Menjadi Pelakor

Menjadi Pelakor
Episode 79


__ADS_3

Lika mendorong tubuh Beni sampai pria itu terhuyung ke belakang, kemudian menjambak rambut pria itu seraya memaki “ dasar pria bodoh! Kenapa kau berkata kasar seperti itu?”


“ ahh... Ampun kakak ipar! Tolong lepaskan aku! Aku bisa jelaskan” jawab Beni seraya mengaduh kesakitan.


“ sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Lika, ia melepaskan Beni kemudian melipat tangan di dada


“ ceritanya panjang” Beni tampak berniat untuk melarikan diri dari situasi yang terjadi saat ini.


“ aku akan mendengarkannya” jawab Lika seraya duduk di undakan tangga kedua menuju rooftop.


Beni menghela nafas kasar karna tak berhasil menghindar, ia pun kembali menutup pintu tangga darurat kemudian mendudukkan diri, pria itu duduk bersila sambil menghadap ke arah Lika.


“ ini semua terjadi gara-gara kau dan suamimu!” Raut wajahnya yang gusar berubah menjadi kesal saat Beni menyalahkan Lika dan Arjuna.


“ kenapa kau jadi menyalahkan kami?” tanya Lika tak mengerti


“ Aku tersiksa karna harus mendengar lagu cinta setiap hari, apa kau tahu itu?" geram Beni jadi emosi


“ tapi aku sudah menuruti permintaanmu untuk tidak bercinta di kantor kan! Apa itu masih belum cukup?" Sahut Lika kesal


“ iya! memang benar! Tapi semuanya terjadi sebelum aku memintamu untuk melakukan itu?”


“ tunggu! Jangan bilang....


Lika tak sanggup menyelesaikan ucapannya


“ ini tidak seperti yang kau bayangkan kakak ipar, kami tidak sampai melakukannya, kami hanya saling memuaskan dengan mulut” Beni mendadak kembali panik


Mendengar itu Lika pun kembali menyiksa Beni, mengguncang tubuh pria itu sambil mencengkeram kuat lengannya, seraya berkata “ dasar!!! Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah lakukan, karna itu namanya bukan 'hanya' bodoh! "


“ tapi Aku tidak mau menikah” ucap beni seraya memberontak dengan tegas, melepaskan diri dari cengkeraman Lika


“ Lagi pula aku tidak pernah memaksanya untuk melakukan itu, dia juga ikut terpancing gairah sama seperti aku"


“ kenapa?” tanya Lika tak mengerti


“ kenapa apanya?” Tanya Beni yang tak mengerti ke mana arah pembicaraan itu.


“Kenapa kau tidak mau menikah? Dasar bodoh!” jawab Lika seraya memukul lengan Beni


“ ya itu karna aku tak ingin diperbudak”

__ADS_1


Jawaban yang tidak masuk akal itu membuat Lika kesal, ia mengepalkan tangan seraya menunjukkan raut wajah geram pada Beni, tapi kemudian ia meninggalkan Beni dan melangkah keluar dari sana.


“ bodoh!” maki Lika saat melintas di hadapan Juli


Ya! Lika bertemu dengan Juli saat hendak kembali ke ruang presdir untuk mengadu pada sang suami. Juli cuek saja walau pun tahu makian itu ditujukan untuknya.


Tak hanya membanting pintu ruangan presdir, Lika bahkan langsung mendudukkan diri di atas pangkuan Arjuna, sambil memasang raut wajah kesalnya, yang terlihat menggemaskan di mata sang presdir.


“ kenapa lagi? Aku sudah meng izinkan untuk pergi keluar sendirian kan! Masih belum puas juga!” ucap Arjuna, ia menghentikan pekerjaannya sesaat untuk memberi perhatian pada sang istri


“ semua ini gara-gara Beni” ucap Lika


“ jadi Beni yang membuat suasana hatimu tambah buruk? "Tanya Arjuna memastikan


"Memangnya apa yang telah Beni lakukan padamu?" tanya Arjuna lagi


Lika baru menghela nafas kasar, niatnya untuk menjawab tanya sang suami ia urungkan saat mendengar suara handle pintu, tanpa permisi, Juli menerobos masuk ke ruangan itu.


“ bukan padaku, tapi padanya” ucap Lika sambil menunjuk ke arah Juli


“ aku?” tanya Juli seraya menunjuk dirinya sendiri


“ tunggu dulu” Arjuna memotong sang istri yang hendak memberikan penjelasan


“ Juli kenapa kau menerobos masuk ke ruangan ku?” tanya Arjuna.


Sang presdir tidak suka jika ada yang menerobos masuk begitu saja, dan mengganggu kebersamaan serta kemesraannya dengan sang istri.


