
Kedatangan layla ke kantor membuat lika tak tenang, hatinya mendadak gusar, perasaannya seolah mendesak dirinya untuk kembali, namun itu tak mungkin ia lakukan, karena menyiapkan pakaian sang presdir adalah salah satu kewajibannya.
“Malika!” teriak beni seraya menarik bahu kanan lika, tubuh wanita itu setengah berputar sampai berbalik melihat ke arah beni.
Tindakan yang beni lakukan mengagetkan lika yang kala itu pikirannya tengah melayang jauh, ia pun kemudian bertanya “ ada apa pak beni?” heran pada beni yang seolah bertindak buru-buru memanggil dirinya.
“ kenapa kau berjalan sambil melamun? Lihat ke depan! Kau hampir saja menabrak pintu”
Lika menoleh setelah mendengar itu, wanita itu kemudian tersenyum malu saat menyadari kecerobohannya sendiri.
“Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?” tanya beni lagi
Lika kembali tersenyum, bukanya menjawab pertanyaan beni, wanita itu malah balik bertanya “ pak beni! Mba layla itu sangat mencintai pak arjun kan ya?”
Beni tidak menjawab pertanyaan itu, tapi ia mendelik menatap heran pada lika, dan sang mantan dokter itu mengerti arti dari tatapan mata beni.
“ ahhh... Lupakan saja! Kenapa juga aku harus cemas, pak arjun kan suaminya, jadi wajar kalau dia datang” ucap lika kemudian
“ siapa yang datang?” tanya beni sedikit terkejut
“ mba layla” jawab lika santai
“ kau dari tadi melamun memikirkan itu? Sudah! Tidak perlu dipikirkan, aku akan menjaga pak arjun agar pengobatan yang selama ini kau berikan tidak sia-sia” tutur beni
Lika menganggukkan kepala, ia kemudian langsung pamit untuk kembalj melanjutkan pekerjaannya, setelah mendengar perkataan beni hatinya menjadi sedikit tenang saat meninggalkan kantor.
Sementara itu, beni tampak tak santai, ia tergesa-gesa naik ke lantai teratas dari gedung itu, ia menghampiri sang bos yang katanya tengah bersama sang istri.
Setelah tiba di depan ruangan, beni masuk secara perlahan, pria itu berharap layla tidak melakukan sesuatu pada presdirnya itu, karna diam-diam beni menaruh curiga bahwa layla lah yang telah membuat arjuna menjadi impoten.
__ADS_1
Pria berkacamata itu melihat layla merogoh sesuatu dari dalam tasnya, lalu memasukkan apa yang telah ia ambil ke dalam mulutnya sendiri, setelah itu ia kemudian mendorong tubuh arjuna sampai terbaring si sofa.
Beni menarik tangan laiyla sesaat sebelum wanita itu menyatukan bibir dengan suaminya, ia bersikap sedikit kasar seolah tengah memisahkan kekasihnya dari pria lain.
Rasa penasaran mendorong pria berkacamata itu untuk memukul bagian pundak layla, wanita itu pun terbatuk dan terlihat memuntahkan sebuah pil dari dalam mulutnya.
Sepasang suami-istri yang gagal berciuman itu kemudian menatap beni, arjuna menatap beni dengan penuh tanya, dan layla menatap beni dengan penuh amarah, tapi pria berkacamata itu malah menyunggingkan senyuman terbaiknya.
“ heh beni! Tingkahmu semakin hari semakin kurang ajar saja ya! Berani-beraninya kau merusak kemesraan kami” bentak layla kesal
“ kau juga juna! Jangan hanya diam saja, lakukanlah sesuatu, marahi dia, memangnya kau tidak kesal dia mengganggu kehangatan di antara kita” keluh manja layla pada sang suami
Beni mengabaikan celotehan wanita itu dan memilih untuk memungut pil yang layla muntahkan dengan saputangan yang baru ia raih dari kantung jasnya, ia mengabaikan tatapan sang presdir dan balas menatap layla.
“ kau apa-apaan si ben! Kau tidak senang jika melihat hubungan manis di antara kami?” tanya arjuna, tak ada bentakan ataupun rasa kesal yang tertangkap dari ucapannya, namun ada sedikit kecewa dalam suaranya.
Beni menundukkan kepala di hadapan sang presdir, ia kemudian berkata “ maaf pak! Tapi...
