Menjadi Pelakor

Menjadi Pelakor
Episode 43. Bulan madu atau Dinas?


__ADS_3

Kesal gak sih sama tingkah layla?


Gemes gak sama arjuna yang mempertahankan istri macam tu?


Penasaran gak sama semua teka teki yang masih belum terjawab?


Ettt... Sabar dulu yach bestie...


Hari ini kita lupakan semua perasaan itu, rehat sebentar dengan sesuatu yang manis, kaya kamu... aye....!


.


.


.


.


Arjuna kembali ke kamar setelah berbincang sebentar dengan beni, presdir tampan itu tersenyum saat melihat wajah cantik sang istri muda yang masih terlelap.


Disibaknya selimut yang menutupi tubuh sang wanita, entah dari mana datangnya rasa malu itu, arjuna sampai memalingkan wajahnya, merasa berdosa dengan seluruh tanda merah di tubuh polos lika.


Detak jam dinding menjadi penyemangat bagi arjuna, mengingatkan pria itu untuk bergegas kar'na ia tak punya banyak waktu.


Arjuna meraih sebuah paper bag di atas meja, ia mengeluarkan seluruh isinya, lalu mengumpat pada sang asisten yang tengah berada jauh darinya.


" dasar beni! Aku memang akan senang jika melihat lika memakai pakaian seperti ini, tapi aku tidak rela kecantikan istriku terekspos dan di nikmati oleh banyak pria"


Tak punya pilihan akhirnya arjuna pun tetap memakaikan pakayan mini itu, sebuah celana jeans mini serta kaus yang tampak kekurangan bahan, yang arjuna minta beni siapkan untuk lika.


" aku memang meminta disiapkan baju santai, tapi kalau begini.... Jadinya aku yang tidak bisa santai"


Arjuna mengeluh melihat penampilan lika, pria itu melilitkan selimut tebal pada tubuh istri mudanya, sebelum menggendong serta membawanya keluar dari kamar.


Lika masih dalam keadaan tertidur saat arjuna mendudukkannya di dalam mobil, bahkan sampai mobil itu melaju, wanita yang masih kelelahan itu tampaknya belum mau bangun dari tidurnya.


" kenapa kakak tidak memakaikan baju pada kakak ipar? Apa baju yang aku siapkan tidak pas di tubuhnya?" tanya beni


" bukan tidak pas, tapi bajunya kekurangan bahan alias belum jadi, fokus saja menyetir sana" jawab arjuna dengan diakhiri perintah mutlaknya.


Keheningan tercipta, mendamaikan perjalanan selama beberapa waktu.


Lika tersentak kaget sesaat setelah membuka matanya, mendapati dirinya berada di dalam mobil yang tengah dikendarai beni membuat wanita itu mempertanyakan tentang apa yang tengah terjadi?


Belum lagi ditambah dengan selimut tebal yang membalut tubuhnya, dari sebatas pundak hingga mata kaki, dan hanya menyisakan kepalanya saja, membuatnya kesulitan untuk bergerak


" aku seperti lemper saja! " begitulah kata batin lika


Lika menoleh dan mendapati arjuna tertidur di sampingnya, dengan perlahan lika berusaha melepaskan diri dari lilitan selimut tebal itu, setidaknya lika ingin mengeluarkan kedua tangannya dari sana.


“Jangan di buka, nanti kalau ada gunung yang terekspos, babang juna bisa ngamuk” seru beni,


Walau tengah fokus menyetir, pria berkacamata itu menyadari pergerakan lika yang baru saja terbangun, beni terus memantau penumpangnya dari kaca mobil, memperhatikan dua insan yang duduk di kursi belakang hanya untuk memastikan keduanya merasa nyaman di sana.


“ stt... “ panggil lika pada beni, ia tak ingin membangunkan sang suami dari tidurnya

__ADS_1


“ hmmm, kenapa bu boz? ” beni menyahut


“ kita mau ke mana pak ben?” tanya lika pelan.


