
“ Dari awal aku sudah tahu bahwa kau adalah dokter malik, aku hanya berpura-pura bodoh sampai kau mengungkapkannya sendiri, pertemuan kita, sikapku, pernikahan, semua ini adalah rencana ayahmu, Lika! aku bersedia menikahimu pun untuk membalas dendamku dan dendam ayahmu” terang Arjuna
“ Aku tidak peduli dengan apa yang sudah terjadi, tapi aku ingin kau menjawab satu pertanyaanku dengan jujur, apa tidak pernah ada cinta di hatimu untukku? ” tanya Lika seraya menahan tangis
“ entahlah...!” jawab arjuna enteng
Lika menatap suaminya penuh dengan rasa kecewa, ia berlari ke menuju kamarnya saat merasa sudah tak mampu menahan diri, Lika menjatuhkan diri di atas tempat tidur, menumpahkan tangis dari rasa sesak yang ia rasakan di hatinya.
Gunawan masuk ke kamar sang putri, ia mengelus kepala Lika yang tengah menangis dengan membenamkan wajah di atas bantal, rasa sakit yang sang putri rasakan seolah menular padanya, pria tuan itu pun mulai menitikkan air mata.
“ Maafkan ayah Lika, karna terbawa emosi ayah membuat siasat untuk balas dendam, ayah tidak berpikir panjang, ayah lupa bahwa kau bisa saja terluka lagi, awalnya ayah berpikir, setelah Arjuna menikah denganmu, ayah bisa tenang karna pria itu adalah budak cinta sejati, dia adalah pria yang bisa melakukan apa pun karna cinta, dan ayah meyakini kau bisa membuatnya jatuh hati, tapi ternyata.... Ayah macam apa aku ini? Aku bahkan tak pantas menjadi ayah dari wanita sebaik dirimu” ucap sendu Gunawan
Lika yang tengah tengkurap pun mengubah posisi, ia duduk sambil menghadap sang ayah, ia menyeka air mata ayahnya lalu berkata “ Jangan bilang begitu ayah, bagiku kau adalah segalanya”
Mereka pun berpelukan, membagi duka dengan menangis bersama.
Sementara itu, tanpa Lika dan Gunawan ketahui, keributan tengah terjadi di depan gerbang rumah mereka, hal itu disebabkan karna kedatangan Arsena yang tiba-tiba, serta tindakannya yang menyuruh beberapa bodyguard-nya untuk membawa paksa Arjuna keluar dari rumah itu, mereka bahkan menghempaskan tubuh Arjuna sampai terjatuh di atas aspal.
Arjuna pun bangkit, ia menepuk-nepuk bagian bajunya yang kotor, dengan tatapan kesal ia mengajukan sebuah tanya “ Apa-apaan kau ini Ars?”
“ pergilah,,,,, masamu sudah berakhir, kini aku yang akan menjadi pendamping Lika, bukan untuk sesaat, tapi untuk selamanya” ucap Arsena kemudian berlalu, ia dan para bodyguard-nya kembali masuk ke dalam kawasan tanah milik Gunawan.
Arjuna memegangi dadanya, meremasnya dengan kuat karna rasa sakit yang tak tertahankan.
“ Apa ini? Kenapa jantungku terus berdegup kencang, kenapa hatiku terasa sesak, ini tidak mungkin cinta kan!” gumam Arjuna pelan
Arjuna pun melupakan sejenak tentang Lika, ia fokus pada pekerjaan dan juga kasus perceraiannya, hingga waktu pun banyak berlalu.
__ADS_1
Setelah dua bulan berlalu, Arjuna masih setia dengan kebiasaan barunya, berdiri di depan gerbang rumah Lika sambil berharap bisa melihat sang istri keluar dari gerbang itu.
“ kalau rindu temui saja bos!” seru beni dari dalam rindu
“ siapa yang rindu” elak Arjuna yang kemudian masuk ke dalam mobil
“ Lika sudah menjadi satu-satunya istrimu, dia bukan lagi sang istri muda, kau mencintainya, kau tahu keberadaannya, kau juga merindukannya, lalu kenapa kau tidak mau menemuinya?”
