
Arjuna dan beni ternyata benar-benar melakukan apa yang telah mereka rencanakan, dan kini ketiga orang itu sudah tiba di kediaman bastian, mereka turun bersama saat mobil sudah terparkir dengan sempurna di halaman rumah.
“ lik nanti kenalin sama lion ya!” ucap beni
Pria berkacamata itu penasaran dengan sosok lion, anak kecil yang sering di sebut sebagai anaknya lika, beni mengingat kejadian saat barbeque-an, karna itu ia jadi ingin tahu seberapa nakal anak yang bernama lion itu, sampai membuat beberapa orang tampak pucat.
“ yang mana rumahmu? “ tanya beni
Pria berkacamata itu tampak bingung ketika mereka malah berhenti di tengah jalan, berada tepat di jalan yang biasa dipakai untuk putar balik.
“ rumah saya di balik benteng ini pak ben!” seru lika seraya menunjuk pagar beton yang menjulang tinggi.
“ bukankah di balik sana itu hutan ya?” bisik beni setelah menyikut lengan arjuna
Arjuna hanya menggedikkan bahu menjawab tanya itu, tapi diam-diam sang presdir tampan itu juga menaruh tanya yang sama, ia penasaran, karna yang ia tahu juga di balik benteng beton itu memanglah hutan.
Lika membuka pintu kecil itu, ia melangkah masuk dengan di ikuti oleh arjuna dan beni, kedua pria itu memperhatikan sekitar dengan seksama, dan yang terlihat pertama kali memanglah pepohonan rimbun
Mereka menapaki jalan setapak dari kayu yang bertengger di atas rawa-rawa, menyusuri jalan itu mengikuti langkah kaki lika, beberapa hewan terlihat di sepanjang perjalan, dari yang berbadan besar seperti buaya, kadal besar, hingga komodo, sampai hewan-hewan kecil seperti katak, kodok, salamander dan triton, muskrat, berang-berang, burung rawa pun ada.
Selain hewan yang dibiarkan liar, ada beberapa orang juga yang mereka temui, beberapa pria yang mengenakan kaos senada, mereka adalah para petugas kehutanan yang mengurus hewan dan tanaman di area itu.
Arjuna dan beni, kedua pria itu pun ikut membalas senyum ramah mereka walau tidak mengenalnya, sementara lika tampak akrab dengan orang-orang itu.
" pak tolong sampaikan pada pak isan untuk membawa lion ke rumah, ada yang mau kenalan" ucap lika yang kemudian di anggukki oleh petugas itu.
Setelah tiba di ujung jalan setapak kayu, mereka langsung menapaki jalan tanah yang di dominasi batu kerikil, sebuah rumah dengan pencahayaan temaram yang tersembunyi di antara rimbunnya pohon-pohon besar pun mulai terlihat.
Mata kedua pria itu terbelalak saat melihat rumah lika, sungguh indah pemandangan di hadapan arjuna dan beni, keduanya sampai menoleh saling menatap sesaat, dengan kekaguman yang terpancar di mata masing-masing.
“ Di dalam gubuk bambu inilah saya tinggal, mari masuk! ” seru lika
" kalau gubuk bambunya sekeren ini, lalu apa kabar dengan apartemen gue" batin beni menjerit tak karuan.
__ADS_1
Lika mengajak mereka masuk kemudian mempersilahkan mereka untuk duduk santai di ruang tamu, sementara itu, lika pamit untuk membuatkan mereka minum sekalian memanggil sang ayah.
Tak lama pak gunawan yang mereka tunggu pun datang menghampiri, arjuna dan beni berdiri untuk memberi penghormatan.
" silahkan! duduk dengan santai" ucap gunawan seraya mendudukkan diri, dengan diikuti oleh arjuna dan beni yang kembali duduk di sana.
Lika kembali dengan membawa nampan, gadis itu menyuguhkan empat gelas teh, lalu ikut duduk bersama.
" bagaimana kabar om? " tanya arjuna
" ya! Beginilah, seperti yang kau lihat" jawab gunawan
" angin apa yang membawamu kemari jun?" tanya gunawan kemudian
" Jadi maksud kedatangan juna kemari itu untuk meminta izin dari om" ucap arjuna nada bicaranya terdengar sangat serius.
" izin untuk apa?" tanya gunawan
Arjuna menghela nafas panjang, entah kenapa jantungnya berdebar kencang, sama seperti saat pertama kali bertemu dengan ayah mertuanya dulu.
Gunawan yang melihat itu pun melemparkan candaan " tunggu! Jangan bilang kau mau melamar putri om ya?"
" apaan si yah! Candaannya ga lucu" sahut lika,
Gunawan tertawa melihat putrinya sedikit salah tingkah, arjuna dan beni jadi ikut-ikutan tertawa walaupun dengan canggung.
