
Sebuah kapal pesiar mengapung di tengah perairan, belum genap dua minggu ia jauh dari pantai, berlayar mengikuti arah angin yang berembus kencang.
Tiba-tiba saja, langit yang cerah menjadi gelap, rintik hujan pun mulai turun dan perlahan menjadi lebat, badai yang datang membuat laju kapal jadi tak terkendali, sang kapten pun mengambil alih kendali, dan para staf menginterupsi orang-orang untuk tidak berada di area luar.
Apakah terjadi kepanikan di kapal itu?
Oh tentu tidak, semua itu berkat keberadaan pria genius bernama Arsena Aditya Lake, pria yang mengembangkan sebuah kapal pesiar yang bisa berevolusi menjadi kapal selam, dan mereka menggantungkan keselamatan pada kepercayaannya pada pria yang masih berumur 25thn itu.
Para wanita menikmati acara tea party di salah satu ballroom. Sementara para pria disibukkan dengan beberapa pertandingan, dari mulai pertandingan oleh raga, sampai judi para mafia, semua tampak bersenang-senang.
Tanpa mereka ketahui, kapten dan sebagian dari para staf kapal tengah di landa kepanikkan, sang kapten bahkan berlari tergesa-gesa menuju ruang kerja sang pemimpin, ruangan di mana Arsena dan Arjuna berbagi tempat untuk saling mengerjakan pekerjaan masing-masing.
“ pak ada masalah” lapor sang kapten
“ ada masalah apa?” Arsena yang bertanya
“ di arah depan kapal ada sejumlab ikan paus yang tengah berkumpul, tampaknya ada paus yang sedang kawin”
Mendengar kara “kawin” dari sang kapet membuat Arsena jengah, ia pun menghela nafas lalu berkata “ kenapa semuanya harus bereproduksi sekarang si?”
Pertanyaan itu juga merupakan sindiran untuk Arjuna, pasalnya si presdir tampan itu lebih sering bekerja di kamar ketimbang bekerja di ruang kerja yang telah disiapkan bersamanya.
“ Jangan mengajakku bertengkar sekarang bocil, ini bukan saat yang tepat, kita harus memikirkan cara untuk mengatasi hal ini” ucap Arjuna
Arsena kembali menghela nafas, ia tahu betul jika menurunkan jangkar maka waktu berlabuh pasti akan terundur, dan akan sangat berbahaya jika berlayar keluar dari jalur hanya untuk melewati sekumpulan ikan paus yang tengah berpesta itu.
Arjuna berusaha untuk mencari jalan keluar, ia berpikir keras bagaimana caranya untuk keluar dari masalah itu.
“ Aku punya ide” ucap Arjuna penuh semangat, matanya berbinar dengan penuh keyakinan
“ katakan!” seru Arsena menatap dengan serius,
Sang kapten pun memasang telinganya, ia bersikap serius dalam menanggapi ucapan Arjuna.
“ begini saja! Karna paus itu sedang kawin jadi bagaimana kalau kita biarkan saja, semakin lama kita berlayar makan semakin lama pula bulan madu ku, hahahaha”
Arsena dan sang kapten menggeram kesal saat Arjuna tertawa dengan begitu renyah, sang presdir tampan sudah keracunan cinta, ia jadi tak bisa jauh-jauh dari Lika dalam waktu yang lama.
__ADS_1
“ pikirkan tentang bahan bakar kita juga senior” ucap Arsena kesal
“ Apa kecemburuan membuat kejeniusan tuan muda Arsena berkurang? Itu hal yang mudah, suruh saja pamanmu untuk terbang kemari, seluruh biayanya biar aku yang tanggung jika kau sudah tak mampu”
Arsena semakin kesal mendengar ucapan Arjuna, ia jadi merasa di remehkan, sambil menggebrak meja ia pun memberi perintah pada sang kapten “ lakukan seperti apa katanya, turunkan jangkar nya sekarang juga”
Sang kapten memberi hormat sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.
Sadar dengan keadaan, Arjuna pun memilih menghindari amarah sang tuan muda, sambil bersiul ia bangkit dari duduknya.
“ kau mau ke mana?” tanya Arsena
“ Aku sedang tidak bisa berpikir, jadi sepertinya aku harus mengisi dayaku” jawab Arjuna dengan santai kemudian berlalu.
Arsena semakin kesal karna tahu ke mana tujuan Arjuna, sang presdir tampan itu sudah pasti akan menghampiri Lika, sudah lebih dari seminggu Arjuna terus menempel pada istrinya itu.
Jika saja Arsena tidak menegur Lika, sudah pasti Arjuna tidak akan mau bekerja, dan pada akhirnya pria genius itu harus menahan kekesalan dan rasa cemburunya.
