
Arjuna tampak seperti orang bodoh, presdir tampan itu berdiri di tengah jalan sambil memperhatikan rumah-rumah di sekitar kediaman orang tuanya.
Empat rumah di samping kanan dan depan rumah sang ayah tampak kosong tak berpenghuni, sementara di sisi kiri hanya ada tembok benteng yang menjulang setinggi 150 meter, atau setara dengan gedung 37 lantai, ada sebuah pintu kecil dengan lebar 120cm dan tinggi 200cm di sana, tapi apa mungkin ada kehidupan di balik dinding beton setinggi itu.
Niat hati ingin bertemu dengan lika, mengucapkan terima kasih, lalu mengajaknya untuk berangkat ke rumah sakit bersama, sebagai penghormatan karna lika sudah setuju untuk membantu menyembuhkannya.
“ ayah bilang rumah lika sangat dekat, cuma lima langkah dari depan rumah, tapi apa ini?” arjuna menggerutu kesal
Saat sarapan mamah devi berkata “lika akan memeriksa kondisimu hari ini juga, dan akan berangkat dari rumah pukul 8”
Mengingat itu arjuna pun memutuskan untuk menunggu di jalanan yang sangat sepi itu, hingga sebuah motor terlihat mendekat ke arahnya, seorang pria berseragam itu menghentikan motornya tepat di depan arjuna.
“ hi tuan! Sedang apa kau di sini?” tanya sang petugas keamanan
“ saya menunggu teman pak” jawab arjuna dengan senyum ramahnya
Petugas itu malah menatap arjuna dengan penuh kecurigaan.
“ saya putra pak bastian, tuh rumahnya yang di pojok itu” ucap arjuna menjelaskan seraya menunjuk rumah sang ayah
“ ah... Putranya pak bastian toh!” ucap petugas keamanan itu seraya menganggukkan kepala
“ oh ya pak! Kenapa beberapa rumah di sekitar rumah ayah saya tampak kosong dan tak berpenghuni ya? “ arjuna bertanya karna sangat penasaran
“ itu karena kawasan hutan belantara di balik pagar beton ini tuan, menurut rumor yang beredar katanya di sana adalah kerajaan siluman, suara raungan binatang buas kerap terdengar dari balik dinding beton itu, jadi tidak ada yang berani menempati rumah-rumah di sekitar sini, kecuali ayah anda tentunya” ujar petugas keamanan itu menjelaskan
Arjuna hanya mengangguk-anggukkan kepala saja mendengar penuturannya, petugas keamanan itu kemudian pamit untuk melanjutkan tugas patroli paginya.
Setelah melihat petugas keamanan itu pergi, arjuna melirik arloji di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 07:55 menit, itu artinya kurang dari 5 menit lagi lika akan keluar dari rumahnya.
Arjuna kembali menajamkan mata dan telinganya, memperhatikan rumah-rumah kosong di sekelilingnya dengan sesama, ia ingin melihat dari rumah yang mana lika akan keluar, kawasan perumahan itu termasuk kawasan perumahan elit tanpa pagar pembatas, tak ada penghalang antara jalan dan halaman, jadi setiap pintu rumahnya terlihat dengan sangat jelas dari tempatnya berdiri.
Samar-samar arjuna mulai mendengar suara besi bergesekan, ia pun menoleh ke belakang, menatap pintu besi dari dinding benteng beton di belakangnya, arjuna memperhatikan pergerakan pintu itu tanpa berkedip, sampai pintu itu terbuka dan lika keluar dari sana dengan membawa sebuah box berwarna coklat
__ADS_1
Arjuna mengucek matanya untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat, ingin bertanya tapi ragu, jadinya ia hanya berkata “ lika kau...?”
“ aku kenapa kak?” tanya lika yang kini sudah ada di hadapan arjuna
Arjuna tak menjawab tanya itu, ia hanya diam membisu, dengan tubuh terpaku seraya menunjuk pintu yang udah kembali tertutup rapat itu.
Lika pun memilih berlalu melewati tubuh arjuna, berjalan mendekati mobilnya yang terparkir di halaman rumah orang tua presdir tampan itu.
“ kak arjun! Mau pergi bersama tidak?” tanya lika yang hendak masuk ke dalam mobil
“ ia mau” jawab arjuna langsung menoleh, membalikkan tubuh menghadap ke arah lika yang kini berada jauh beberapa langkah darinya.
“ biar aku yang bawa mobilnya” ucap arjuna,
Presdir tampan itu berjalan mendekati lika, mengambil kunci mobil darinya lalu masuk ke dalam mobil, duduk di belakang kemudi.
Lika pun berjalan setengah memutari bagian depan mobil, ia ikut masuk dan duduk di kursi penumpang tepat di samping pengemudi.