" tidak usah terlalu serius gitu donk sayang" ucap gunawan seraya mencolek dagu sang putri
" Jadi bagaimana jun?" tanya gunawan kemudian
Karna pembahasan itu arjuna mendadak jadi bodoh, presdir tampan itu tidak tahu apakah gunawan sedang membicarakan pernikahannya dengan lika atau tengah membahas sakitnya, ia pun bertanya " gimana apanya om? "
" ish... Aku bertanya prihal ijin yang kau minta itu" jawab bastian
" ah itu.... Jadi begini om, om kan pasti sudah tahu tentang keadaan juna, juna amat berterimakasih karna putri om bersedia membantu sampai sejauh ini, dan kini juna harap om bisa memberikan ijin agar lika bisa membantu tahap akhir pengobatan juna" tutur arjuna menjelaskan
Gunawan menatap putrinya yang malah menundukan kepala, ia tersenyum lalu berkata " untuk itu kau harus menikahi putriku" gunawan bicara pada arjuna namun tatapan matanya terus menatap putri kesayangannya.
__ADS_1
" kenapa harus begitu om? " tanya arjuna bingung
Dan pertanyaan itu membuat gunawan menoleh ke arah arjuna sesaat, lalu kembali menatap lika dengan mengajukan sebuah tanya " apa kau sudah memberi tahu bagaimana proses pengobatan tahap terakhirnya? "
" belum yah! lika bingung bagaimana menjelaskannya" jawab lika jujur
" begini juna, tahap akhir dari pengobatan yang kau jalani itu memerlukan sentuhan intim, jadi aku hanya akan mengijinkannya jika kau bersedia menikahi putriku dulu" ucap gunawan menjelaskan
" ayah!" ucap lika dengan suara memelas seraya memegang lengan sang ayah, wanita itu hendak mengajukan protes namun sang ayah memotong ucapannya.
" kalian harus menikah dulu" tegas gunawan seraya menatap lika dan arjuna bergantian
" itu tidak mungkin ayah, kak arjun sudah punya istri" sanggah lika cepat
" kalau begitu kenapa tidak istrinya saja yang melakukannya, kenapa harus kau sayang? " ucap gunawan seraya menatap lika
" ayah! Selama ini mba layla tidak bersikap kooperatif, jadi lika kesulitan untuk membimbingnya" ucap lika menjelaskan
" Syarat dari permintaan itu hanya satu, PERNIKAHAN!!!" tegas gunawan
“ jika aku menerima pernikahan itu maka aku akan menjadi pelakor” batin lika menjerit bersamaan dengan helaan nafas panjangnya.
" Jika itu satu-satunya cara untuk sembuh juna siap melakukannya om, tolong beri juna waktu untuk membicarakan ini dengan keluarga" ucap arjuna yakin
Arjuna hanya ingin sembuh, ia sudah lelah dengan segala bentuk penyiksaan sang istri, serta rasa bersalahnya yang telah membuat layla berubah menjadi liar, walau arjuna tahu keputusan ini akan menyakiti istrinya sekali lagi, tapi ia yakin kebahagiaan yang akan datang akan mampu menghapus luka itu.
" yah! Lika gak mau jadi pelakor" rengek lika pada sang ayah
" pelakor itu adalah istilah untuk menyebut seorang perempuan yang dianggap telah memicu keretakan rumah tangga seseorang, pernikahan ini tidak diniatkan untuk merebut arjuna dari istrinya, ataupun dengan sengaja memisahkan keduanya, melainkan demi kebaikan semua orang, jadi aku rasa kau tidak pantas menyandang status itu" tutur beni disertai senyum tipisnya, rupanya pria berkacamata itu mendengar bisikan lika.
" Ayah setuju dengannya sayang, kau kan menikah dengan arjuna hanya demi menghindari dosa dari perzinahan, jadi ayah rasa tidak masalah, toh agama juga mengizinkan pria memiliki lebih dari satu istri, asal pria itu bisa adil" tutur sang ayah
" Tidak perlu ragu lika, yang ayahmu dan beni katakan benar, dan kau tidak perlu takut, aku akan berusaha agar tidak ada satupun orang yang akan menyebutmu dengan sebutan itu" tutur arjuna menimpali.
" kalau begitu sudah diputuskan, pernikahannya akan berlangsung malam ini juga" seru bastian seraya melangkah masuk dengan di menggandeng tangan sang istri.
" papah! mamah! kalian di sini?" tanya arjuna kaget
__ADS_1
" Sejak beni mengirimkan pesan bahwa kalian akan menemui gunawan" jawab bastian santai seraya mendudukkan diri, ia kemudian merangkul pundak sang istri yang duduk tepat di sampingnya, senyum kebahagiaan terpancar jelas dari sorot mata keduanya.