Menjadi Pelakor

Menjadi Pelakor
Episode 23. Pengakuan


__ADS_3

Sore itu arjuna kembali mendatangi kediaman orang tuanya, ini memang tidak seperti biasanya, tapi ia tidak bisa melupakan ucapan lika pagi tadi.


‘ jika seingin itu kenapa tidak turuti saja keinginan dokter malik?’ tanya itu terus terngiang-ngiang di telinga, memecah konsentrasi yang ia coba bangun sewaktu kerja.


Di depan rumah sang ayah arjuna kembali menimbang-nimbang, apakah iya memang harus memberitahu sang ayah agar bisa bertemu dengan dokter malik, keinginannya untuk sembuh ternyata begitu besar, hingga rasa takut itu berubah menjadi sebuah keberanian, pria itu melangkah dengan berani mengetuk pintu rumah sang ayah.


Arjuna sudah menekan bel rumah berkali-kali, namun pintu besar rumah itu tak kunjung terbuka, arjuna pun mulai bertanya dalam hati ‘ apakah papah dan mamanya sedang pergi?’


Sudah menjadi kebiasaan, sejak lama art di larang membuka pintu jika sang pemilik rumah tidak ada, kecuali jika salah satu dari majikannya memberi instruksi sebelum pergi, dan arjuna mengetahui akan hal itu.


Sebuah seruan mengejutkan arjuna yang masih mematung di sana.


“Tumben kau datang lagi!” seru sang ayah dari belakang tubuhnya,


Bastian bergegas pulang setelah mendapat kabar dari bi minah bahwa ada yang menekan bel rumah. Arjuna pun memutar tubuhnya, menatap sang ayah yang baru datang entah dari mana.


“ papa dari mana?” tanya arjuna, ia jadi ingin tahu karna sepertinya ayahnya itu pergi tanpa menggunakan kendaraan.


“habis main di rumah gunawan, ada apa kau kemari? “ jawab bastian diiringi tanya


“Aku ingin membicarakan hal penting” jawab arjuna dengan wajah serius


“dengan papah?” tanya bastian memastikan,


“ heemmm” arjuna berdehem seraya menganggukkan kepala.


“tentang perusahaan?” tanya bastian lagi,


Kali ini arjuna menggelengkan kepala, lalu berkata “ini tentang kehidupanku pah”


“huh.... Saat kau punya masalah kau datang padaku, aku memang ayahmu, tapi! Apa kau tidak merasa malu?” ucap bastian,


Pria tua itu diam-diam menaruh rasa kesal pada sang putra, bukan hanya karna arjuna menikahi layla, tapi juga karna arjuna hanya datang berkunjung sebulan sekali, dan menginap pun hanya sehari, tapi meski menginap pun putranya itu tidak pernah punya waktu sedetik pun untuk dirinya, meski hanya untuk sekedar berbincang dan menikmati secangkir teh bersama, padahal dulu ia rela meninggalkan pekerjaan demi memiliki quality time bersama anak dan istri, setelah tua anaknya ini malah hanya sibuk dengan pekerjaan dan istrinya saja.


“ jika bisa aku tidak akan datang dan mengadu, ataupun meminta pertolongan darimu pah, tapi masalahnya putramu ini tidak bisa menjadi lebih hebat darimu” ucap arjuna


Bastian tersenyum mendengar pujian itu, hatinya selalu saja lulus setiap kali mendengar pujian dari putranya.


“Baiklah, ayo masuk kedalam!” ucap bastian seraya meraih pundak sang putra dan membawanya masuk ke dalam rumah


“mau minum teh? “tanya bastian kepada putranya saat keduanya sudah duduk di ruang tamu


“jika papah mau, boleh!” jawab arjuna, tangan pria itu berkeringat karna rasa gugup yang tiba-tiba menghampirinya.