“ aku sudah benar-benar lelah” jeritnya frustrasi
Sementara itu, di dalam sebuah ballroom, di mana pesta minum teh tengah digelar, Lika mendadak jadi gusar, sebuah firasat buruk tiba-tiba menghampiri.
Lika menghela nafas kasar saat melihat suaminya berdiri di ambang pintu, sungguh Lika benar-benar tak tahu lagi harus berbuat apa, ia memang senang karna Arjuna mau bersamanya, tapi jika ia jadi tak punya waktu dengan yang lain, bukankah itu sebuah masalah?
“ aku permisi” pamit Lika pada yang lain,
Lika pun menghampiri sang suami dan mengajaknya pergi dari sana, ia menggandeng tangan Arjuna dengan begitu mesra, lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang suami sambil terus melangkah.
“ Maafkan aku kak, aku bukanya tidak suka dekat-dekat dengan kakak, tapi jika kakak terus menempel padaku seperti lintah, aku...
Ucapan Lika terhenti karna Arjuna menghentikan langkahnya, presdir tampan itu lalu berkata “ Maaf kan aku jika kau tak suka, tapi mau bagaimana lagi, aku selalu merasa rindu dan tak ingin jauh darimu”
Rasa kesal itu pun hilang, wajah yang tampan dan ucapan mesra sang suami membuat Lika kembali luluh, ia tak lagi menapakkan kakinya di tanah, karna sang suami mengangkatnya, menggendongnya sampai ke kamar, kemesraan pun kembali terulah, berawal dari ciuman dan diakhiri dengan olah raga.
Walau sudah di tegur, Arjuna hanya selalu pergi menjauh selama satu jam, setelahnya ia akan datang lagi, terkadang hanya untuk ciuman lalu berbaring sambil memeluk, terkadang sambil olah raga.
Arjuna terus menempel pada sang istri, sudah seperti lintah yang terus menghisap darah, seperti itu pula Arjuna, sang presdir tampan itu tak membiarkan istrinya jauh-jauh darinya terlalu lama.
__ADS_1
Bagaimana dengan pekerjaannya?
Sudah aku bilang, Arjuna sangat hebat jika dalam hal pekerjaan, ia bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, walau kau menumpuk berkas keuangan setinggi gunung, Arjuna akan bisa mendakinya dengan cepat, tentu saja dengan catatan ‘Lika tak hilang dari pandangannya'
Walau mata dan pikirannya fokus pada pekerjaan, Arjuna akan bisa menyadari jika sang istri mulai menjauh darinya, dan saat ancaman itu datang, Arjuna akan bekerja sambil menangku sang istri tercinta.
“ kakak harus pergi bekerja, jika kakak seperti ini terus kasihan beni” ucap Lika yang masih setia menikmati pelukan sang suami sambil berbaring.
“ Jangan pikirkan beni sayang, aku cemburu mendengarnya, pikirkan aku saja, carilah pose baru agar kau tidak bosan saat bercita denganku”
“ kenapa begitu? Jika kakak bosan tinggal libur saja”
“ kalau aku si tidak akan bosan sayang, kau itu candu bagiku, meski hanya dengan satu pose, aku akan terus mengulanginya lagi dan lagi, aku hanya khawatir kau bosan”
“ kalau aku bosan apa kakak akan berhenti?”
“ berhenti? Oh tentu tidak! Walau kau merasa bosan aku akan tetap melahapmu, jika kau malas kau hanya perlu diam dan membiarkan aku yang bekerja”
“ curang!”
“hahahaha..... “
Tawa renyah di tengah kemesraan itu kembali terdengar, dan kembali membuat Arsena cemburu.
Pria genius itu terus tersiksa karna Lika dan Arjuna, pasalnya mereka tak lagi berada di kamar keluarga, mereka memilih pindah ke kamar single yang berada tepat di samping ruang kerja.
Dan setelah mereka pindah, hampir setiap hari Arsena mendengar lagu kemesraan penuh cinta yang hanya terdiri hanya dari dua huruf, lagu yang terdengar seperti helaan nafas, namun mendayu penuh nada mengikuti irama dan ritme.
“ Ah...”
Lirik itu sangat-sangat-sangat mengesalkan, tak hanya mengusik Arsena, tapi orang-orang yang tak mencintai Lika pun bisa ikut terbakar, contohnya adalah Beni dan juga Sky, mereka sampai menjejal telinga mereka saat lagu itu di putar, tak ingin hangus karna tak memiliki pelampiasan.
Rupa-rupanya kemesraan itu berada di atas penderitaan orang lain.
Salahkah?
Tentu! Yang salah adalah dinding, kenapa ia tak bisa meredam suara.
__ADS_1
Dan salahkan pula arsitektur kapal pesiar itu, ia merealisasikan inovasi kapal pesiar yang bisa berubah jadi kapal selam, tapi tidak mendesain kamar dengan peredam suara.