Beni menghampiri arjuna dan duduk di sampingnya, ia kembali mengeluarkan suara “ Jangan marah kak! Bukankah kita sedang sangat sibuk, bagaimana jika kalian lanjutkan kemesraan kalian nanti saja di rumah” beni bersikap seolah tengah membujuk kekasihnya.
Beni merangkul lengan arjuna dan menatap layla, dari tatapan matanya ia seolah berkata “ yang bisa merayu kak arjun bukan hanya kau, aku tidak akan membiarkanmu” dengan sedikit kesombongan dan penuh dengan ancaman.
Layla kembali mendudukkan diri di sisi arjuna, jika beni duduk di sebelah kanan, maka layla duduk di sebelah kirinya, ia kembali merangkul arjuna lalu berkata “ sayang! Kau kerja terus, aku juga kan butuh perhatianmu, kali ini saja singkirkan setan itu” pinta layla dengan memasang wajah melasnya.
“ siapa yang kau sebut sedan itu?” tanya beni kesal
“ kaulah! Memangnya siapa lagi, bukankah orang ketiga di antara sepasang kekasih itu setan” ucap layla dengan ketus
“ enak saja kau menyebutku setan, dasar iblis biadab” ucap beni tak kalah ketus
__ADS_1
Layla berdecih lalu membalas hinaan itu “ heh asisten sadar diri donk! Tak mau pergi kah! Kau mengganggu keharmonisan kami tahu! Sayang tidakkah sebaiknya kamu cari kekasih untuk dia”
Perdebatan di antara sang istri dan sang asisten itu sungguh membuat arjuna kesal, dalam hatinya ia bertanya dan berharap “ lika kau di mana? Aku ingin kau datang dan bawa aku pergi dari sini, keadaan ini sungguh menyebalkan”
Sementara itu, lika yang tengah berada di butik merasakan panggilan dari seseorang sesaat setelah menyelesaikan pembayaran di kasir, ia menoleh ke sekeliling mencari asal suara seseorang yang memanggilnya tadi, tapi tak ada siapa pun di sana yang ia kenal, semu orang di sekelilingnya tampak asing baginya.
“ ini kartunya bu” seru sang kasir seraya menyodorkan sebilah kartu dengan sopan, mengembalikan pada yang memberikan.
“ oh ia terima kasih” ucap lika seraya kembali mengambil kartu dari tangan sang kasir.
Lika pun bergegas pergi meninggalkan butik untuk kembali ke kantor, dengan membawa setelan jas berwarna navy ia berjalan menuju ruangan sang presdir.
Begitu membuka pintu lika langsung melihat pemandangan yang membuat dahinya mengerut, arjuna, sang presdir tampan itu tampak berada di antara dua orang yang tengah berdebat, tapi pria itu malah tersenyum ke arahnya.
Ehem...
Lika berdehem kencang dan perdebatan pun terhenti begitu saja, arjuna langsung bangkit dan menghampiri lika.
“ ini baju untuk meeting kan! Berikan aku akan langsung memakainya” pinta arjuna, senyumnya tampak dipenuhi kelegaan, dan itu membuat lika heran dengan apa yang baru saja terjadi padanya.
Lika pun memberikan baju yang ada di tangannya pada sang presdir, arjuna pun berjalan ke arah kamar setelah menerima setelan jas itu, ia bersip untuk mengganti pakaryannya.
Beni bangkit dan ikut menghampiri lika, pria berkacamata menarik satu tangan lika dan diam-diam menyelipkan saputangan lalu berkata “ layla tak seperti yang kau kira lika, jangan percaya pada sikapnya! Wanita itu tidak mencintai kak arjun, hubungan mereka pun sangat tidak baik, tolong waspadalah! Dia tadi berniat membuat arjuna untuk menelan pil ini” dengan berbisik di telinga
Beni merasa sudah waktunya lika tahu kebenaran tentang hubungan arjuna dan layla, lika menatap tak percaya pada beni, dan beni membalas tatapan itu seraya berjalan keluar, seolah meyakinkan lika untuk percaya padanya, mereka saling tatap sampai beni meninggalkan ruangan itu.
" kau menyukai beni? " tanya layla tiba-tiba
" hah... apa? Jangan salah paham mba aku...
__ADS_1
" tidak tahu diri! " potong layla
" heh wanita kismin! Jika kau menyukai beni dekati dan kejar dia, jangan hanya bersikap seperti kau adalah istri suamiku, tingkah mu itu benar-benar murahan" ucap layla lagi