Menjadi Pelakor

Menjadi Pelakor
Episode 73


__ADS_3

“ Saya tidak pernah membawa-bawa surat nikah, tapi saya bisa menunjukkan bukti bahwa wanita yang ada di dalam mobil itu adalah istri saya” terang Arjuna, ia begitu percaya diri karna memiliki foto pernikahan di dalam album ponsel pintarnya.


“ jangan melakukan hal mesum untuk membuktikannya ya!” tuduh sang polisi


“ oh astaga...! Saya akan menunjukkan foto pernikahan kami dan juga foto buku nikah itu” Arjuna jadi sedikit emosi kan


“ ya habisnya wajah anda tampan”


“ apa hubungannya?”


“ 99% pria berwajah tampan cenderung bernafsu besar, selain itu, biasanya kan pria tampan tidak akan pernah merasa cukup sampai menumbangkan sang kekasih”


Kata-kata polisi itu menusuk tepat di hati Arjuna, sang presdir tampan itu tidak bisa mengelak, tapi ia juga merasa malu untuk membenarkannya.


Yang dikatakan polisi itu benar, gairah sang presdir seolah tak pernah surut, ia tak pernah merasa puas sebelum sang istri mengeluh “lelah” sampai terkapar, terlelap dalam tidurnya.


Arjuna berbalik membelakangi polisi itu, ia mengambil ponselnya yang berada di dalam mobil, ia menghela nafas kasar sesaat setelah meraih ponsel itu.


Sepertinya Arjuna memang di takdirkan untuk tertimpa banyak kesialan hari ini, ponselnya mati karna kehabisan battery, dan yang ia tahu, tidak ada foto pernikahan atau pun foto surat nikah di ponsel Lika.


Dan semua ini gara-gara ayah Gunawan, pria itu melarang Lika menyimpan bukti pernikahan di dalam ponselnya “ itu akan membawa kesialan pada suamimu nanti” seperti itulah omong kosong yang ayah Gunawan katakan saat meyakinkan putrinya.


Dan kini, omong kosong itu bagai mala petaka, Arjuna yang kehabisan akal hanya bisa memasang wajah memelas.


“ kenapa? Ponselnya mati? Sudah saya duga! Karna anda tidak bisa menunjukkan bukti, mari ikut saya ke pos, bawa juga wanita anda, atau anda mau saya yang membawanya, dengan senang hati akan saya lakukan, tangan mulus itu akan saya gadeng sampai ke pos”


Jika amarah berwujud, maka saat ini mulut Arjuna sudah mengeluarkan api, atau telinga dan kepalanya sudah di penuhi asap, kilat amarah akan menyambar dari matanya, karna saat ini Arjuna tengah berada di mode jealous.


“ sabar kak!”

__ADS_1


Seruan dan sentuhan tangan Lika bagai air hujan yang memadamkan api, kemaraan sang presdir mereda sebelum sempat terlampiaskan, sepasang suami-istri itu pun di giring ke pos keamanan.


Di dalam pos keamanan itu, seorang polisi wanita menghampiri, ia merengkuh bahu Lika dan hendak membawanya pergi.


“ istri saya mau di bawa ke mana?” tanya Arjuna seraya menggenggam tangan Lika,


Polisi wanita itu mencengkeram lengan Arjuna, hingga sang presdir melepaskan tangan sang istri, seraya berkata “ anda tidak perlu khawatir! Istri anda aman bersama saya”


“kalian akan di interogasi secara terpisah” terang polisi pria yang langsung menarik Arjuna ke ruangannya.


Arjuna di tanyai banyak pertanyaan, tentang identitas diri dan aktivitas kesehariannya.


Sementara itu di ruangan lain, Lika justru diperlakukan berbeda, ia disuguhi minuman dingin dan camilan, duduk di sofa yang empuk dan berbincang dengan satai.


Sang polisi wanita menjelaskan, beberapa minggu ke belakang, banyak sekali yang membuat laporan, mereka terganggu dengan aktivitas panas yang dilakukan oleh muda-mudi di teman itu.


Pihak kepolisian tidak bisa berbuat banyak karna lahan itu milik perorangan, mereka sudah berkoordinasi dengan sang pemilik, namun hingga kini masih belum ada tindakan yang di ambil.


