
Seperti yang kita tahu, di balik dinding tanpa celah itu ada sebuah hutan hijau yang rimbun, ada air sungai yang jernih mengalir sampai ke hulu, ada hewan-hewan yang hidup dengan damai, dan ada pula para pekerja yang sibuk merawat tempat itu setiap saat.
Dan saat ini, keributan tengah terjadi di salah satu titik di tengah hutan buatan itu, seekor serigala arktik jantan tengah mengamuk setelah serigala arktik betinanya di masukan ke dalam kandang jeruji besi, dan hendak di bawa pergi.
Serigala adalah salah satu hewan paling setia di muka bumi, seekor serigala dapat memiliki beberapa pasangan dalam hidupnya, tapi hanya memiliki satu pasangan dalam satu waktu. Artinya, mereka tak akan bereproduksi dengan serigala lain selama masih memiliki pasangan.
Karna itu, serigala berbulu putih itu menargetkan para pawang yang kini mengelilinginya, menghadangnya agar tidak mengikuti betinanya yang hendak di bawa pergi untuk mendapatkan pengobatan.
Berulang kali serigala itu mencoba melarikan diri dari lingkaran manusia yang mengepungnya, ia bahkan sudah membuat beberapa dari mereka meneteskan darah, namun baik serigala itu maupun para pawang sepertinya tak ada yang mau mengalah.
Hal ini memang bukan yang pertama kalinya terjadi, namun jika di biarkan terus, pertarungan hanya akan berakhir jika sudah ada yang mati, entah itu para pekerja yang mati kelelahan atau hewan buas itu yang mati di siksa oleh para pekerja.
Sebagai pemilik Gunawan tidak bisa tinggal diam setelah mengetahui hal itu, ia tentu tahu ini akan terjadi, tapi ia tak menyangka, beberapa pawang justru bertindak ceroboh, mereka menggenggam tali cambuk dan membuat hewan buas itu semakin buas karna merasa terancam.
Gunawan menarik cambuk dari salah satu pawang lalu melemparnya ke sembarang arah, ia mendekati serigala itu dengan perlahan, lalu naik ke punggung serigala seperti tengah menunggangi seekor kuda.
Serigala yang tengah kalap itu pun bergerak tak beraturan, seolah berusaha menjatuhkan Gunawan yang mendekapnya dengan erat dari atas tubuhnya.
Gunawan pun tak tinggal diam, ia menarik leher serigala sembari menekan titik vitalnya, tindakan itu seketika membuat serigala itu terdiam, menyerah dengan keadaannya.
Gunawan lalu mengelus bagian leher yang tadi ia cengkram dengan kuat, seraya berbisik " tenanglah.... semuanya akan baik-baik saja, tidak akan ada yang menyakitimu selama aku masih ada di sini, kekasihmu akan segera kembali, percayalah! Namun hutan ini akan menjadi surga atau neraka tergantung pada perilaku mu, kau mengerti"
Serigala itu mendudukkan diri, menurunkan Gunawan dari atas tubuhnya dengan perlahan, lalu menengadahkan kepalanya ke atas, ia melolong seraya meneteskan air mata.
Gunawan yang mengerti kesedihan hewan itu pun berjongkok lalu mendekapnya dengan sayang, membelai punggungnya dengan lembut, kemudian berkata " menurut lah, dan tunggu pujaan hatimu dengan tenang, percayalah padaku, semuanya akan baik-baik saja"
Serigala itu kembali melolong menyahuti ucapan itu, serigala termasuk hewan pintar yang bisa mengerti dengan ucapan manusia, karenanya tak sulit untuk dapat berkomunikasi dengan mereka, tapi juga tak mudah terutama saat mereka sedang stress.
__ADS_1
Gunawan melepaskan pelukannya, lalu membelai lembut wajah serigala berbulu putih itu dengan sayang, lalu berkata " minta maaf lah pada orang-orang yang telah kau sakiti"
Serigala itu pun menurut, ia menghampiri satu persatu orang-orang yang telah ia sakiti, bergelayut manja pada mereka sebagai tanda permohonan maafnya.
