Menjadi Pelakor

Menjadi Pelakor
Episode 29. Rasa yang tak biasa


__ADS_3

“ baiklah dokter malik, mulai sekarang tuan arjuna adalah pasienmu, aku menyerahkan tanggung jawab perawatannya padamu, meski begitu aku akan ada untung membantu saat kau membutuhkannya, tolong lakukan yang terbaik oke!”


Lika hanya mengangguk pelan, dan setelah mengatakah itu dokter boy pun ikut pergi meninggalkan arjuna dan lika berdua di sana.


Lika menghela nafas kasar, ini benar-benar di luar rencananya, ia memang berniat membantu, tapi hanya sebatas konsultan bagi dokter yang menangani arjuna saja, bukan seperti sekarang ini, mendapatkan tanggung jawab untuk menyembuhkan arjuna dalam kondisi yang tak memungkinkannya bergerak secara bebas, terlebih dalam pengambilan tindakan secara medis.


Jika dulu mungkin lika akan menerima tanggung jawab itu dengan senang hati, sebagai seseorang yang bergelar dokter serta memiliki lisensi tentunya, tapi sekarang tanggung jawab itu terasa memberatkannya, karna jangankan lisensi, gelar dokternya pun sudah di cabut paksa darinya.


“ Jangan terlalu banyak berpikir lika, aku tahu kau mungkin merasa kesulitan merawatku, terlebih karna kau sekarang bukan lagi seorang dokter, tapi kau bisa merawatku demi kemanusiaan kan! Dan ya! Aku tidak masalah walau kau melakukannya sebagai sekretarisku” ucap arjuna yang kala itu diam-diam memperhatikan lika saat wanita itu tengah melamun.


Lika kemudian menatap arjuna dengan lekat, ia tersenyum kemudian bertanya “ apa kakak yakin dengan ucapan kakak barusan?” senyumnya berubah setelah menanyakan hal itu.


Arjuna pun mengangguk, ia juga memberikan senyum termanisnya, dan dengan tulus menyemangati sang mantan dokter cantik itu.


Baru satu bulan berlalu setelah hari itu, tapi kini arjuna sudah menyesali ucapannya sendiri, presdir tampan itu tampak tengah mengeluh pada lika.


“ lagi... Astaga lika,,, sampai kapan aku harus mengonsumsi teh yang baunya sudah seperti air comberan itu” keluh arjuan seraya menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.


“ besok kita akan ke rumah sakit untuk kembali memeriksa kondisi tubuhmu, jawaban dari pertanyaan itu akan ditentukan besok” jawab lika sambil tersenyum dengan begitu manis.


Selama sebulan belakangan ini, lika terus mengontrol semua makanan dan minuman yang masuk ke tubuh arjuna, ia sama sekali tidak memberikan tindakan lain selain mengubah pola hidup arjuna, dan memberikan ramuan herba.


Satu bulan lalu saat lika dan beberapa tim medis rumah sakit mengecek kandungan obat yang selama ini arjuna konsumsi, ia mendapati sebuah fakta mencengangkan, karna ternyata antibiotik dan obat hormon justru memaksimalkan khasiat dari bahan kimia yang dilansir dapat merusak syaraf antara otak dan ***********.


Karena hal itu pulalah pihak rumah sakit angkat tangan dan membiarkan lika mengobati arjuna dengan caranya, mereka hanya memberi akses pada lika untuk menggunakan alat medis di sana.


Lika pun pamit pergi setelah memastikan pria itu menghabiskan ramuan yang ia racik sendiri itu.


“ lika tunggu!” seru beni yang mengejar lika keluar ruangan


“ iya pak ben? “ tanya lika


“ nanti siang kami ada meeting di luar, kamu juga ikut ya!” ucap beni dengan senyum ramahnya, lika hanya mengangguk kemudian berlalu.

__ADS_1


Jika ada yang berubah dari waktu yang lalu? Maka jawabannya adalah beni, pria berkacamata itu melenyapkan kebenciannya pada lika, tidak hanya sikapnya yang berubah ramah, pria itu pun sedikit menunjukkan perhatiannya.


Setiap pukul 10 siang beni akan memesankan ice kopi untuk lika, meski pun lika sendiri yang harus mengambilnya dari driver online yang mengantarkan minuman favoritnya itu, setidaknya lika harus bersyukur karna beni membayar minuman itu dari uang pribadinya sendiri bukan!


Setelah berkutat dengan laptopnya selama beberapa waktu, lika kembali bersiap untuk pergi meninggalkan kantor, ia hendak mengambil setelan jas untuk sang presdir, baju itu akan dikenakan arjuna saat meeting di luar siang nanti.


Lika berjalan dengan sedikit tergesa-gesa, ia sudah telat lebih dari 10 menit dari waktu janjinya dengan pihak butik, gadis itu bahkan terlihat tidak sabar-an saat menekan tombol lift.


Tak lama pintu lift itu pun terbuka, lika pun masuk ke dalam lift, namun beberapa saat kemudian ia merasakan sebuah tangan yang tertaut dalam genggamannya, menarik lika tepat sebelum pintu lift tertutup kembali.


