kan!” ucap arjuna dengan senyum yang mereka


“ maksud kakak apa?” tanya beni tak mengerti


“ ya...! Kalau di kantor-kan dia seperti tukang tidur” ucap arjuna, kekehan kecil terdengar di ujung kalimat presdir tampan itu.


Beni menatap heran pada kakak sepupu sekaligus atasannya itu, batinya bertanya dan mengeluh ‘ ada apa dengan kak arjun? Apa dia sudah tergoda oleh wanita itu? Tidak salah memang aku menyebutnya pelakor, dia selalu tebar pesona di depan kak arjun'


Lika menghela nafas panjang, sama seperti dokter boy, ia juga tidak bisa menemukan penyebab kelainan pada tubuh arjuna, padahal sebelumnya ia merasa tidak yakin pada ucapan profesor muda itu, karna menurutnya tidak mungkin seseorang jadi impoten tanpa ada sebabnya.


Mau tidak mau kini lika harus mepercayai ucapan seniornya, setelah membaca berkas laporan pemeriksaan kesehatan berkala milik arjuna, hasilnya sama seperti apa yang seniornya katakan.


“Mari bersiap untuk menggunakan alat magic scanning struktur tubuh itu” seru lika seraya bangkit dari duduknya.


Dokter boy pun mengangguk, kemudian mereka pun pergi ke ruangan alat khusus itu berada, ruangan tempat magic scanning struktur tubuh berada di bagian paling ujung gedung departemen bedah syaraf.


Arjuna dan beni, kedua pria itu tak menyangka bahwa lika amat populer, terbukti di setiap langkahnya, entah itu dokter atau suster yang mereka temui selalu menyapanya dengan ramah, lika bahkan lebih terlihat seperti artis yang menjadi pusat perhatian di sana kala itu.


“ ada apa dokter malik? Kau terlihat tidak bersemangat, apa kau kelelahan?” ucap dokter boy menunjukkan perhatiannya.


Arjuna dan beni saling sikut tak percaya, karna selama ini dokter boy yang mereka kenal terbilang cukup cuek pada makhluk yang di sebut wanita, kecuali istri tentunya.


“ Sebenarnya saya memang malas jika harus kembali menggunakan alat itu, tapi memang tidak ada jalan lain selain menggunakan alat deteksi tubuh itu kan! ” ucap lika dengan diiringi helaan nafas panjang.


“ sebagai seorang dokter harusnya kau tidak mengatakan hal itu, terlebih di depan pasienmu sendiri” ucap beni berkomentar


“ tapi menurutku itu sangat wajar tuan beni, anda akan tahu alasanya jika sudah melihatnya nanti” ucap dokter boy membela

__ADS_1


“ selamat siang dokter malik” sapa kedua dokter yang sudah berada di ruangan itu.


Kedua dokter itu adalah Dr.Arisa anandita M.Psi, seorang magister psikologi terbaik di rumah sakit itu, dan juga Dr.Suderajat Sp.And, seorang dokter spesialis andrologi, kedua dokter itu adalah orang-orang yang membantu pengobatan arjuna selama ini.


“ dokter risa, dokter ajat, apa kabar?” balas sapa lika


“ kabar kami baik” ucap dokter ajat


“ senang rasanya bisa kembali bekerja sama denganmu lagi” ucap dokter rika sumringah


“ udah dulu acara sapa menyapanya, kerja dulu” ucap dokter boy tegas, aura pemimpinnya keluar setiap kali pria itu memberikan intruksi.


Arjuna menatap ngeri pada alat besar di hadapannya, tampak seperti terowongan gelap sebelum di nyalakan, bedanya alat itu berbentuk setengah lingkaran di bagian luar, dan ada lobang bulat sempurna di bagian tengahnya, jantung arjuna kembali berdebar kencang, ia merasa gugup karna alat itu berbeda dengan alat rontgen yang sebelumnya ia temui.


Ruangan rontgen ini berbeda dengan ruangan rontgen lain, jika di ruangan lain alat dan komputer berada di ruangan terpisah, di sini komputer pendeteksinya justru tertempel di dinding alat sebelah kanan yang luarnya berbentuk setengah lingkaran itu, dan pengendali inti ada di bagian depan, tepat di samping terowongan.


Lika berdiri di depan alat itu, ia mulai mengaktifkan alat magic scanning struktur tubuh, lalu menekan tombol dan sebuah laci panjang yang dilapisi kasur tipis pun keluar dari dalam terowongan.


Arjuna yang sempat pergi untuk mengganti pakaian kini telah kembali, terowongan yang semula gelap kini sudah di terangi cahaya lampu, presdir tampan itu pun naik ke tempat tidurnya.


