Menjadi Pelakor

Menjadi Pelakor
Episode 89


__ADS_3

" Malika...!


" Aku tak ingin istriku jadi budak medis"


Belum juga Boy mengajukan pertanyaannya, Arjuna sudah memberikan jawaban seolah tahu apa yang ingin diketahui oleh lawan bicaranya.


Tapi memang benar, jawaban itu cukup mengobati sedikit rasa keingintahuan Boy, karna masih ada beberapa pertanyaan lagi di kepalanya.


"Beritahu aku" ucap Boy dengan nada bicara yang menuntut


" kau cukup tahu itu saja, terlalu banyak tahu bisa membuatmu jadi bodoh" ucap Arjuna


Boy mendesah lalu berkata " Ayolah.... setidaknya sebagai rasa terimakasih mu atas bantuan ku selama ini" dengan suara memelas.


Dokter satu ini memang memiliki kebiasaan yang unik, selain tak bisa menekan rasa penasarannya sendiri, ia juga merupakan orang yang hanya mau melangkah pada tempat yang jelas, karenanya ia harus tahu alasan kenapa nama dokter Malik bisa sampai ada di dalam surat kontrak baru.


Poin 0.1 Jika ada lamaran pekerjaan yang masuk atas nama dokter Malika putri gunawan maka direktur wajib menerima lamaran itu, menyediakan posisi yang tepat tanpa membebankan banyak pekerjaan.


Poin 0.2 Direktur diharuskan membebaskan dokter Malika putri gunawan dari shift malam dan shift sore, dan tidak akan menghubungi walau dalam keadaan darurat sekalipun.


Seperti itu lah bunyi poin yang dianggap aneh oleh para direktur rumah sakit, dokter Boy sendiri menilai bahwa Malika tak ada kaitannya dengan kontrak kerja sama mereka, karna semua yang menyangkut dirinya cenderung bersifat pribadi, dalam artian, seharusnya poin itu tidak ada di dalam kontrak kerja sama baru yang Arjuna buat.


Lain halnya dengan Arjuna yang menganggap penting hal itu. Sebenarnya Arjuna enggan memberikan penjelasan, namun karna Boy berkata seperti itu, presdir tampan itu pun menjelaskan maksudnya.


Arjuna memberitahu dokter boy bahwasanya orang pemerintahan meminta Lika untuk bekerja di rumah sakit milik negara, tapi masalahnya adalah Lika akan berada di bawah pimpinan dokter Bintang.


Tanpa dijelaskan panjang lebar dokter Boy sendiri langsung paham, karna ia sendiri mengenal dokter Bintang.


Boy tahu bahwa dokter bintang adalah seorang dokter pemalas yang selalu mengambil prestasi orang lain.


Dokter Bintang sendiri adalah orang yang pernah bekerja di rumah sakit milik keluarganya, setahunya sang ayah memecat dokter Bintang dengan tidak hormat, karna saat itu dokter Bintang ketahuan tidak pernah mengobati pasien, jikapun ada ia hanya mengobati orang-orang yang mengalami luka ringan saja, seperti luka lecet atau orang yang sekedar datang karna keseleo.

__ADS_1


Yang lebih mengesalkan lagi, dokter Bintang selalu membuat asistennya bekerja rodi, membuat dokter lain bekerja melebihi batas jam kerja mereka, namun mengakui hasil kerja orang lain sebagai jeri payahnya, padahal dirinya hanya berdiri dan melihat dari dekat saja.


Dan sialnya Lika pernah menjadi bawahnya, kejadian dimana Lika pingsan setelah selesai melakukan operasi pun terjadi saat dokter Bintang menjadi kepala UGD, dan karna berada di bawah orang itu pula Lika jadi harus bekerja lebih keras sampai orang yang melihat akan berpikir bahwa tidak ada dokter lain lagi selain dirinya.