Karnanya, polisi pun memutuskan untuk memasang CCTV di area parkir dan memasang plang peringatan bertuliskan “ tunjukan surat nikah sebelum bermesraan”


Lika sangat malu mengetahui CCTV itu berada tepat di tengah tiang lampu, di mana sang suami memarkirkan mobil, yang artinya kemesraan mereka tersorot kamera CCTV.


“ anda benar-benar tidak beruntung karna kapten kami yang jomlo itu melihat kemesraan kalian” ujar sang polisi wanita.


Lika pun menghubungi ayah Gunawan dan menceritakan prihal apa yang menimpanya, ia meminta bantuan sang ayah untuk bisa terlepas dari tuduhan memalukan itu.


Tak lama Gunawan pun datang bersama dengan Bastian, kedua pria paruh baya itu langsung melampiaskan kekesalan pada sang presdir tampan, memukul bahu, lengan, menepuk keras punggung, bahkan menendang betis sang presdir, bersama dengan makian tanpa henti.


“ menantu kurang ajar, kenapa kau bermesraan di area taman hah? Memangnya kau tidak bisa menahan dirimu sebentar” ucap Gunawan kesal

__ADS_1


“ dasar anak ini, kenapa kau selalu mengundang masalah hah? Tidak bisakah kau hidup dengan damai saja” ucap Bastian kesal


“ jika kau terus menyusahkan istrimu, kami tidak akan membiarkan kalian bersama” seru keduanya dengan kompak.


Lika merasa kasihan pada sang suami, tapi di satu sisi ia merasa bahwa kejadian yang menimpanya itu sangat lucu, hingga senyum mereka terbit dari wajahnya.


Melihat Lika tersenyum seolah memberikan energi pada sang presdir, ia sama sekali tak merasakan sakit walau terus menerima pukulan, namun setelah mendengar ancaman dari papah dan ayah, sang presdir pun akhirnya bersua.


“ hentikan... Jika aku terluka kalian tidak akan dapat cucu, ingat itu!”


Bastian dan Gunawan saling melirik saat mendengar ancaman itu, dan Arjuna memanfaatkan kesempatan, ia meraih tangan sang istri kemudian melarikan diri.


“ kalian selesaikan masalahnya, aku tidak punya banyak waktu luang, kami harus memproduksi cucu untuk kalian, papah! Ayah! Aku sayang kalian”


Itulah yang Arjuna teriakan sebelum naik ke dalam mobil, dan memacu kendaraannya pergi dari sana.


“ lihatlah kelakuan menantumu, dia berhasil mengelabui kita, kita di suruh menyelesaikan masalah yang dia buat, tapi dia malah mau enak-enak” keluh Bastian


“ yang kau sebut menantuku itu putramu bas, ingat itu! Aku akan biarkan dia kali ini, tapi jika sampai akhir tahun dia tidak menghamili putriku, lihat saja apa yang akan aku lakukan” geram Gunawan


Dan di saat Bastian dan Gunawan mengurus prosedur di kantor pos polisi setempat, Arjuna justru membawa istrinya pulang ke rumah Gunawan.


Arjuna memanfaatkan kondisi rumah yang kosong untuk melanjutkan kemesraan mereka, ia langsung merengkuh tubuh sang istri, mencium bibirnya penuh nafsu, sang presdir tampan sama sekali tak memberikan jeda.


Walau merasa bersalah karna telah merepotkan papah mertua dan ayahnya, Lika tak mampu menahan godaan sang suami, ia pun terhanyut dalam gelombang gairah yang telah tercipta.


Sofa, meja, serta furnitur di ruang tamu menjadi saksi betapa ganasnya sang presdir kala itu, anak tangga yang dipijak dengan langkah tergesa itu menjadi saksi, betapa Arjuna tak bisa bersabar untuk melahap sang istri.


Tak hanya tempat tidur, bathtub pun ikut menjadi saksi bagaimana Arjuna menanam benih di rahim sang istri, suara nyanyian mengisi kesunyian di kediaman itu, lagu yang sama yang selalu terdengar dikala mereka tengah bercinta.

__ADS_1


__ADS_2