Beni berceloteh sambil menyetir, tapi sang presdir tampan malah menatap ke luar jendela lalu bergumam dalam hati ‘Cinta? Apakah perasaan itu benar cinta? Hatiku bahkan selalu bertanya kapan rasa itu akan memudar'
Arjuna memang merindu, tapi ia tak ingin hubungannya dengan Lika akan berakhir tragis seperti hubungan yang kubina bersama Layla, sang presdir tampan itu bahkan selalu bertanya-tanya
Sampai berapa lama perasaan ini akan bertahan?
Sampai kapan ia harus terus terbayang-bayang oleh wajah cantik Lika saat tersenyum?
Sang presdir terus melamun sampai tidak sadar mereka sudah tiba di tempat tujuan, ia sedikit tersentak saat pintu mobilnya di buka dan beni memperlihatkan wajahnya tepat di depan matanya.
“ mau melamun sampai kapan bos?” tanya beni
Arjuna mendorong tubuh beni, sambil berkata “ aku tidak melamun” sang presdir tampan itu turun dari mobilnya.
Keduanya pun berjalan menyusuri dermaga, sang presdir tampan menghentikan langkahnya saat melihat antrean penumpang yang begitu panjang.
“ kenapa berhenti? Kita bisa langsung masuk lewat bagian sisi kiri”
“ aku tahu, jalan itu dikhususkan untuk para pegawai, tapi ben! Aku mendadak ragu, haruskah aku ikut dalam pelayaran?”
__ADS_1
“ Tentu saja anda harus ikut pak!” jawab beni yang tengah dalam mode asisten
Beni mengingatkan sang presdir bahwasanya kapal pesiar itu adalah bentuk kerja sama perusaha mereka dengan candra group, Arjuna dan Arsena bekerja keras selama kurang lebih setengah tahun untuk mewujudkan wisata pelayaran mewah itu.
Walaupun semua itu hanya kedok belaka, karna sejatinya kapal pesiar itu bukanlah tempat untuk rekreasi, kapal itu memang menyediakan berbagai macam acara hiburan, namun semua itu menjadi wadah untuk ajang mencari relasi.
Ada sekitar 2000 orang dari dunia bisnis yang ditetapkan akan hadir dalam undangan itu, dan semua orang yang diundang merupakan pengusaha baik pengusaha dalam bidang nyata, maupun dalam dunia gelap.
Arjuna dan Arsena pun bekerja sama dalam menyelenggarakan perjudian berskala besar di sana, tidak main-main beberapa kelompok geng dari dunia hitam pun di undang untuk datang.
“ atau.... Jangan-jangan anda takut bertemu istri anda ya pak!” celetuk beni tiba-tiba
Arjuna mendadak jadi gugup, ia pun berdehem lalu berkata “ tidak! Kenapa aku harus takut bertemu Lika, aku hanya....
Arjuna kehilangan kata untuk bisa memberi penjelasan pada beni, dan akhirnya ia memilih untuk menghindar.
“ ahh... Sudahlah... Ayo naik, kapal ini begitu luas, kalau bukan karna jodoh, aku tidak akan bertemu atau berpapasan dengannya” ucap Arjuna yang kemudian berlalu.
Belum ada satu jam Arjuna berucap, matanya sudah menangkap sosok sang istri, Lika terlihat tengah berbincang seru dengan Arsena, hati Arjuna pun memanas, kepalanya berasap melihat rekan bisnisnya tengah memanfaatkan kesempatan menyentuh sang istri.
“ dasar bocil tukang modus” gumam Arjuna pelan
Presdir tampan itu langsung berbalik badan saat melihat pergerakan Lika, ia pergi dengan wajah masam, ingin rasanya ia mendekati sang istri, melepas rindu, menjauhkan Arsena, tapi apa daya, ia masih belum siap untuk menemui sang kekasih hati.
Begitupun dengan Lika, walau ia melihat Arjuna, ia hanya diam dan memperhatikan punggung sang suami yang berjalan menjauh, walau rindu sudah menggebu, walau hasrat ingin menyatu, tapi Lika enggan mendekat karna ia tahu bahwa dirinya bukanlah kekasih yang Arjuna inginkan, ia tak ingin terluka karna cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
“ Jika masih cinta dia maka kejarlah, saat kau bisa membuatnya jatuh cinta, lalu kenapa malah memilih menyerah, yang kalah sebelum berperang itu pengecut, tapi yang gagal setelah berjuang ta’kan memendam penyesalan ” ucap Arsena menasihati
__ADS_1