Tubuh arjuna menggeliat, pria itu membuka matanya dengan sempurna setelah mendengar tanya dari sang istri muda.


“ bulan madu!”


“ dinas!”


Seru beni dan arjuna bersama tapi tak kompak.


“ dinas!”


“ bulan madu!”


Niat untuk meralat ucapan mereka gagal karna hal yang sama malah terulang, bukanya menyamakan jawaban, keduanya malah kembali berseru bersama dengan kalimat yang tidak selaras.


“ jadi yang benar yang mana? Bulan madu atau dinas?” tanya lika dengan nada bicara yang terdengar sedikit kesal, wanita itu menolak untuk dipermainkan.


“ bulan madu dengan alasan dinas ade manis ku” jawab arjuna yang kemudian mendaratkan sebuah kecupan di pipi lika.


Hal itu sontak membuat lika memalingkan wajah ke arah jendela, menyembunyikan senyum serta rona merah di pipinya.


“ Haada jomlo!” ucap protes beni seraya pura-pura terbatuk


Arjuna terkekeh melihat kelakuan istri muda dan saudara sepupunya itu, yang satu malu-malu dan yang lainya malu-malu in.


Dering ponsel mengalihkan perhatian mereka yang tengah berada dalam perjalanan, mereka saling melirik seolah mempertanyakan ponsel siapa yang berbunyi itu.


“ bukan milik ku!” ucap beni kemudian kembali meletakan ponsel ke tempat semula


“ punyaku ternyata!” ucap juna setelah mengecek dua ponsel dalam genggamannya.


Arjuna terlihat mendelik malas, lika pun mencoba mengintip sedikit sampai melihat mama layla tertera di layar ponsel suaminya itu.


Arjuna mematikan panggilan video call dari sang istri pertama, tapi kemudian presdir tampan itu menghubunginya kembali via telpon.


“ jangan vidio call, aku sedang bersama beni” ucap arjuna begitu panggilannya tersambung.


Presdir tampan itu sengaja meletakan ponsel di telinga kirinya agar lika bisa menguping jika ia ingin dan penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.


“ kok mas belum pulang si? Ini sudah mau magrib loh mas!” tanya layla dari seberang telepon.


Arjuna memutar bola matanya malas, sepertinya ia lupa kalau lika ada di sampingnya, atau mungkin arjuna memang sengaja memperlihatkan sikap dinginnya pada layla di depan sang istri muda.


“Mas lupa ngabarin kamu ya! Maafkan kekhilafan mas ya sayang! Abi dan umi ada di dekatmu kan! Besarkan volume suaranya” jawab arjuna dengan nada acuh


“ sudah mas”


Arjuna : Papah tadi tegur juna karna satu masalah, dan ternyata masalahnya sangat rumit, juna sampai harus keluar kota loh ini bi, mi, gimana ya! Kayanya juna gak bisa pulang deh malam ini, jadi gak bisa nginep disana, Abi sama umi gak papa kan kalau layla juna titipkan semalam, besok insyaallah setelah tugas juna selesai akan langsung juna jemput


" iya tidak apa-apa nak" sahut abi dari seberang telepon


" kau bisa fokus dengan tugasmu, jangan khawatirkan layla, abi dan umi ada bersamanya" sahut umi dari sebrang telepon

__ADS_1


" dan jaga diri baik-baik, jangan sampai lupa makan" sahut abi lagi dari sebrang telpon


Beni diam-diam terkekeh karna kejujuran sang presdir, dalam hati beni memuji atasan sekaligus sepupunya itu “ bisa ya! kak juna mengecoh seseorang dengan kejujuran, otaknya ternyata masih jalan dengan baik” sambil menggelengkan kepala tak habis pikir


Layla : kamu gak bohong kan jun! Gak lagi nyari alasan buat berduaan sama lika kan!


