Menjadi Pelakor

Menjadi Pelakor
Episode 69


__ADS_3

“ kau menatapku dengan binar cinta sambil tersenyum, itu membuatku....


Ucapan Arjuna terhenti kala sang istri mendekatkan wajahnya, Lika bertanya “ membuatmu apa?” sambil menaikkan alis menantang sang suami yang menghentikan ucapannya.


“ ehmmm...” Arjuna berdehem usai kesulitan menelan salivanya


“Membuatku... Merasa...” Arjuna jadi tergagap karna gugup, gugup karna jarak mereka yang begitu dekat.


Arjuna pun memundurkan duduknya ke tengah tempat tidur, bermaksud untuk menjauhi sang istri, namun Lika malah terus mengikutinya seolah enggan untuk berjauhan.


“ Kenapa tidak di lanjutkan?” tanya Lika, salah satu sudut bibirnya tertarik, menunjukkan senyum licik penuh dengan tipu daya.


“ Lika tolong jangan seperti ini” pinta Arjuna saat Lika malah mendudukkan diri dalam pangkuan sang suami.


“ aku....


Arjuna tak sanggup melanjutkan ucapannya, jarak yang sempat merenggang kembali di kikis oleh sang istri, ia sampai memalingkan wajah saat jarak pandang di antara mereka tak lebih dari 5cm.


“ Aku apa sayang?” bisik Lika dengan suara lembut


Tubuh sang presdir tampan itu bergetar, bukan karna takut, melainkan pertanda bahwa ia semakin tersulut api gairah setelah mendengar bisikan itu.


Arjuna tetap mempertahankan posisinya, ia masih duduk dengan tegap, tampaknya ia berusaha untuk mempertahankan dirinya, katakanlah ia munafik, tapi Arjuna hanya takut hubungannya dengan Lika akan berakhir sama, seperti hubungannya dengan Layla yang berakhir dengan kebencian.


“ Apa? Yang aku lakukan membuat kakak merasa ingin menyentuhku, ingin mencium ku, atau ingin yang lain? Apa pun itu? Yang harus kakak tahu adalah kenyataan bahwa aku milikmu, jadi jika kakak ingin, lakukan saja! Apa yang membuat kakak ragu?” Lika kembali berbisik dengan sensasional, ia memang sengaja berusaha mempertahankan gejolak hasrat sang suami.


“ pe... Pe... Perasaan, perasaan kita ini akan memudar bersama waktu, cinta yang menggebu itu pun akan hilang dengan sendirinya”


Lika menjatuhkan kepalanya di bahu sang suami yang masih saja memalingkan wajah, enggan untuk menatap, namun Lika pun enggan untuk menyerah, karenanya, tangannya pun bergerak aktif, menyentuh apa yang bisa disentuhnya.


“Cinta kita mungkin akan hilang seperti yang kakak katakan, tapi apa salahnya jika kita menikmatinya untuk saat ini”


Nafas Lika terasa hangat di tengkuk sang presdir, sentuhan bibir Lika saat ia bicara ibarat seperti bensin yang disiramkan pada api yang tengah berkobar.


Setengah mati Arjuna bertahan, ia sampai mencengkeram seprai untuk sedikit meredam keinginannya, ia berusaha sangat keras untuk memberikan penolakan dengan tegas.


“ tidak! Aku tak ingin melukaimu lebih dari ini”


“ sekarang atau nanti, aku akan tetap terluka selama aku mencintaimu kak, tidak bisakah kita tunda perpisahan kita sampai rasa itu hilang, dengan begitu aku tidak akan sakit hati, dan kakak pun tak harus menderita”

__ADS_1


Arjuna pun memikirkan ucapan Lika dengan serius, karna ia pun mulai menyadari apa yang Lika katakan ada benarnya.


Lika memanfaatkan hal itu untuk semakin bergerak aktif, namun Arjuna kemudian menarik tubuhnya, mengikis jarak pandang di antara mereka, lalu mengajukan sebuah tanya.


“ Apa kau tidak akan menyesali ucapan mu nanti?”


“ Tidak akan, aku justru akan menyesal jika melewatkannya begitu saja” jawab Lika menggeleng dengan serius.


Arjuna kemudian membanting tubuh Lika hingga terbaring, sang wanita sampai menjerit bahagia saat Arjuna melakukannya, binar kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya.


Setelah melakukan hubungan badan, keduanya terbaring lesu karna kelelahan, Arjuna sungguh merasa bahagia, rasa sesak yang di alaminya selama beberapa waktu itu seolah lenyap, ia bahkan terus mencurahkan rasa cintanya dengan terus mengecup sang istri.