“ Apa-apaan si?” tanya lika kesal, suaranya begitu lentang, tatapannya tajam menatap ke arah layla.


Lika bukanya tidak melihat saat layla keluar dari lift bersamaan dengan dirinya yang hendak masuk, tapi ia memilih untuk mengabaikan wanita itu karna selama sebulan ini layla selalu menolak untuk diajak bicara, padahal lika hanya ingin memberi interupsi untuk mempercepat kesembuhan arjuna.


“ Bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu padamu?” ucap layla, kekesalannya terdengar jelas dari nada bicaranya.


“ aku sedang buru-buru mba, mba temui saja suami mba dulu, nanti kita bicara setelah aku kembali, aku tidak akan pergi lama” ucap lika memberi sedikit pengertian


“ memang kau mau ke mana?” tanya layla culas


Lika kemudian membelakangi layla, ia kembali menekan tombol lift dan tak lama pintu lift pun kembali terbuka, lika masuk ke dalam lift dan saat ia berbalik wajah kesal layla terlihat dengan jelas, tatapan matanya yang tajam pun terus menghunus sampai pintu lift kembali.


Layla hanya bisa mendengus kesal saat harus membiarkan lika pergi, dengan wajah cemberut ia melangkahkan kakinya menuju ruangan sang suami.


Layla berjalan dengan sangat angkuh, wanita itu menerobos masuk ke ruangan arjuna setelah mengabaikan sapaan dari juli.


“ sombongnya!” ucap july


July sengaja mengatakan itu dengan suara sedikit kencang agar wanita itu mendengarnya, alhasil layla pun jadi membanting pintu setelah mendengar hinaan itu.


“ pelan-pelan saja layla!” tegur arjuna, pria itu terlonjak kaget saat mendengar suara pintu.


“ para pegawaimu itu menyebalkan juna, mereka tidak menghormatiku sebagai istri dari pimpinan perusahaan, setidaknya potong gajih mereka sebagai teguran” keluh layla yang kemudian mendudukkan diri di sofa

__ADS_1


Arjuna bangkit dari kursi kebesarannya, ia menghampiri sang istri, presdir tampan itu pun duduk di samping sang istri yang tengah menekuk wajahnya.


“ siapa yang kau maksud itu? ” tanya arjuna seraya meletakan tangannya di bawah dagu, mengangkat wajah lalya.


“Lupakan saja soal hal itu, aku tidak mau jadi orang yang jahat dengan melakukan hal itu” ucap layla kemudian


“ sayang....!”


Layla memanggil suaminya dengan suara yang mesra, tangannya pun mulai memeluk lengan sang suami, bergelayut manja dengan senyum yang mereka.


Arjuna selalu merasa senang setiap layla bersikap manja padanya, senyumnya mereka dengan begitu manis.


“ Kenapa semuanya jadi seperti ini sayang?” tanya layla dengan suara yang sendu.


“ Bukankah semuanya terasa sangat indah sebelum kita menikah” ucap layla sendu, wanita itu mulai menitikkan air matanya, entah itu asli atau palsu.


Arjuna melepaskan tanganya yang di peluk oleh sang istri, dengan tangan itu ia kemudian membawa layla ke dalam pelukannya.


“ kau ingat sayang, dulu kita pertama kali bertemu di bar, malam itu aku memakai ruangan kosong untuk melaksanakan shalat tahajud, lalu kau masuk dan mengira aku lah yang akan menghangatkan ranjang ku “ ucap layla seraya mendongakkan kepala menatap wajah sang suami.


Arjuna tersenyum kala mengingat kenangan itu, bagaimana arjuna bisa lupa, malam itu adalah malam tersial bagi dirinya, keberuntungannya saat itu hanya pertemuan pertamanya dengan layla, wanita yang mengajarinya tentang bagaimana indahnya hidup beragama.


“ sayang!” ucap layla seraya membelai lembut pipi arjuna.


Arjuna menatap lekat wajah sang istri, senyumannya yang manis selalu terpatri dari wajah tampan itu, ada rasa yang tak biasa yang kala itu arjuna rasakan saat melihat belahan dada sang istri dari celah baju yang dikenakannya.


“ L-layla....” panggil arjuna dengan gugup


“Sayang! Kamu percaya kan sama aku?” tanya layla seraya menjauh dari tubuh sang suami,


Layla merogoh sesuatu dari dalam tasnya, lalu memasukkan apa yang telah ia ambil ke dalam mulutnya sendiri kemudian mendorong tubuh arjuna sampai terbaring si sofa.


Beni tiba-tiba datang, ia menarik tangan laiyla sesaat sebelum wanita itu menyatukan bibir dengan suaminya, pria berkacamata itu langsung memukul bagian pundak layla hingga wanita itu memuntahkan sebuah pil dari dalam mulutnya.

__ADS_1


Sepasang suami-istri yang gagal berciuman itu kemudian menatap beni, arjuna menatap beni dengan penuh tanya, dan layla menatap beni dengan penuh amarah, tapi pria berkacamata itu malah menyunggingkan senyuman terbaiknya.


__ADS_2