Gunawan pun bangkit berdiri lalu berkata " kalian yang terluka bersihkan dulu lukanya lalu obati, yang baik-baik saja urus sisanya" dengan penuh wibawa
" baik tuan! " sahut mereka serentak
Gunawan pun meninggalkan tempat itu, ia menghampiri sahabatnya yang tengah duduk santai di salah satu gazebo di dalam hutan, tempat istirahat para pekerja di sana, sahabatnya itu tampak tengah menikmati teh dengan tenang, padahal di salah satu tiang gazebo itu ada seekor ular yang tengah melingkar.
Dengan cepat Gunawan melompat ke dataran yang lebih tinggi, mendekati sahabatnya lalu mencengkram kepala ular itu, kemudian melemparnya ke atas pohon.
" Dasar ceroboh!" tegur nya kemudian
" heyy.... ! Apa yang kau lakukan? Kau menyakitinya dengan sangat kasar, dasar tidak berkepriularan" gerutu Bastian mengeluhkan sikap sahabatnya
" Aku juga tahu tapi ular itu kan sedang tidur, lihatlah karna ulah mu ada empat bintang yang berputar di kepala bang ular" ucap konyol Bastian
" ular itu hewan yang licik, dia hanya pura-pura tidur dan perlahan mendekatimu, aku menangkap kepalanya saat dia mengincar bagian belakang lehermu, apa kau tahu! Harusnya kau berterimakasih padaku"
" ya... baiklah.. terimakasih" ucap Bastian tanpa minat
Gunawan berdecak sebal. Bastian pun menarik sahabatnya untuk dudu di hadapannya, ia kemudian menuang teh ke dalam gelasnya dan juga gelas Gunawan.
Gunawan pun meraih cangkir yang disodorkan sahabatnya, ia meneguk dan menyecap rasa teh itu dengan penuh penghayatan.
" enak!" ucapnya kemudian menyeruput kembali teh nya
__ADS_1
" jelas enak lah! Itu kan teh daun jati yang kau tanam sendiri, dan baru aku petik 25 menit lalu" ucap Bastian enteng
Tapi ucapan itu justru membuat Gunawan menyemburkan teh di mulutnya, rasa kesalnya yang hampir mereda itu kembali, ia bahkan meletakan cangkirnya dengan kasar.
" dasar jorok...!" umpat bastian
Gunawan menatap sahabatnya dengan tajam, lalu berkata " harus berapa kali aku bilang padamu, jangan memetik teh dari hutan ku, di dalam kamar gazebo kan ada berbagai jenis teh yang bisa kau seduh, kenapa kau terus memetiknya sendiri, bisa gundul hutan ku jika kau melakukanya terus" dengan penuh ketegasan
" ya tapi kan daun teh yang baru di petik itu rasanya lebih nikmat, lagi pula aku tidak melakukanya terus menerus, paling juga cuma satu atau dua kali dalam sehari" ucapnya tanpa rasa bersalah
"sudahlah berhenti marah-marah dan nikmati saja, sudah terlanjur juga, sayang kan jika harus di buang-buang" ucap Bastian lagi dengan tenang, ia bahkan mengisi kembali gelas Gunawan yang hampir kosong.
Gunawan kembali menghela nafasnya, ia kembali meraih cangkir itu dan hendak meneguk kembali tehnya.
" ponselmu berdering terus sejak tadi" ucap Bastian
" Apa kau tidak bisa katakan itu nanti saja setelah aku minum" gerutu Gunawan seraya kembali meletakan cangkirnya.
Bastian terkekeh pelan, pria tua itu sudah lama tidak merasa puas setelah menjahili sahabatnya.
Gunawan pun memeriksa ponselnya yang berharga, ia memeriksa siapa yang sudah menghubunginya berulang kali, dan ia melihat panggilan masuk sebanyak 20 kali dari mentri kesehatan.
Dahi bastian mengkerut saat melihat sahabatnya tersenyum menyeringai, seperti seorang ABG yang mendapat pesa dari pujaan hatinya.
Gunawan pun bergegas menghubungi balik sang mentri. Bastian yang penasaran pun ikut menempelkan telinganya untuk menguping.
Tak lama panggilan itu terjawab, dengan sebuah sapaan yang ramah. Namun senyum itu menghilang saat Gunawan mendengar tujuan mentri menghubunginya, ia pun melirik sahabatnya, Bastian yang tanggap pun langsung mengangguk, mengerti dengan kode yang diberikan Gunawan.
__ADS_1
Setelah sambungan itu terputus, Gunawan bergegas kembali ke rumah, tak lupa ia juga menghubungi sang menantu untuk segera pulang.