Menjadi Pelakor

Menjadi Pelakor
Episode 88


__ADS_3

Tunggu sebentar!


Kenapa aku berada di sini?


Seorang dokter muda tengah dilanda kebingungan, sebab ketika ia membuka mata, dirinya sudah berada di dalam ruang rapat, duduk bersama saling berdampingan dengan para direktur dari rumah sakit lain.


Dokter Boy memaksa otaknya bekerja keras, mengingat apa yang telah terjadi hingga membuatnya berada di sana.


Seingatnya, ia baru hendak memejamkan mata, namun sang sekertaris tiba-tiba menerobos ke dalam ruangannya, membatalkan rencananya untuk istirahat sejenak.


" ah... ya! Semua ini gara-gara dia?" Gumamnya dengan kesal


Ingatannya membawa dokter muda itu pada peristiwa di mana sang sekertaris memberikan sebuah kabar mengerikan, kabar bahwa seorang pengusaha telah mengakuisisi perusahan farmasi, dan hendak menghentikan pasokan obat-obatan pada rumah sakit di wilayah ibu kota, yang berati itu termasuk rumah sakitnya juga, setelah itu ingatannya terputus begitu saja, mungkin saat itu tubuhnya terasa lelah dan matanya terasa berat, sehingga ia tidak mendengar dengan jelas nama pengusaha itu.


Dokter Boy bahkan tidak ingat bagaimana dirinya bisa sampai dan duduk di tengah ruang besar itu, tapi ia yakin bahwa dirinya pasti langsung terlelap begitu mendudukkan diri di kursi empuk ini.


" Dia benar-benar keterlaluan? Kita sudah menunggu selama tiga jam, tapi dia tak kunjung terlihat" keluh seorang dokter yang duduk di sebrang Boy.


" dia benar-benar pemuda yang tidak tahu sopan santun" seru dokter yang lainnya.


" Benarkah! "


Seruan itu membuat tubuh dokter Boy menegang, ia menoleh kemudian menatap tak percaya pada pria yang masih berdiri di ambang pintu.


" Aku tidak pernah meminta kalian menemui apalagi menungguku, kalian sendiri yang datang ke kantorku" ucap Arjuna seraya berjalan masuk


Arjuna meletakan tanganya di meja, menatap satu-persatu pada semua orang yang berada di sana, lalu berkata " apa kalian tahu? yang kalian lakukan ini jauh lebih tidak sopan, datang tanpa undangan dan mengacaukan jam kerja orang lain, jadwalku jadi berantakan karna harus mengurusi kalian, merepotkan saja" kemudian duduk di kursinya dengan membanting tubuh.


" Arjuna!" Gumam Boy sambil menampakan senyum tak percaya


" iya! Aku kenapa dokter Boy?"


Boy membuang nafas kesalnya, lalu mengajukan sebuah tanya " Jadi si pengusaha bereng**sek itu kau?" dengan suara yang lantang seraya berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Tatapan semua orang otomatis mengarah pada dokter Boy, ada yang menatap kagum, ada pula yang menatap kasian akan resiko yang akan di terimanya, tak terkecuali dengan Arjuna, presdir tampan itu melayangkan tatapan heran dengan dahi yang mengkerut.


Arjuna berdeham lalu berkata " jika yang kau sebut pengusaha bereng**sek itu adalah orang yang membeli perusahaan ini, maka jawabannya adalah iya, perusahaan farmasi ini sudah aku ambil alih"


Dokter Boy menjatuhkan bokongnya untuk kembali duduk, ia menghela nafas panjang untuk menetralisir rasa kesalnya, sampai kemudian ia kembali mengajukan sebuah tanya lagi "Apa kau serius akan menghentikan pasokan obat-obatan ke rumah di wilayah ibu kota? "


" keseriusan ku tergantung pada kalian" ucap Arjuna kemudian tersenyum iblis


Beberapa dokter mengusap tengkuk mereka saat melihat senyum itu, walau usia mereka lebih tua, entah kenapa mereka merasa takut pada aura yang terpancar dari tubuh presdir tampan itu.


Arjuna menoleh menatap July yang kini tengah mendampingi dirinya, pria itu memberikan perintah lewat sebuah anggukan kepala. July mengangguk paham, ia pun kemudian membagikan beberapa map di tanganya dengan sama rata, meletakan di hadapan para dokter yang menjabat sebagai direktur di berbagai rumah sakit yang ada di ibu kota.