Keheningan mengisi ruang, menemani perjalanan mereka menuju rumah sakit, kata terima kasih yang semula berniat arjuna ucap terlupakan begitu saja, rasa penasaran tentang kenapa lika keluar dari kawasan hutan pun hanya bisa arjuna pendam dalam pikiranya, mulut presdir tampan itu mendadak membisu, ia hanya bisa sesekali melirik lika sesekali saat ada kesempatan, hingga tak terasa keduanya kini sudah tiba di tempat tujuan.
Lika dan arjuna keluar dari mobil secara bersamaan, kemudian keduanya pun berjalan beriringan memasuki gedung rumah sakit.
Baru kali ini arjuna merasa diabaikan, biasanya dirinya akan menjadi pusat perhatian para wanita ke mana pun dan di mana pun, tapi kali ini perhatian itu seolah direbut oleh wanita yang berjalan di sampingnya, anehnya! Hal itu justru membuatnya tersenyum lebar.
Jika di gedung utama orang-orang hanya melihat dan berbisik-bisik di belakang, lain halnya saat mereka mulai berjalan memasuki gedung bagian spesialis bedah, ada yang sekedar menyapa, ada juga yang menyapa dengan pelukan rindu, serta ada juga yang perhatian, lika seolah menjadi pusat di antara para pekerja di sana.
“ selamat pagi dokter malik!” sapa dokter boy seraya mengulurkan tangannya
Lika balas menjabar tangan itu seraya membalas sapaannya “ pagi juga senior”
“persiapannya sudah selesai, kita bisa mulai pemeriksaannya kapan pun” ucap dokter boy
“ kita lakukan pemeriksaan mendasar dulu ya!” ucap lika
__ADS_1
Dokter boy dan arjuna pun mengangguk, sang pemilik rumah sakit pun membawa lika dan arjuna ke sebuah ruang vvip, di mana ruangan itu akan dijadikan pusat lika bekerja sementara, sekaligus tempat untuk arjuna beristirahat.
“ silakan! Jangan sungkan dokter malik” ucap dokter boy seraya menyerahkan stetoskopnya pada lika
Lika pun mengambil alat itu dari tangan seniornya, ia meminta arjuna untuk naik ke atas ranjang pasien dan berbaring di sana, lika pun memasang earpieces stetoskop di telinganya, lalu mulai memasukkan tangan ke sela kemeja, menempelkan diaphragm di kulit tubuh arjuna untuk mendengarkan suara organ di dalam tubuhnya, seperti denyut jantung, nadi, organ pencernaan, dan paru-paru dan juga mendengar suara aliran darah.
Dokter boy menyerahkan papan beserta bolpoin pada lika, dan gadis itu pun mulai menulis laporannya pada kertas yang terjepit di sana.
Setelah tahap itu selesai, lika mengukur tekanan darah arjuna.
“ tekanan darahnya agak tinggi, tenang! Jangan tegang ya!” ucap lika seraya menepuk pelan lengan kokoh sang presdir.
“ selanjutnya apa lagi?” tanya dokter malik
“ apa pasien sudah pernah di rontgen?” tanya lika
“ pernah dulu bagian tubuh dan kaki, dan baru-baru ini sudah hanya bagian kepala, laporannya ada di meja” jawab dokter boy seraya menunjuk lembaran kertas dan dua lembar foto hasil rontgen
Lika pun membaca laporan itu, lalu berkata “ kita harus melakukan rontgen menyeluruh senior, foto rontgen yang ini sudah terlampau lama, minta suster mengantarnya, aku kan baca laporan ini dulu dengan seksama untuk perbandingan”
“ biar aku yang melakukannya, kau bisa fokus dengan laporan itu dulu” ucap boy, lika pun mengangguk
Sesuai permintaan arjuna, ia tidak ingin ada banyak orang yang terlibat dan mengetahui prihal masalah ini, untuk mencegah bocornya rahasia ada pihak media.
“ dokter malik!” seru dokter boy yang menoleh ketika sudah sampai di ambang pintu
“Kau bisa mengenakan kembali jas kebesaranmu” ucapnya lagi sebelum akhirnya pergi meninggalkan lika di ruangan itu, lika hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum manis.
Tak lama setelah arjuna dan dokter boy pergi, lika pun akhirnya selesai mempelajari dokumen laporan arjuna, gadis itu bangkit dari duduknya, ia berjalan mendekat ke arah nakas di samping tempat tidur.
Lika mengelus permukaan karsus sebelum mulai membuka tutup kardus itu, ia diam menatap jas kebesarannya yang terlipat rapi di dalam sana, beserta name teg yang bertengger manis.
Lika yang tengah ragu untuk mengeluarkan dan memakai jas kebesarannya itu, terkejut dengan kedatangan beni yang tiba-tiba menerobos masuk begitu saja.
__ADS_1