Senyuman keduanya pun tak memudar, Arjuna bahagia, begitu pun dengan Lika, mereka terus bermesraan sampai tak sadar matahari sudah berada di tengah-tengah.


“ Arjuna... Buka pintunya! Dasar kau anak durhaka” maki Bastian


“ menantu tak tahu aturan” maki Gunawan


Keduanya menggedor pintu kamar dengan tidak sabaran, sudah sejak semalam keduanya kesal pada sang presdir, jika saja semalam Devi tidak menghalangi, mereka sudah akan menggedor pintu kamar itu saat tengah malam, bukan tengah hari seperti saat ini.


Gunawan kesal karna Arjuna tak meminta ijin terlebih dahulu saat hendak membawa Lika, Arjuna juga tidak membawa Lika datang saat sarapan pagi, dan juga saat makan siang.


“ ada apa si yah? Pah? Kenapa kalian berisik pagi-pagi buta begini?” tanya Arjuna sesaat setelah membukakan pintu


Bastian menjewer telinga Arjuna seraya berkata “ pagi kepalamu, ini sudah lewat tengah hari”


“kau sudah membawa putriku tanpa ijin, tapi tidak memberinya sarapan dan hampir membuatnya melewatkan makan siang, dasar menantu tak beradab” maki Gunawan kesal


“ ya ampun ayah... Mana mungkin aku setega itu, aku memang bersalah karna membawa Lika tanpa ijin, tapi aku memenuhi tanggung jawabku dengan baik, aku tak hanya memberinya makan malam, tapi juga sarapan dan makan siang” terang arjuna


Gunawan dan Bastian menerobos masuk ke dalam kamar, keduanya mencari alat bekas makan, atau apapun yang berbau makanan di dalam kamar itu.


“ mana buktinya, tak ada bekas makanan di sini” ucap Gunawan


“tempat cuci piringnya pun kering, sebenarnya kau memberi makan menantuku atau tidak? ” geram Bastian


“ sudah pah! Yah! Itu buktinya”


Arjuna tidak menunjuk pada bekas makanan, melainkan menunjuk pada tempat tidur yang berantakan, hal itu sontak membuat amarah Gunawan dan Bastian meledak, mereka memukuli Arjuna sambil memakinya.

__ADS_1


“ dasar presdir gila, kau membuat putriku bekerja siang dan malam”


“ dasar anak jurang ajar, berani sekali kau melalaikan asupan gizi menantuku, dia juga harus sehat untuk mengandung cucuku, tidak ada gunanya kau gempur dia siang dan malam jika dia tidak kau beri makan”


“ menantu durjana”


“ anak kurang ajar”


Keduanya tidak berniat untuk menyakiti sang presdir, namun pukulan keduanya nyata, bahkan terasa sakit, Arjuna pun berteriak meminta pertolongan dari sang istri.


“ Lika tolong! Suamimu ini sedang di aniaya oleh papah durhaka dan ayah mertua yang kejam”


Lika yang telah rapi keluar dari ruang ganti, ia terkejut melihat Arjuna dipukuli oleh ayah dan papah mertuanya.


Lika pun berusaha untuk melerai keributan itu, ia samai berdiri di depan Arjuna untuk menghentikan aksi kedua orang tua itu, menjadi perisai bagi sang suami.


“ cukup ayah, hentikan pah, ada apa ini? Apa salah kak Arjun sampai kalian memukulinya”


“ dia tidak memberimu makan” jawab keduanya kompak


“ apa? Hanya karna itu kalian marah?”


“ itu bukan hanya Lika, makan itu penting, kau bisa menderita sakit maag jika terus bermain dengan melewatkan waktu makan” terang Gunawan


“ kau harus sehat untuk bisa mengandung cucu kami” terang Bastian


“ iya itu benar!” Gunawan menimpali


“ kami tidak mau tahu, kau harus makan sekarang” ucap Bastian


“ kau harus makan yang banyak karna sudah melewatkan sarapan mu” timpal Gunawan yang merangkul sang putri


Dan kedua orang tua itu membawa Lika pergi tanpa memedulikan Arjuna.


“ hi! Apa kalian lupa, yang menanam bibi juga harus sehat, percuma kalau tanahnya gembur tapi bibitnya tak bermutu” ucap Arjuna yang mengikuti dari belakang


“ kalau begitu kau juga harus makan yang banyak” ucap Bastian yang kemudian merangkul sang putra


Dari jauh, mereka tampak seperti keluarga bahagia, jadi! Haruskah kisah ini berakhir cukup sampai di sini?

__ADS_1


__ADS_2