“ Direktur dari PT xx menghubungi, beliau bertanya apakah rapat sore ini bisa dimajukan atau tidak? Saya sudah memberikan penolakan tapi beliau bersikukuh meminta saya untuk menanyakan pendapat bapak terlebih dulu” ucap Juli menjelaskan


“ Apa alasannya?” tanya Arjuna, tangan sang presdir ternyata tidak bisa diam.


“ beliau berkata bahwa istrinya meminta di temani belanja sore ini” ucap Juli menyampaikan


“ aku bisa, majukan saja jadwalnya” ucap Arjuna sambil tersenyum


“ baik pak!” ucap Juli seeaya mengangguk, ia pun berbalik dan hendak pergi meninggalkan ruangan.


“ ahhh...!” Lika bernyanyi saat tangan Arjuna menyusup masuk ke dalam lubang surganya.


Juli tersentak kaget saat mendengar senandung cinta itu, ia sampai hampir jatuh karna tersandung kakinya sendiri, tapi kemudian Juli pun bergegas melarikan diri.

__ADS_1


“ kakak!” Lika melayangkan protes sambil memukul lengan sang suaminya yang nakal itu.


Arjuna tersenyum kemudian berkata “ itu hukuman karna kau terus menatap Juli saat tengah berada dalam pangkuanku”


Lika mendengus kesal, ia hendak turun dari pangkuan sang suami, namun presdir tampan itu mendekap pinggangnya yang ramping, agar tetap berada di sana, di atas pangkuan Arjuna.


Wajah Lika tiba-tiba jadi serius, wanita itu kemudian berkata “ sebenarnya Beni lah yang memintaku untuk tidak melayanimu di kantor, Beni bilang ia (Beni) tak bisa mengendalikan dirinya saat mendengar suara desahanku”


“ kalau begitu kau tinggal menahan diri agar tidak mendesah kan! Kenapa kau malah memintaku untuk tidak melakukannya di kantor hah!” raut wajah Arjuna pun jadi ikut serius.


Lika menatap sang suami dalam diam, dan Arjuna membalas tatapan itu, cukup lama mereka saling pandang, sampai Arjuna melewati batas dan mencium bibir Lika dengan rakus.


Tak hanya menikmati, tapi Lika juga membalas cum*buan itu, Arjuna bangkit dan menggendong Lika masuk ke dalam kamar tanpa melepas pagutan bibir mereka, presdir tampan itu lantas membaringkan tubuh Lika di atas tempat tidur dengan perlahan.


Cum*buan itu semakin dalam, tangan yang semula hanya melingkar di pinggang ramping Lika, mulai menyusup ke sela-sela baju, meraba apa yang bisa ia (tangan Arjuna) raba, membuka apa yang bisa ia (tangan Arjuna) buka.


Lika sungguh tak tahan, sentuhan Arjuna begitu menggairahkan, ia di mabuk asmara sampai menginginkan lebih dari sekedar ciuman.


Lika begitu tersiksa, ia tak kuasa menahan diri untuk tak bersuara, wanita itu sampai menggigit lengannya sendiri agar tak menyanyikan senandung lagu cinta, yang mungkin akan terdengar oleh dua orang yang berada dalam lingkup ruangan presdir.


“ kenapa berhenti kak?” Tanya Lika saat Arjuna tiba-tiba menghentikan aksinya


“ sebentar sayang!” sahutnya seraya bangkit dari tempatnya.


Arjuna duduk di tepi ranjang, ia mengambil sebuah alat pengendali dari dalam laci nakas, sang presdir tampan itu tampak mengotak-atik alat yang memiliki bentuk seperti ponsel itu.


Lika melingkarkan tangannya, memeluk Arjuna dari belakang, ia yang tak bisa menunggu lama pun berkata “ kak aku menginginkan lebih, dan aku sedang ingin di manja sekarang”


“sure baby! Aku akan turuti apa pun mau mu” ucap Arjuna yang kembali meletakan alat itu, sang predir pun membalikan tubuhnya untuk kembali menjamah tubuh sang istri.


“ jangan siksa dirimu sayang” ucap Arjuna seraya menahan tangan Lika, wanitanya itu berniat untuk kembali menggigit tangannya demi menahan diri untuk tidak bersuara.


“ tapi.... Bagaimana jika mereka mendengarnya”


“ jangan khawatir!” ucap Arjuna seraya menyingkirkan anak rambut yang tanpa sengaja bergerak menutupi wajah sang pujaan hati.


“ Bernyanyilah sesukamu, aku sudah mengaktifkan peredam suara di ruangan ini” bisiknya dengan nafas yang beraturan akibat kabut gairah.


Ada yang terbakar tapi bahagia, ada pula yang menunggu sampai merasa bosan.


Setelah sekian lama mereka kembali bercinta di siang hari, Arjuna bahkan sampai lupa telah menyetujui permintaan untuk memajukan jadwal meeting, karnanya, client yang sudah menunggu cukup lama memilih pulang, dan menunda meeting hingga esok hari.

__ADS_1


__ADS_2