
Hari ini arjuna kembali melakukan pemeriksaan di rumah sakit, pria itu kembali menunggu lika di jalan, menunggu lika keluar dari balik tembok benteng di samping rumah ayahnya.
Arjuna berkali-kali melirik jam dan ponselnya, pesan yang ia kirim pada lika pagi tadi belum mendapat balasan, tapi pria itu kembali mengirim pesan yang baru.
Arjuna : lika jam berapa kita akan pergi?
Arjuna : p
Arjuna : p
Arjuna : Lika aku sudah di depan
Arjuna : lika kita jadi ke rumah sakit bersama kan?
Arjuna : lika
Arjuna : p
Arjuna : p
Layar ponsel itu sudah penuh dengan chat yang arjuna kirim, entah kenapa arjuna mendadak tidak suka menanti balasan pesan, dan menanti wanita itu.
Sebuah mobil sport merah menghampiri dan berhenti tepat di samping arjuna, sosok beni yang tengah duduk di belakang kemudi pun terlihat dari celah jendela yang setengah terbuka.
“ kak arjun! Cepat naik! Jadi ke rumah sakit tidak? ” seru beni dari dalam mobil
Arjuna memalingkan wajahnya menatap sendu ke arah pintu kecil pada tembok benteng yang tinggi itu, presdir tampan itu mengeluh dalam hati “ beni sudah sampai, tapi kenapa kau tak kunjung datang lika? Di telpon tak bisa, di wa gak di balas, haruskah aku mengetuk pintu itu”
Beni yang merasa diabaikan kemudian turun dari mobil, ia lalu menarik tangan arjuna, memaksa pria itu untuk masuk ke dalam mobil, helaan nafas beratnya bahkan sampai terdengar jelas.
“ kenapa menghela nafas berat begitu? Seperti sedang ada masalah berat saja” ucap beni saat tengah memasang sabuk pengaman, pria itu sudah kembali duduk di belakang kemudi dan siap membawa mobil itu pergi.
Arjuna tidak menyahut, ia malah menoleh ke belakang, berharap bisa melihat lika, entah kenapa walau ada rasa bersalah pada sang istri, arjuna terus saja menyimpan banyak harapan pada lika.
Sementara itu, sang mantan dokter cantik itu tengah duduk di atas meja di ruang laboratorium, dengan kaki yang terus berayun dan mulut yang sibuk mengunyah snek, lika menantikan hasil dari para pekerja di sana.
“ tidak perlu buat laporan tertulis, cepat katakan saja hasil yang kau temukan, aku buru-buru tahu” ucap lika saat melihat petugas leb itu hendak mendudukkan diri di ruang komputernya.
“ ohh astaga dokter malik! Anda ini masih saja tidak sabaran” keluh petugas itu seraya menyodorkan sebuah kertas hasil dari uji klinisnya.
“ ini tulisan atau apa?” keluh tanya lika saat dirinya tak bisa membaca tulisan di atas kertas itu.
__ADS_1
Ish....
Dengan sedikit menggeram petugas itu merampas kasar kertas di tangan lika, melayangkan tatapan kesal, bukan karna tidak suka pada lika, tapi karna lika memintanya menguji kandungan yang ada di dalam sebuah permen, harga dirinya sebagai petugas leb jadi terasa di rendahkan.
“ aku akan membacakannya” ucap petugas leb itu.
Lika tersenyum dengan begitu manis, ia menyimak setiap kata demi kata yang diucapkan sang petugas leb, di tengah pembacaan hasil nada bicaranya yang santai berubah menjadi cepat saat membacakan kandungan jat yang tidak biasa pada serbuk yang ada di dalam permen itu.
“ dokter bukankah ini namanya pelanggaran, kenapa ada yang membuat permen dengan serbuk obat di dalamnya?” ucap petugas leb itu kemudian
Lika kembali merampas kertas itu, iya kemudian merobeknya seraya berkata “ terima kasih atas kerja kerasmu, tapi tolong rahasiakan ini, jangan sampai bocor” dengan wajah datar tanpa ekspresi. Petugas leb itu pun mengangguk paham.
Lika melompat turun dari atas meja, ia pun pamit pergi meninggalkan leb, di sebuah koridor lika melihat arjuna dan beni yang sepertinya baru saja tiba, kedua pria itu tampak berjalan ke arahnya dengan langkah tergesa, lika kembali menatap serpihan kertas hasil leb dari permen yang beni berikan, cepat-cepat lika membuangnya saat kedua pria itu sudah dekat.
“ lika! Buang saja ponselmu yang tidak berguna itu sekalian, aku menelepon mu berkali-kali tapi tidak kau angkat, dan mengirim pesan juga, tapi jangankan di balas kau baca pun tidak” keluh arjuna setelah berdiri di depan lika.
