
Arjuna duduk di atas tempat tidur, presdir tampan itu tengah sibuk dengan laptopnya, ia memilih bekerja dari rumah karna menghawatirkan sang istri.
Lika membuka mata, melihat sang suami yang tidak memperhatikan, tanganya terulur memeluk pinggang, mencoba menarik perhatian sang suami.
Arjuna menoleh saat menyadari pergerakan sang istri, melempar senyum manis kemudian melemparkan satu pertanyaan yang tak penting.
" sudah bangun sayang?"
Lika hanya mengangguk pelan. Arjuna membelai lembut kepala sang istri dengan sayang, pria itu memindahkan laptop dari pangkuannya, dan menarik tubuh sang istri untuk masuk dalam dekapannya.
"kalau masih sibuk kenapa sudah pulang?" tanya Lika seraya mendongak menatap sang suami.
" aku hawatir padamu sayang"
Lika tersenyum, dengan cepat ia merubah posisinya, lalu menyerang Arjuna dengan agresif, presdir tampan itu tentu saja merasa senang.
" ah... ternyata aku juga suka di dominasi seperti ini" gumam Arjuna sesaat setelah percintaan panasnya berakhir.
Lika kembali tertidur, tapi Arjuna memilih bangkit dan membersihkan diri, ia berniat akan memasak sesuatu untuk sang istri, sebagai rasa terima kasih atas pelayanannya yang memuaskan.
Usai membersihkan diri, ia melirik sang istri yang terlelap, dengan tangan yang meraih gagang lemari, pria itu memalingkan wajahnya, menatap susunan baju dalam lemarinya, ia memilih setelan santai untuk ia kenakan, sesekali ia melirik sang istri di sela aktivitasnya, jangan tanya bagaimana ekspresinya saat ini, senyum manisnya tak kunjung memudar.
Arjuna masih menyempatkan melirik sang istri saat hendak keluar dari kamar, karenanya pria itu tersentak kaget saat melihat Gunawan berdiri di hadapannya.
Gunawan memicingkan mata menatap tubuh Arjuna yang terlihat segar, pria tua itu bahkan mencoba mengintip ke dalam kamar, mamun Arjuna bergegas menutup pintu, tak ingin ketahuan telah melakukan aktivitas panas.
" Lika masih tidur yah" ucap Arjuna yang kemudian berlalu
" belum bangun juga dia?" tanya Gunawan seraya mengikuti dari belakang
" tadi sempat bangun, tapi karna Lika bilang masih ngantuk jadi aku suruh tidur lagi" terang Arjuna
Gunawan mengangguk mengerti, lalu bertanya" bagaimana menurutmu? "
"Bagaimana apanya?" tanya Arjuna tak mengerti
Gunawan berdecak kesal lalu menjawab tanya itu " Lika....! Bukankah ada yang berbeda dengannya? "
Sejenak Arjuna memikirkan dan menimbang sikap sang istri.
__ADS_1
" iya kan! Jangan bilang kau tidak sadar istrimu berubah! "
" mmmm... iya sih! Lika jadi sedikit lebih manis" ucap Arjuna, pria itu tersenyum mengingat kejadian hangat tadi, sikap Lika yang lebih manja padanya membuat pria itu senang, ia merasa sikap istrinya sangat manis.
Gunawan yang kesal menepuk jidatnya sendiri, pria tua itu tak mengerti harus bagaimana menjelaskan pada Arjuna, karna tampaknya pria itu tidak menyadari perubahan sang istri.
" tuan besar kenapa tuan?" tanya koki yang menghampiri
Arjuna mengedikkan bahu seraya melihat ayah mertuanya menjauh, ia meminta koki untuk tidak membantunya, malam itu Arjuna menyiapkan makan malam seorang diri, tak hanya untuk Lika tapi untuk sang ayah mertuanya juga.
Hari-hari berlalu dan Arjuna masih belum menyadari perubahan yang Gunawan maksud, dan malam ini adalah hari di mana Lika akan mendapatkan kembali gelar dokternya, tapi tentu saja Lika tidak mengetahui hal itu.
Arjuna membawa Lika ke salah satu ballroom di hotel ternama, pria itu membuka kain yang menutup mata Lika tepat di depan pintu ruangan.
Lika melirik Arjuna yang berada di sampingnya, ia tampak bingung melihat situasi di mana para awak media berkumpul, dan ada dua orang dari kehakiman yang tengah duduk di atas panggung.