Beni terkekeh saat memperhatikan proses itu “ seperti tengah menyetel dvd player tahun 2000-an saja” gumamnya pelan


“ kau siap?” tanya lika pada dokter risa yang sudah stanby di depan layar, dokter itu pun mengangguk.


Sebuah suara desingan mesin terdengar setelah lika menekan tombol pemindaian, pertanda bahwa alat itu mulai bekerja, asap putih mengepul menyelimuti tubuh arjuna, presdir tampan itu terkejut saat merasakan sensasi dingin dari kabut asap itu.



{contoh informasi layar dari alat itu}


Dokter rika fokus melihat tabel di layar komputer, sementara tangannya sibuk mencatat hasil dari pemindaian gelombang otak arjuna.


Dokter boy mengambil alih kendali tombol utama, sementara lika berpindah tempat, bersiap di depan layar dengan memegang alat tulisnya, tak lama gambar struktur tubuh pun mulai bermunculan.


__ADS_1




Setelah menampilkan beberapa gambar, layar itu beralih menampilkan deretan informasi.




{ini hanya contoh ya! }


Lika pun memulai aksinya, mencatat informasi berpacu dengan deretan tulisan huruf dan angka yang terus berjalan tanpa henti, seperti alat teleprompter yang digunakan para penyiar berita di televisi.


“ sial! “ gerutu lika kesal seraya melempar bolpoin di tangannya, ia kesal karna tak mampu menulis dengan cepat sampai ketinggalan beberapa informasi, sementara detetan tulisan dan angka terus berjalan tanpa henti.


“ tenanglah dokter malik” ucap dokter risa seraya menepuk pelan bahu lika untuk menenangkannya.


“ aku akan mengulanginya lagi! “ seru dokter boy, profesor muda itu memahami kesulitan yang lika hadapi, karna bahkan dirinya sendiri pun kesulitan jika harus melakukannya.


Ke tiga dokter di sekelilingnya itu mengepalkan tangan, memberi semangat lewat isyarat pada lika, lika pun tersenyum, ia menghela nafas kasar untuk membuang kekesalannya.


Karna informasi itu tidak bisa di ulang, tubuh arjuna pun harus kembali dikeluarkan lalu di masukan kembali, seperti kata beni, proses itu seperti kita tengah menyetel sebuah lagu yang tidak bisa di ulang lewat dvd, harus dikeluarkan dulu kasetnya dan di mulai lagi dari awal.


Lika berkali-kali menghela nafas panjang, ia kembali berkonsentrasi saat deretan informasi kembali tampil di layar, tapi sayang kegagalan kembali menghampirinya, kali ini ia melemparkan semua alat tulisnya ke lantai, kemudian menggeram menumpahkan rasa frustrasinya.


Tubuh arjuna pun kembali di keluarkan, kali ini pria itu mengeluarkan suaranya, ia mengajukan sebuah tanya “ ada apa dengannya?” karna ketika ia menoleh ke samping presdir tampan itu melihat lika meringkuk di lantai seraya menggeram kesal.


“ dokter malik sedikit keteteran, maaf tuan juna, sepertinya kita melakukannya sekali lagi!” ucap dokter boy, arjuna pun mengangguk.


Proses itu kembali terulang, lika melakukan gerakan peregangan sebelum mulai konsentrasi dengan bagiannya, dan setelah lebih dari satu jam akhirnya lika berhasil mencatat semua informasi penting itu, ia pun mengakhiri catatannya dengan menulis tanda titik dengan sebuah senyuman.


“ selesai!” ucap lika kemudian menjatuhkan dirinya di lantai, lika merasa lelah sampai tubuhnya terasa lemas, bahkan rasanya ia malas untuk bangkit.


Para dokter lain yang ada di sana ikut tersenyum lega, rasa tegang menyelimuti saat percobaan ketiga ini, karna jika kali ini gagal mereka harus menunggu hari esok untuk kembali menggunakan alat itu, magic scanning struktur tubuhalat itu tidak bisa di pakai oleh orang yang sama lebih dari tiga kali, laci ranjangnya akan terus keluar seperti dvd yang menolak kaset rusak.

__ADS_1


Tempat tidur dari alat itu kembali di keluarkan, arjuan pun turun dari atas ranjang, lalu dokter boy mematikan daya dari alat tersebut, sementara arjuna kembali mengganti bajunya, para dokter berkumpul di ruang rapat untuk membahas hasil pemeriksaan yang di temukan melalui alat itu.


__ADS_2