
Layla dengan sengaja membuat situasi di mana abi dan uminya melihat dia tertawa di belakang Lika, sehingga abi dan umi tidak menanggapi dengan serius perdebatan mereka.
Karna ulahnya itu, abi dan umi jadi berpikir bahwa pertengkaran antar dua istri itu hannyalah merupakan ulah jahil sang putri, yang tentunya terjadi hanya untuk kesenangan Layla semata.
Lika yang kesal pun pamit dengan tergesa-gesa, ia menyesali tindakannya yang menganggap remeh lawan mainnya itu, berpikir sudah cukup dengan mengetahui kebenaran itu saja, tapi ternyata ia membutuhkan beberapa bukti untuk menunjukkan kebenaran, sementara yang Sky berikan hanya laporan tertulis tanpa adanya bukti.
Karna meragu Lika bahkan sampai menggeledah ruang baca untuk mencari bukti untuk meyakinkan diri, sekarang! Setelah apa yang terjadi, Lika tidak tahu ke mana ia harus mencari bukti-bukti untuk mengungkapkan kebenaran tentang sikap Layla, tentang kejahatan sang istri pertama dari suaminya.
Layla yang hatinya merasa tak tenang pun tidak melepaskan Lika begitu saja, ia mengikuti langkah kaki Lika yang diyakini pasti akan pergi untuk mendapatkan bukti keburukannya.
“ Kau bisa lakukan apa pun yang kau mau Lika, tapi aku tidak akan membiarkan abi dan umi mengetahui segalanya” seru Layla yang tentunya tak di dengar oleh Lika,
Kala itu Lika tengah asyik dengan pikirannya sendiri, otaknya masih berputar memikirkan cara untuk mendapatkan bukti-bukti nyata dari tindakan Layla, dan berpikir untuk mencari sekutu yang kuat, sang mantan dokter kini menyadari Layla terlampau licik untuk Lika hadapi seorang diri.
Layla memutar bola matanya seraya berpikir, bagaimana caranya untuk menghentikan niat Lika, atau setidaknya mengundur waktu sejenak agar ia bisa mengatur strategi.
Sejujurnya! Layla sudah siap sejak lama jika harus kehilangan Arjuna, tapi yang ia takutkan adalah abi dan uminya, ia takut pada perubahan pandangan mereka terhadapnya nanti, ia takut mendapat kebencian jika kebenaran itu sampai kebusukannya itu terungkap.
Layla merasa tidak adil dengan situasinya saat ini, wanita itu merasa bahwa dirinya tidak bersalah, karna apa pun yang terjadi, itu terjadi di luar kendalinya.
“Hi istri muda! Bukankah kau harus menjagaku, aku ini sedang sakit loh”
Kata-kata itu berhasil membuat Lika menghentikan langkah kakinya, Lika menoleh dan menatap Layla yang mulai terengah-engah, tenaganya belum cukup kuat untuk menyaingi langkah Lika yang terbilang cepat.
Sang mantan dokter pun tergoyahkan, Lika menghampiri Layla yang masih berjalan di belakangnya, diraihnya pundak wanita itu, walau memendam rasa kesal Lika tetap memapah Layla, membantunya berjalan sampai masuk ke dalam mobil.
Sebagai seorang mantan dokter, Lika bisa membuang sesaat amarah dan kebenciannya, hal itu menjadi mudah karna sudah seperti kebiasaan, Lika pun membawa Layla kembali ke rumah sakit.
“ harusnya kau diam dan beristirahat saja” tegur Lika saat membantu Layla berbaring di ranjangnya, kini mereka sudah berada di ruang rawat Layla.
__ADS_1
Padahal Layla hanya diam sepanjang pejalan menuju rumah sakit, ia diam saat Lika membantu membaringkannya, ia juga diam saat Lika memasang infus lalu menyelimuti dirinya, tapi saat Lika hendak meninggalkan Layla untuk beristirahat, wanita itu malah memberikan tuduhan yang menyakitkan hati.
“ Aku bisa terima jika kau merebut Arjuna, tapi aku tidak akan tinggal diam melihatmu yang berusaha merusak hubunganku dengan kedua orang tuaku” ucap Layla dengan serius.
Lika menghentikan langkahnya, tanpa menoleh ia berkata “ Aku tidak berniat untuk merusak hubungan siapa pun, entah itu hubunganmu dengan suamimu, atau hubunganmu dengan orang tuamu, tapi kau sudah terlampau keji untuk di biarkan, terlebih aku sungguh tak rela kau telah menyakiti suamiku”
Lika kemudian berlalu meninggalkan ruang rawat itu, ia menyandarkan tubuhnya pada dinding setelah menutup rapat pintu ruang rawat itu, tuduhan itu begitu menyakitkan.