Lika mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, ia mengecek dan memang benar ada beberapa panggilan tak terjawab, dan ada beberapa pesan yang masuk dari arjuna.
“ ahh... Iya! maaf kak! Ponselnya lika silent tadi” ucap lika kemudian.
“ di mana dokter boy?” tanya beni
“ dokter boy sedang melakukan operasi” jawab lika
Lika berjalan mendahului, dan kedua pria itu mengekor dari belakang, mereka berjalan sambil berbincang.
“ Sudah berapa lama?” tanya arjuna
“ sudah dari satu jam lalu” jawab lika
“Apa dokter boy tidak akan ikut dalam pemeriksaan kali ini? “ tanya beni
“ tidak! Kali ini aku hanya akan didampingi oleh dokter magang” jawab lika
“ hallo doker malik, perkenalkan nama saya nita” ucap seorang wanita cantik yang menyapa ketika mereka tiba di ruangan.
“ kau dokter yang diminta mendampingi ku hari ini kan! Salam kenal nita” jawab lika ramah
“ sebuah kehormatan bisa berada di bawah bimbingan dokter malik” ucap nita
“ Sudah tahu apa yang harus dilakukan?” tanya lika
__ADS_1
“ sudah dok! Prof. boy sudah menjelaskan” jawab nita
“ bagus mari kita mulai pemeriksaannya” ajak lika pada semuanya.
Pemeriksaan dimulai dengan mengecek tekanan darah, baru setelah itu arjuna bersiap untuk melakukan pemeriksaan dengan magic scanning lagi.
Arjuna didampingi beni saat mengganti pakaian, presdir tampan itu bergerak lebih cepat dari pada bisanya, mungkin karna kali ini ia sama sekali tidak gugup.
Berbeda dengan pemeriksaan di awal, lika tidak mencatat hasil pemeriksaan itu, ia hanya berdiam di depan layar dan membaca seriap informasi yang di berikan oleh alat itu.
“Bagaimana? “ tanya beni menghampiri
“ hasilnya bagus, kak arjun sekarang sudah bisa menjalankan pijat terapi untuk meringankan syaraf yang kaku, tapi ada satu masalah pak beni” ucap lika lirih
“ masalah apa?” tanya beni penasaran
“ pijat terapi ini harusnya dilakukan oleh sang istri, tapi mba layla, aku tidak yakin!”
“ kenapa”
“ permen yang pak beni berikan kemarin mengandung obat yang bisa merusak sistim jaringan syaraf, jika kak arjun sampai mengonsumsi obat itu, ia mungkin akan jadi linglung” terang lika
“ jadi benar dia orang yang sudah membuat kakak sakit” ucap beni
“ mungkin!” ucap lika sedikit ragu
“kalau begitu kau saja!” ucap beni dengan sebuah kerlingan mata jahilnya
“ pak beni tidak serius kan! Dalam proses itu gairah kak arjun harus di bangkitkan, bahkan akan lebih baik bila bisa di puaskan, jika hanya pijat memijat aku sih tidak masalah, tapi bagian harus memuaskannya itu loh, lagi pula ayahku tidak akan setuju”
“ ada masalah apa? “ tanya arjuna menghampiri, pria itu tampak heran melihat beni dan lika berbincang dengan serius, terlebih wajah lika terlihat tidak baik.
“ ini loh kak! Dokter malik butuh ijin dari ayahnya untuk melakukan tindakan selanjutnya” ujar beni sambil tersenyum
Lika mencubit pinggang beni sambil tersenyum canggung, pria berkacamata itu pun diam-diam meringis kesakitan.
“ oh... Kirain ada apa! Kalau masalah ijin si gampang, setelah dari sini kita akan temui ayahmu untuk meminta ijin itu” ucap arjuna yang kemudian berlalu hendak kembali mengganti bajunya
“ pak beni kenapa bilang begitu? Kita harus mengatakan kebenaran ini pada kak arjun” keluh lika
“ percuma lika, kau pikir arjuna akan bertindak? Meskipun percaya kakak akan membela wanita itu dan melindungi nama baik istrinya, aku lebih mengenalnya dari pada kau, jadi ikuti saja pengaturan dariku ini, kau harus mengobati kak arjun sampai ia normal kembali” ucap beni panjang lebar, lika hanya menghela nafas panjang setelah mendengarnya.
__ADS_1
“ Sudahlah! Jangan terlalu banyak berpikir, nanti kau bisa stress sebelum kak arjun sembuh, bisa gawat kan!” ucap beni.
Lika mendengus kesal mendengar beni mengatakan hal itu dengan mudahnya.