Lika tak pernah sadar bahwa dirinya tengah di exploitasi karna dokter Bintang selalu memujinya dengan kata-kata yang manis seperti


" hanya kau dokter hebat yang bisa mengobati pasien itu"


Atau


" Pasien itu membutuhkan dokter seperti dirimu"


Atau memberikan alasan yang tak logis seperti


" obati pasien itu karna aku harus menangani pasien lain"


Atau berkata


" obati pasien itu, anggap saja ini ujian untuk menambah pengalamanmu" pun sering diucapkan saat dirinya tengah malas.


Setelah memberikan penjelasan panjang lebar, Arjuna kembali mencoba menghubungi sang istri, namun panggilannya malah di jawab oleh seorang pria tua yang selalu menguji iman.


Gunawan : Arjuna cepat pulang kau!


Arjuna menghela nafas kasar karna lagi-lagi mendapat perintah, bukan tak suka, ia hanya tidak mengerti kenapa ayah mertuanya itu selalu bicara dengan nada ketus.


Arjuna : Ada apa lagi? Lika di mana yah? kenapa malah ayah yang mengangkat telepon?


Hanya helaan nafas yang terdengar dari sebrang telpon, sampai kemudian ia mendengar suara tangis seseorang, Arjuna yang duduk sampai langsung berdiri saat mengenali suara itu.


Lika : kak....! hik...! Cepat pulang.... Ayah jahat....

__ADS_1


Mendengar suara sang istri yang di iringi tangis, sang presdir tampan pun bergegas menyambar lunci mobilnya.


Arjuna : Aku akan pulang sayang... tunggu ya!


Arjuna pun mematikan sambungan telepon itu, lalu bergegas untuk pulang, secara kebetulan pintu ruangan Arjuna dibuka dari luar, sehingga sang presdir tidak perlu repot membuka pintu.


" kak! mau ke mana?" tanya Beni


Sang asisten di lalui begitu saja seolah tak terlihat. Beni melirik July dengan penuh tanya, tapi wanita itu hanya menggedikkan bahu. Beni berdecak kesal karna sepertinya ia harus kembali mengambil alih jadwal meeting sore itu.


Arjuna sudah berusaha pulang secepat mungkin, ia bahkan di maki karna menyalip dan kebut-kebutan di jalan, namun sesampainua di rumah, presdir tampan itu malah mendapati istrinya tengah terlelap di dalam kamar.


" Apa yang terjadi yah? Kenapa Lika menangis? dan kenapa Lika bilang ayah jahat? "


Arjuna membombardir ayah mertuanya dengan beberapa pertanyaan, namun sang ayah mertua malah menarik tangannya sampai keluar kamar dengan kasar.


Kedua pria beda generasi itu pun duduk bersma, sang ayah mertua bahkan masih sempat-sempatnya memerintahkan Arjuna untuk membuatkan secangkir kopi.


" Jun! Lika mendengar perdebatan mu dengan Fahri, dia sangat terluka, sepertinya batinnya terguncang sampai membuatnya jadi aneh, anak itu seolah mencari alasan untuk menagis" ucap Gunawan setelah mencicipi kopi buatan menantunya.


" Setahuku Lika tidak serapuh itu! " sanggah Arjuna


Gunawn malah menatapnya dengan tajam lalu berkata " Kau tidak percaya padaku?" dengan nada suara yang kesal.


" Bukan begitu maksudku yah! hanya saja...


" Jika kau tidak percaya, kau tanyakan saja pada petugas hutan sana!" selang Gunawa


Arjuna menggaruk kepalanya yang tak gatal, namun Gunawan malah mengajukan sebuah tanya " kepalamu gatal? memangnya sudah berapa lama kau tidak keramas sampai kepalamu jadi sarang kutu dan ketombe?" dengan begitu santai.


Arjuna menatap Gunawan lalu berkata " kayanya yang aneh bukan Lika tapi ayah" lalu bangkit dari duduknya, meningalkan ayah mertuanya yang menggeram kesal setelah mendengar ucapan darinya.

__ADS_1


" dasar menantu durhaka! Berani sekali kau mengataiku aneh"


Arjuna hanya menggelengkan kepala setelah mendapat teriakan dari sang ayah mertua, presdir tampan itu kembali menghela nafas kasar lalu bergumam " sepertinya faktor usia membuat ayah jadi aneh, ada-ada saja! "


__ADS_2