Menjadi Pelakor

Menjadi Pelakor
Episode 40. Banyak kekurangan


__ADS_3

Lika, arjuna, dan layla berkumpul di ruang keluarga, mereka duduk lesehan di lantai dengan beralaskan permadani, bersantai ria seraya menonton serial televisi dengan di temani camilan buatan umi.


Lika terus memainkan bibirnya, gadis itu menahan diri untuk tidak tertawa melihat pemandangan di hadapannya.


Bukan karna acara televisi yang lucu, melainkan karena melihat layla yang terus bergelayut manja pada arjuna, ia seolah sengaja ingin menunjukkan kemesraan untuk membuat lika cemburu, tapi lucunya raut wajah arjuna justru tampak tersiksa, pria tampan itu sepertinya merasa risih dengan kelakuan layla yang lebih terlihat seperti anak kecil itu.


“ eeemnm.... Mas jun cuapin pai apelnya agi!” pinta layla manja dengan ekspresi wajah so imutnya.


Lika menutup mulutnya, ia sudah tak tahan lagi, tingkah manja layla sungguh membuatnya merasa geli sendiri, gadis itu meraih bantal yang memang tersedia di sana, menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah serta mata yang mulai berkaca-kaca karna sudah tak sanggup menahan tawa.


Andai serial televisi itu tengah memperlihatkan adegan komedi maka sudah dipastikan lika akan melepaskan tawa itu, sayangnya para aktor itu tengah menampilkan adegan sedih, yang bisa gadis itu lakukan hanyalah berusaha untuk tertawa tanpa suara dalam persembunyiannya.


“ iri? Bilang bos!” ucap layla dengan sinis saat melihat apa yang lika lakukan.


Layla berpikir lika sedang menahan tangisnya karna terbakar cemburu, sebelum mengambil bantal layla sempat memperhatikan wajah lika yang merah seperti menahan amarah, dan mata lika yang juga berkaca-kaca.


“ umi sama abi mau ke mana?” tanya arjuna saat melihat kedua orang tua itu hendak melintas


Kala itu umi hendak pergi ke warung untuk membeli sayuran, dan abi yang tidak pernah bisa jauh dari umi tengah mengekorinya.


“ mau beli sayur untuk masak makan siang nak! Kalian mau makan apa?” jawab umi diiringi tanya


“ kalau juna terserah umi saja” ucap arjuna


“ la mau makan ayam kecap umi” sahut layla antusias


“ Nak lika kenapa?” tanya abi saat memperhatikan lika yang menyembunyikan wajah di balik bantal.


Lika menoleh seraya menyeka air matanya yang jatuh, sebelum akhirnya ia mendongak menatap abi dan umi, lalu menyahut “ lika gak apa2”


“ lika mau ikut ke warung sama abi dan umi tidak? Sekalian liat-lihat lingkungan di sini? ” tawar abi kemudian


Lika menoleh menatap arjuna, ia seolah meminta ijin dari pria yang sudah menjadi suaminya itu, gadis itu baru bangkit dari duduknya setelah melihat arjuna menganggukkan kepalanya sebagai pertanda memberinya ijin.


Lika menghela nafas lega setelah keluar dari rumah itu, ia menatap takjub pada keadaan di sekitar pemukiman padat penduduk itu.


Lika yang terbiasa tinggal di dalam benteng, di mana semua orang sibuk dengan pekerjaan mereka, serta lingkungan kompleks perumahan yang sepi tentu merasa asing dengan keadaan di sana.


Ini pertama kalinya lika melihat orang-orang berkumpul di depan rumah seraya bercengkerama, muda-mudi yang berkumpul di pos bermain kartu, dan anak-anak yang bermain berlarian ke sana kemari.


Abi dan umi saling melirik saat melihat lika tersenyum, mereka senang dengan perubahan suasana hati lika, awalnya kedua orang tua itu juga berpikir bahwa lika kesal dan sedih melihat kemesraan layla dan arjuna.

__ADS_1


Sepanjang jalan lika terus mendengar sapaan dari warga sekitar pada abi dan umi, lika sungguh tak menyangka bahwa orang-orang begitu menghormati orang tua layla, lika jadi teringat dengan ayahnya sendiri.


“ nak lika mau makan apa?” tanya umi ketika tengah memilih sayuran


Kini mereka telah sampai di warung sederhana yang menjual sayur, sembako dan jajanan anak-anak.


“ apa aja umi” jawab lika


“ wanita itu siapa ustazah?” tanya sang pemilik warung saat hendak menghitung belanjaan umi


“ saudara jauh” jawab umi singkat


“Cantik ya!” ucap seorang pemuda yang diam-diam mengamati


“ dia sudah bersuami” sahut abi


“ sayang sekali, padahal saya masih jomlo loh kak!”