“tidak! aku sudah terlalu banyak minum di rumah gunawan, kau saja yang minum” jawab bastian


“ Bi minah! siapkan tah untuk tuan muda” bastian berseru dengan suara kencang agar artnya itu bisa mendengar perintah darinya.


Arjuna menghela nafas, kedua pria yang berbeda usia itu duduk terdiam dalam waktu yang cukup lama keduanya sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


“ masalah apa yang membuat bocah ini mendatangi ku, aku akan mendukungnya jika dia bilang ingin menceraikan istrinya itu” gumam bastian dalam hati


“ Aku sudah tidak bisa mundur lagi sekarang, aku harus bicara pada papah, semoga saja papah tidak terkena serangan jantung setelah mendengar masalahku ini” batin arjuna


“ ini tehnya tuan muda” ucap bi minah seraya meletakan teh di atas meja.


Di luar rumah, kening devi berkerut saat melihat mobil sang putra terparkir dalam bagasinya, langkahnya sedikit tergesa-gesa karna takut tidak akan ada yang membukakan pintu, tapi ternyata putranya itu sudah masuk dan duduk bersama suaminya.


Devi ingin menyapa, namun niatnya untuk masuk ia urungkan, mengingat suaminya selalu mengeluh karna tidak pernah duduk berdua lagi dengan putranya, devi pun membiarkan keduanya bersama, ia duduk di kursi yang berada di teras rumah, mendengarkan apa yang ayah dan anaknya bicarakan dari jauh, seperti dulu lagi.


Sampai bi minah kembali ke dalam, sang ayah baru mengeluarkan suaranya “ mau minum dulu? Atau langsung bicara”


“ Aku mau minum dulu pah, aku benar-benar gugup” ucap arjuna jujur


Bastian tersenyum, pria tua itu senang karena putranya ternyata masih punya rasa takut terhadap dirinya. Setelah meneguk sebagian teh yang disediakan untuknya arjuna pun memulai pembicaraan.


“Pa sebelumnya arjuna mau meminta maaf” ucap arjuna


“ sudah papah maafkan!” seru bastian menyela


“ Juna tahu papa ingin segera menimang cucu, tapi..


“ papah akan dukung kalau kamu mau menceraikan istrimu” sahut bastian kembali menyela


“ bukan itu pah!” sanggah arjuna cepat, ia sedikit kesal, saat dirinya tengah berusaha mengumpulkan keberanian, ayahnya itu malah menyela ucapannya dan malah membicarakan perceraian.


“sebenarnya, sebenarnya, layla tak kunjung hamil karna arjuna, arjuna itu anu pah, itu arjuna, itu pah...


“jangan hanya itu-itu saja! katakan dengan jelas” Bastian sampai menegurnya.


Arjuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian berkata “ arjuna tidak bisa memberikan papah keturunan, karena sepertinya arjuna mendadak jadi impoten”


Bukan hanya bastian yang terkejut mendengar perkataan itu, devi yang tengah mendengarkan pun sampai bangkit dari duduknya, wanita tua itu menempelkan telinga di kaca jendela, mencuri dengar dari jarak yang lebih dekat.


“bagaimana maksudnya?” tanya sang ayah tak mengerti itu


“ itu pah, benda arjuna tiba-tiba saja tidak bisa berdiri tegak lagi” ungkap arjuna sambil menundukkan kepala


Devi membungkam mulutnya karna terkejut mendengar pengakuan sang putra, wanita itu kembali meninggalkan rumah dengan tergesa-gesa.


Sementara itu, bastian justru menanggapinya dengan santai, ia hanya berkata “ Oh! ada cerita seperti itu rupanya”


Mendengar itu, arjuna pun mendongakkan kepala, menatap ayahnya yang masih bersantai ria setelah mendengar kabar buruk itu, arjuna yang selama ini ketakutan ayahnya akan terkena serangan jantung jika mengetahui kabar tentangnya, kini bisa bernafas lega karena ketakutannya sama sekali tidak terjadi.