" ini kejutan untukmu sayang, mari masuk! " ucap Arjuna
Arjuna merangkul pinggang sang istri dengan mesra, hal itu tak luput dari sorotan kamera, mereka mengabadikan momen itu dengan rasa tak sabar ingin bertanya.
Konferensi pers pun di mulai setelah Lika dan Arjuna ikut duduk di atas panggung, seorang juru bicara dari kehakiman pun menyatakan niatnya, ia menyampaikan permintaan maaf kepada Lika dan menyatakan akan mengembalikan gelas dokter beserta ijin praktek nya.
" kau suka terkejutnya?" bisik tanya Arjuna
Lika mengangguk pelan, mata beningnya mulai berkaca-kaca, Lika berusaha menahan air mmatnya agar tidak tumpah.
Arjuna mengusap lembut pipi sang istri, tampaknya wanita itu tak bisa menahan tangis kebahagiaanya, terlebih dalam kesempatan itu Arjuna juga memberi tahu media bahwa Lika adalah istrinya.
Suasana yang kondusif berubah riuh saat hendak masuk sesi bertanaya, bukan karna para wartawan yang saling berebut, melainkan karna Lika tiba-tiba pingsan.
" Bagaiman keadaan Lika? " tanya Arjuna cemas
" Sebaiknya kita bawa istrimu ke rumah sakit, aku tidak dapat memastikan karna ini bukan bidangku" ucap dokter Boy
Dokter boy hanya bisa menduga-duga tentang kondisi Lika, ia tidak berani memberikan kesimpulan karna takut salah, tapi pria itu tak menduga bahwa penjelasanya malah membuat Arjuna semakin cemas.
Arjuna benar-benar membawa Lika ke rumah sakit, pria itu mondar-mandir di depan ruang pemeriksaan dengan raut wajah cemas.
" Tenanglah... !"
__ADS_1
" Tenang? Kau memintaku untuk tenang saat istriku.... , Dokter Boy! dia di dalam sana dan aku tak tahu apa yang terjadi padanya" geram Arjuna kesal
Dokter Boy malah tersenyum, lalu berkata " kecemasan yang sia-sia"
Tak tahan melihat kemarahan di wajah Arjuna, dokter Boy pun membawa Arjuna masuk ke ruang USG, di depan layar komputer dokter boy itu malah berpikir untuk menjahili sang presdir tampan itu.
" Ada gumpalan darah di dalam perut istrimu" tutur Boy dengan wajah datar
" Apa itu berbahaya? " tanya Arjuna tanpa mengalihkan pandanganya dari layar, walau sebenarnya ia tak bisa mengerti informasi yang tertera di dalamnya.
" ya! Hidup istrimu yang jadi taruhanya" ucap dokter Boy, pria itu sudah tak mampu untuk menahan tawanya.
' ternyata asik juga menjahili orang yang bucin akut' batin Boy
Arjuna tiba-tiba mencengkram kerah jas Boy, dengan penuh penekanan ia berkata " Singkirkan gumpalan darah sialan itu"
Gunawan yang mendengar itu bergegas menghampiri, ia memukul kepala Arjuna seraya berkata " Apa kau sudah kehilangan akal?" setengah berteriak.
Bastian menjambak rambut Arjuna seraya berkata " Aku tidak akan membiarkanmu menyingkirkan cuciku"
Serangan bertubi-tubi itu membuat Boy melepaskan tawanya, sementara Arjuna justru terlihat seperti orang bodoh, Presdir tampan itu memekik kesakitan tanpa diberi waktu untuk mencoba membaca situasi.
" Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan" geram Arjuna setelah lepas dari kedua pria tua yang baru datang dan langsung menyerangnya.
Boy menepuk pundak Arjuna lalu berkata " istrimu sedang hamil bodoh! Gumpalan darah itu adalah buah dari percintaan panas kalian"
Sadar di jahilli, Arjuna pun membalas perbuatan boy, ia membuat dokter muda itu mencium ketiaknya yang penuh dengan keringat, untungnya baunya wangi jadi doker Boy masih bisa tertawa.
Dan cerita pun usai (The End)
Terimakasih untuk para pembaca setia, atas dukungan, lake dan komen kalian...
Dan maafkan author yang malas ini... 🙏 karna sudah membuat kalian menunggu terlalu lama...
Love you all... 😘❤❤❤💗
Semoga kalian selalu berada dalam keadaan sehat dan sejahtera...
see you again ( Sampai jumpa lagi ) di cerita selanjutnya...
__ADS_1