Lika bertanya dalam hati ‘Aku ingin membebaskan cintaku dari penderitaan, tapi apakah aku akan menjadi perusak hubungan orang lain jika melakukannya? Sekarang apa yang harus aku lakukan?’
Lika menghela nafas panjang lalu bergumam “aku tak ingin jadi perusak hubungan orang”
“ hi gadis perawan!”
Seruan yang tak asing itu membuat Lika menoleh ke samping, air mata yang hendak menetes pun jadi tertahan di pelupuk mata, ia melihat wajah yang tak asing sedang menghampirinya.
“ Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Viki yang kini berdiri di hadapan Lika
“ Tidak ada! Aku hanya heran bagaimana bisa aku berteman dengan orang seperti dirimu!” ucap Lika penuh arti, ya! Ia mencoba untuk tak mengalihkan topik dalam pikiranya
“ Memangnya aku kenapa?” tanya Viki bingung
Lika beranjak dari tempatnya ia berjalan seraya memberi penjelasan “ Ya...! Aku hanya bingung kau itu orang baik atau orang jahat Viki, kau mencari uang dengan cara yang salah demi mendapat gelar dokter, tapi dengan cara itu juga kau membantu banyak pasien yang tidak mampu di rumah sakit ini”
Viki awalnya hanya mengikuti Lika, namun begitu melihat kursi kosong ia menarik Lika untuk duduk bersama, mereka duduk berdampingan di depan ruang rawat orang lain.
Viki duduk dengan memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Lika, ia menatap wanita itu kemudian berkata “ Aku juga heran, kenapa setiap bertemu denganmu kau selalu menceramahiku, pembahasanmu selalu sama, apakah kau menyadarinya?”
Lika menoleh dan mereka saling melempar senyum pada satu sama lain, tapi sesaat kemudian Viki langsung beranjak dari duduknya, ia melihat jam di pergelangan tangannya lalu berkata “ oh... Astaga... Aku lupa kalau aku harus memeriksa pasienku”
__ADS_1
“ aku pergi ya Lika, lain kali aku akan mengajakmu berbincang lebih lama” pamit Viki seraya mulai melangkahkan kakinya, ia bahkan setengah berlari menjauh dari Lika setelah menyelesaikan ucapannya.
Walau hanya sesaat, pertemuan dan percakapan Lika dan Viki mengalihkan pikiran Lika yang kalut, namun rasa pusing itu kembali menyerang, ia memijat kepalanya yang pening.
Seorang anak menggenggam tangan Lika, tangan mungil itu mengguncangkan tangan Lika seraya berseru “ kak! Kak!” dengan suara merdu khas anak-anak.
Lika menjawab panggilan itu dengan sebuah kode, ia menggerakkan kepala seolah bertanya “ ada apa?”
“ kakak tidak boleh menyimpan ponsel seperti itu, bahaya tau!” ucap anak kecil seraya menunjuk ke bangku kosong di samping Lika
Lika menoleh ke samping dan melihat sebuah ponsel pintar tergeletak begitu saja di sampingnya, ia mengambil ponsel itu dan anak kecil itu malah menepuk kakinya.
“Mmm.. ?” Lika hanya berdehem saat anak kecil itu meminta perhatiannya.
“ aku sudah membantu kakak loh, bukankah seharusnya kakak berterima kasih padaku” ucap anak itu dengan wajah polosnya
Lika terkekeh kecil lalu berkata “ terima kasih adik manis!” sambil tersenyum dan menepuk lembut pipi anak itu.
“ iya sama-sama! Aku pergi ya kak!” pamitnya yang kemudian berlari menjauh
Lika menatap ponsel itu, dari bentuknya, ponsel itu memang sama dengan ponsel miliknya, tapi ponsel milik Lika jelas masih ada di saku celananya, bagian itu bahkan terlihat menyembul karna ponselnya memang masih di sana.
Lika berpikir ponsel itu pasti milik Viki, untuk memastikannya ia pun menghidupkan layar ponsel itu, ia melihat foto kemesraan Viki dan juga Layla di layar ponsel itu.
Rasa penasaran membuat lika bertindak tidak sopan, ia mencoba membuka kunci layar ponsel itu, beruntungnya ponsel itu tidak terkunci oleh sidik jari maupun password sehingga Lika bisa dengan mudah menggunakannya.
Lika langsung mengakses galeri foto, niat hati hanya ingin mengirim foto yang dijadikan wallpaper, tapi ia malah lebih tertarik dengan vidio yang menampilkan wajah Layla.
Lika menekan tombol ▶️ dan....
__ADS_1