Mendengar itu, arjuna pun tahu! Saat ini layla pasti sudah kembali mengambil alih ponselnya, dan menjauh dari kedua orang tuanya agar bisa berbicara lebih bebas dengannya.


Arjuna : lika siapa?


Arjuna melirik sang istri muda saat tengah mempermainkan istri pertamanya, entah dari mana datangnya pikiran jahil itu.


Layla : istri muda mas lah siapa lagi


Layla bicara dengan ketus


Arjuna : ohh... Mas punya istri muda? Perasaan istriku cuma satu...


Arjuna menjeda ucapannya, ia menoleh mendekatkan diri pada wanita di sampingnya, lalu menjauhkan ponselnya dari telinga


“ Cuma adek seorang” ucap juna tepat di depan telinga lika, kemudian " muach...." mendaratkan kecupan di pipi wanitanya itu.


Tubuh lika menegang, ia tak percaya arjuna busa mengatakan itu padanya saat tengah menelpon layla, ini bukan salah faham kan! lika tidak sedang kepedean kan!


Sementara itu, di sebrang sana layla justru tengah berbunga-bunga dengan kesalahpahaman-nya sendiri , ia berpikir arjuna mengubah panggilan “sayang” padanya dan menggantinya dengan panggilan “adek”


Dan kecupan itu, layla berpikir arjuna mengecup ponselnya sendiri sebagai ganti mengecup dirinya, wanita itu amat sangat senang memikirkan arjuna yang masih saja tergila-gila padanya.


Layla : kamu pergi berdua sama beni?


Arjuna merasa heran mendengar tanya itu, entah apa yang merasuki layla saat ini, sampai wanita itu bertanya dengan nada suara yang terdengar lemah lembut, dengan irama yang mendayu.


Presdir tampan itu terdiam, jujur saja suara lembut itu selalu ia rindukan, hatinya terasa miris, setelah berharap begitu lama, kenapa baru sekarang ia bisa mendengarnya lagi.


Arjuna : tidak! Beni hanya mengantar, nanti di sana aku di temani sekertaris ku, beni kan harus menggantikan ku mengurus perusahaan


Layla : ya sudah! Hati-hati di jalan ya jun


Layla mengakhiri panggilan itu.


Arjuna melempar ponselnya ke sembarang tempat, ia menatap lika dengan sambil tersenyum, lalu berkata " maaf ya ben! Aku udah gak tahan, jangan iri"


Arjuna menangkup wajah lika, lalu mengecupi wajah itu dengan gemas berkali-kali, dari dahi pindah ke pipi kiri, pindah lagi ke pipi kanan, lalu yang terakhir mendarat di bibir merah lika.


Alih-alih merasa kesal, beni justru terkenang masa lalu, sejauh yang ia tahu, walau terlihat begitu mencintai wanita layla, arjuna tak pernah bersikap seperti ini pada wanita itu,


setiap kali merasa bahagia, kesenangan arjuna seolah runtuh begitu saja, namun ia akan tergoyahkan setelah mendengar suara lembut sang istri pertama, rasa sakit yang arjuna pendam seolah lenyap begitu saja, niat untuk merubah jalan hidupnya pun tergoyahkan rindu, entah karna rasa bersalah yang menguasai hati, atau kah karna rasa cinta yang tersisa.


Layla di hati arjuna...


Jika diibaratkan sebuah benda, maka layla itu ibarat lampu hias yang sangat cantik, arjuna mengira lampu hias itu padam karna dirinya yang tidak pandai merawat lampu itu, walau tak lagi memancarkan sinarnya lampu itu tetap elok di mata semua orang, hingga arjuna pun merasa sayang untuk membuangnya...


Apa kalian juga memiliki benda seperti itu?


Apa kalian juga tetap menyimpan sebuah benda yang sudah rusak hanya karna merasa sayang jika harus membuangnya?

__ADS_1


__ADS_2