“ lebih tepatnya jomlo yang sudah pernah menikah!” sahut umi menimpali


Lika tersenyum mendengar obrolan umi dan abi bersama orang-orang yang kala itu tengah berada di warung.


Semua orang menatap lika dengan penuh tanya, lika yang terkejut hanya terdiam, ia mengenali wajah anak itu, tapi jujur lika lupa dengan namanya.


“ bayu lepaskan nak! Kau tidak boleh seperti itu, tidak sopan” ucap abi seraya menarik tangan anak itu menjauh


“ loh bu dokter ada di sini?” ibu dari anak itu menghampiri


“ bu lilis kenal sama nak lika?” tanya umi


“ iya ustazah! Dokter malik ini adalah dokter yang membantu operasi anak saya setahun yang lalu” terangnya


“ ibu bu dokter sepertinya tidak mengingat bayu” ucap anak itu


“ itu wajar sayang! Yang bu dokter obati kan bukan Cuma bayu” ucap ibu bayu memberi pengertian


Lika hanya bisa tersenyum, ia sebenarnya tidak enak pada anak yang tampak murung itu.


“ wah... Hebat ya! Ternyata ustazah punya saudara yang jadi doker” ucap pemilik warung


“ beruntung banget ya yang jadi suaminya, sudah punya istri cantik, dokter pula” seru seorang pemuda yang tadi menggoda lika.

__ADS_1


Senyum di wajah umi menghilang setelah mendengar hal itu, ia bergegas mengajak lika pulang, jujur saja umi jadi berkecil hati setelah mendengar hal itu, pasalnya putrinya yang merupakan istri pertama jadi terlihat tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan lika.


“ lika bantu ya umi”ucap lika ketika mereka sudah tiba di rumah dan umi sudah bersiap untuk memasak makan siang


Keramahan umi menghilang, wanita berjilbab itu hanya mengangguk pelan, ia menghela nafas panjang saat melihat lika begitu terampil dalam menggunakan alat dapur, semakin gusar saja hati umi.


Umi hampir menangis saat mencicipi masakan lika yang begitu lezat, sebuah angan pun hadir dalam kepalanya ‘andai layla bisa seperti lika, nak juna pasti tidak akan punya alasan untuk menikahi wanita lain'


“ biarkan saja nak lika, biar layla yang mencuci piring” ucap umi ketika mereka tengah membereskan meja usai menyantap makan siang.


“ kenapa aku umi, layla lagi malas cuci piring, umi saja lah” sahut layla


“ gak papa umi, biar lika yang cuci piring, umi istriahat aja!” ucap lika


Umi pun berlari ke dalam kamar, ia menangisi perbedaan antara lika dan putrinya layla.


“ ada apa umi?” tanya abi yang menyusul masuk ke dalam kamar


“ bi! Nak lika itu termasuk istri idaman bukan?” ucap umi di sela tangisnya


“ umi... Abi kan udah sering bilang, jangan pernah merasa iri karna putri kita tak sama seperti putri orang lain, tak baik mi” ucap abi


Abi memelik umi seraya menepuk bahunya, mencoba menenangkan wanita yang sudah menjadi istrinya lebih dari 35 tahun itu, wanitanya itu selalu saja menangis saat melihat putri orang lain lebih baik dari putri mereka.


“ jun aku mau menginap” tutur layla, wanita itu duduk sambil bersandar di dada bidang suaminya.


Arjuna menghela nafas panjang, ia tahu layla tidak sedang meminta ijin, tapi sedang memaksakan kehendaknya.


“ kalau aku menginap di sini lika akan sendirian, kasihan dia” ucap arjuna mencoba memberi pengertian


“ aku gak mau tahu! Gak peduli juga! Kalau kamu memang gak mau dia sendirian ya kirim saja dia ke rumah orang tuanya”


“ gak bisa gitu dong la!”


“Eemmm” layla mencebikkan bibir memasang wajah mengambeknya.


Wanita itu juga menekan dada bidang arjuna sekuat tenaga sampai pria itu terbatuk karna merasa sesak, lika yang tak tega melihat suaminya di perlakukan semena-mena pun berseru “ kakak nginep aja di sini! Lika akan pulang ke rumah, kangen sama ayah”


“ ya udah! Aku anterin lika pulang dulu, nanti balik lagi” ucap arjuna yang hendak bangkit, namun layla menahannya seraya berkata “ suruh beni jemput saja.


Menghabiskan waktu empat jam di rumah itu membuat lika menilai layla sebagai wanita yang memiliki banyak kekurangan, suka berbohong, suka seenaknya, pemaksa dan juga malas.

__ADS_1


__ADS_2