" Bacalah!" serunya dengan santai


Arjuna menyandarkan tubuhnya menunggu mereka membaca kontrak kerjasama baru yang ia ajukan, sambil memperhatikan satu persatu dokter yang ada di ruangan itu, mimik wajah mereka terlihat frustasi setelah membaca dokumen itu, tapi tampaknya tidak ada yang berani mengajukan protes atau bertanya pada Arjuna.


" Jika kalian masih membutuhkan suplai obat-obatan dari perusahaan kami, silahkan tanda tangani dokumen itu" ucap July seraya memperlihatkan senyum manis.


Para dokter itu saling melirik, saling sikut, meminta pendapat satu sama lainnya, padahal bisanya mereka saling bersaing satu sama lain, masalah yang terjadi menyatukan para dokter berbeda generasi itu, padahal masalah itu hanyalah sebuah isu yang sengaja dibuat untuk mengundang mereka, dan memaksa mereka untuk menandatangani kontrak kerja sama baru.


Arjuna yang merasa tak memiliki kepentingan lagi pun memilih pamit, dan meninggalkan ruangan itu lebih dulu, ia amat puas setelah mendapatkan apa yang ia inginkan.


Sementara itu, ruangan yang awalnya hening jadi kisruh setelah kepergiannya (Arjuna), para dokter itu meributkan satu poin dalam perjanjian yang baru saja mereka tanda tangani.


" aku tidak mengerti kenapa ada nama dokter Malik dalam kontrak kerjasama yang baru? "


" aku pun sama, sebenarnya tanpa di minta pun aku akan menerima dokter Malika jika ia memang kembali ke dunia medis"


" rumah sakit ku pun akan senang jika dokter Malika mau bergabung bersama kami"


" jika itu dokter Malik tanpa diminta pun aku akan menyediakan posisi terbaik untuknya "


Para dokter itu pun bicara saling bersahutan, dokter boy yang semua diam pun bersua " lalu apa yang membuat kalian ragu untuk menandatangani kontrak itu?"

__ADS_1


" Masalahnya kita tidak bisa merebut dokter Malik dari rumah sakit negara"


" aku juga takut jika harus bersinggungan dengan pejabat pemerintahan, mereka itu sangat licik"


" kekhawatiran yang tidak penting" sahut Boy seraya tersenyum


Boy memberikan kode agar para dokter berbeda usia itu mendekat ke arahnya, dan mereka menurut begitu saja, mendekatkan telinga di depan wajah Boy, untuk mendengarkan apa yang hendak dokter muda itu sampaikan.


" biar ku beritahu sebuah rahasia!" serunya dengan suara setengah berbisik


" dokter Malik itu istri dari tuan Arjuna" ucap Boy lagi masih dengan suara yang setengah berbisik.


Di saat beberapa orang menimbang untuk percaya atau tidak, salah satu dari mereka berseru" hah....! Itu tidak mungkin"


" iya benar! Jika dokter Malik sudah menikah pasti beritanya sudah tersebar, apalagi jika suaminya adalah presdir Arjuna"


" ya sudah jika kalian tidak percaya!" ucap Boy seraya bangkit dari duduknya, pria itu memilih pergi meninggalkan mereka yang masih saja berdiskusi. Boy memilih untuk menemui Arjuna untuk menuntaskan rasa penasarannya.


" Apa mereka sudah pulang?" tanya Arjuna pada sang sekertaris.


Presdir tampan itu kini sudah duduk manis di kursi kebesarannya.


" belum! Mereka masih berdiskusi"


Boy yang menjawab tanya itu seraya berdiri di ambang pintu.


Arjuna berdecak lalu berkata " kenapa mereka berdiskusi di ruang rapat perusahaan ku, tidak tahu diri sekali"


Boy mengetuk pintu yang terbuka dan meminta izin sebelum melangkah masuk, Arjuna hanya mengangguk sebagai tanda persetujuan.


July yang merasa tak ada kepentingan pun memilih undur diri dan meningalkan dua pria itu.


Arjuna mengajak boy untuk duduk di sofa tepat setelah melihat July menutup pintu, ia menawarkan minum pada Boy dengan wajah datar. namun kemudian tersenyum saat mendengar nama sang pujaan hatinya di sebut.

__ADS_1


" Malika....!


__ADS_2