Rasa criga pun mulai menghinggapinya, batinnya bertanya pada otak cerdasnya ‘ apa jangan-jangan papah sudah tahu tentang hal ini? Apa papah memata-matai kehidupan rumah tangga kami?’ hingga tanpa sadar ia melayangkan tatapan penuh kecurigaan pada sang ayah.


Bastian menyadari arti tatapan putranya itu, ia pun berkata “ jangan menatapku seperti itu! Aku memenuhi janjiku padamu untuk tidak mencoba mencari tahu kehidupan rumah tangga mu bersama istri yang kau pilih sendiri, aku tidak menyimpan mata-mata karena percaya padamu, tapi setelah mendengar berita ini, aku jadi merasa harus mencurigai istrimu”


“Kenapa papah bawa-bawa layla, ini salah arjuna pah!” protes arjuna membela sang istri

__ADS_1


“Seseorang tidak akan tiba-tiba impoten juna, terlebih baik dari keluargaku, atau keluarga ibumu, tidak ada garis keturunan kami yang memiliki penyakit itu, apa kau sudah memeriksakannya ke dokter? “ terang sang ayah diiringi tanya


“ sudah pah! Tapi tidak ada syaraf yang terjepit ataupun bermasalah” jawab arjuna jujur


“siapa dokternya?” tanya sang ayah lagi


“boy! Professor Boy pah” jawab arjuna


“ Dia bukan ahlinya, harusnya kau mendatangi mak erot dan minta di pijat sama dia” ucap bastian


“ Mak erot bukanya terkenal dengan praktik pijatnya yang diklaim bisa membesarkan alat vital kaum laki-laki pah, beliau itu menjadi terkenal di seantero Indonesia sebagai spesialis pembesar alat vital, punya juna itu sudah besar kalau bangun, masalahnya kan gak bisa bangun pah! “ protes arjuna


“ kali aja dengan kepiawaiannya itu kau kau bisa disembuhkan” ucap bastian


“ ya terus arjuna harus mendatangi mak erot ke akhirat gitu pah! Yang benar saja!” keluh arjuna, ia sedikit geram karna sikap ayahnya yang malah membencanainya.


“ kalau kau datang dan mengadu lebih awal papah pasti bisa memberi jalan keluarnya, masalahnya kesayanganku sudah kehilangan gelar dokternya” ucap bastian lirih


“Papah punya main dengan laki-laki juga?” tanya arjuna seraya bangkit dari duduknya


“ apa maksudmu?” pekik kesal bastian, pria tua itu ikut bangkit dari duduknya, berdiri di depan sang putra dengan meja sebagai penghalang.


“ aku tahu siapa yang sedang papah bicarakan itu, dokter malik kan? Papah tadi memanggil pria itu kesayangan, aku mendengarnya dengan jelas” arjuna pun meninggikan suaranya, karna mengira sang ayah bermain api dengan seorang dokter pria.


Bastian yang tidak terima dengan tuduhan yang dilontarkan sang putra pun menjambak rambut arjuna sampai membuat arjuna memekik kesakitan, setelah melepaskan rambut sang putra ia meraih bantal sofa dan memukuli sang putra sampai pria itu duduk meringkuk di atas sofa.


Dalam proses perkelahian ayah dan anak itu adu mulut diantara keduanya pun terjadi dengan sengit


“ matamu itu kau taruh di mana hah?”


“ tunggu pah! Ampun!”


“Gadis secantik malika kau sebut laki-laki”


“Sudah pah! Maaf!”


“tuduhan tak berdasar macam apa yang kau lontarkan itu?”


“Aku menyerah pah! Ampun! ”


.


.


.


.


Like-nya mana nih?

__ADS_1


Kayanya iming-iming author tidak menggiurkan ya! Sampai-sampai kalian masih berat buat kasih 👍


__ADS_2