
Setelah puas berbelanja, kedua wanita itu berniat untuk kembali, dan ketika mereka hendak melangkah keluar dari butik, mereka di kejutkan dengan kedatangan Beni, pria itu berdiri tepat di hadapan keduanya, seolah sengaja menghalangi jalan mereka.
“ Sedang apa kau di sini?” tanya Lika dengan sinis.
Jujur saja! Setelah Lika mendengar cerita dari July, dirinya jadi kesal pada pria yang bernama Beni itu, terlebih pada sikap Beni yang terkesan mencampakkan July setelah mengecap manisnya tubuh sang sekretaris cantik.
“ Tentu saja menjemput kalian” Jawab Beni dengan santai, berusaha tetap santai lebih tepatnya, padahal dalam hati ia ketakutan setengah mati, takut pada tatapan kebencian yang Lika tujukan padanya.
Lika dan July saling melempar pandangan untuk sesaat, kemudian kembali menoleh menatap Beni, menyiratkan sebuah rasa penasaran yang mendalam, tentang apa yang sebenarnya pria itu pikirkan, kenapa Beni menjemput mereka? Padahal saat ini ada sopir yang menemani mereka, atau kah ada sesuatu yang terjadi yang tidak bisa Beni ungkapkan.
Beni tahu dan mengerti isi pikiran kedua wanita di hadapannya, karna wajah mereka menyiratkan segalanya, tapi pria itu memilih untuk berpaling, mengalihkan topik dengan candaannya yang garing.
“ Tolong alihkan pandangan kalian ladies! Aku tahu kalau aku ini tampan, tepi kalian tidak perlu menatapku seperti itu, aku merasa sedikit tidak nyaman” jawab Beni dengan intonasi yang terdengar begitu percaya diri.
Kedua wanita di hadapannya berdecap mendengar jawaban itu.
Sulit di percaya!
Seorang beni yang notabenenya selalu menanggapi hidup dengan serius, bisa mengatakan hal nyeleneh seperti itu.
Lika yang sudah kesal jadi tambah kesal.
July bahkan tak habis pikir dengan sikap Beni yang seperti mengajak bercanda dengan wajah seriusnya itu.
“ katakan yang sejujurnya! Kau datang atas inisiatif sendiri ? Atau suamiku yang menyuruhmu?” ucap tanya Lika
Nada suara Lika masih terdengar tak bersahabat, dan kali ini bahkan terkesan mendesak Beni untuk berkata jujur.
Beni tampak berpikir, ia tak tahu harus berkata jujur, atau malah berbohong pada kedua wanita di hadapannya, ucapan sang presdir tampan pun seolah terngiang di telinganya, kejadian beberapa waktu lalu pun kembali terbayang.
Beberapa waktu lalu, tepatnya sebelum beni menghampiri Lika dan July di butik, Arjuna tiba-tiba menerobos masuk ke ruangannya, menghampirinya, dengan wajah panik sang presdir tiba-tiba menggebrak meja dengan cukup kencang, tatapannya begitu serius, sang presdir kemudian berkata...
“ Ben tolong bantu aku kali ini saja, buat istriku sibuk untuk sementara waktu, jangan sampai dia pulang ataupun kembali ke kantor sebelum aku kembali, ada hal mendesak yang harus aku tangani, tapi jangan sampai Lika tahu kalau aku memintamu untuk melakukan hal ini, HIDUP MATI KU ADA DI TANGANMU, SAUDARAKU!”
Beni tak tega untuk menolak, terlebih Arjuna menekankan intonasi suaranya di akhir permintaan, dan lagi, Arjuna bicara dengan membawa-bawa hidup dan mati.
Beni paling lemah jika untuk persoalan yang menyangkut nyawa seseorang, itu begitu penting baginya, terlebih jika menyangkut nyawa keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Kembali ke saat ini, Beni tersadar dari lamunannya.
Di tengah kegalauan yang melanda, matanya menangkap sesuatu yang menarik, katakanlah Beni terpikat oleh keanggunan July, pria itu bahkan tersenyum tanpa ia sadari.
__ADS_1
Penampilan July memang berbeda dengan saat mereka pergi mendatangi butik, saat ini July mengenakan dress cantik yang sengaja di belikan oleh Lika sebagai hadiah, Lika juga sedikit mengubah riasan wajah July, yang biasanya mengenakan make up formal yang tebal, kini berdandan dengan lebih sederhana hingga terkesan natural.
Dan tampaknya! Beni menyukai penampilan July yang terkesan lebih santai itu.
Lika menyikut lengan July saat melihat sikap Beni yang terang-terangan menatap July, ia melupakan pertanyaannya yang sama sekali tak terjawab, dan merasa senang melihat tatapan Beni yang seperti ingin menerkam July.
July tersenyum malu-malu, bohong jika perasaannya tak melambung tinggi, namun sesaat kemudian July tersadar karna teringat ucapan Beni, ucapan penolakan yang tak bisa July abaikan.
July berdeham kencang untuk menyadarkan Beni, July cukup sadar bahwa sang pujaan hatinya itu tengah terpesona dengan penampilan barunya, tapi ia tak ingin larut dalam angan dan kembali terluka oleh pria yang sama.
Sebuah tanya terbesit begitu saja dalam benak Lika ‘mungkin kah sang pencipta sengaja mendatangkan Beni untuk memperbaiki hubungan Beni dengan July?'
Lika menatap Beni dan July bergantian, Lika tahu kedua insan itu tengah terjebak dalam suasana canggung.
Sebuah ide pun melintas pada pikiran sang mantan dokter cantik itu, ia pun berkata “ bagaimana jika kita ke cafe dulu”
Tak ingin membuang kesempatan yang mungkin nanti tak’kan datang lagi, Lika seolah hendak mencuri waktu sibuk keduanya (Beni dan July) untuk membuat mereka berduaan, menghabiskan waktu dengan santai, saling mendekatkan diri agar bisa lebih mengenal satu sama lain, dalam konteks pribadi.
“ ti..
“ itu ide bagus!” sergah Beni sebelum July menyelesaikan kalimat penolakannya.
“Sudah ikuti saja maunya ibu bos, sekali-kali healing kan tidak berdosa” bisik Beni yang akhirnya membuat July mengangguk, sang sekretaris menyetujui ajakan itu karna terhipnotis oleh mata genit Beni serta senyuman yang jarang Beni perlihatkan padanya.
Setelah semua setuju, ketiga insan itu pun pergi menuju sebuah cafe, mereka memutuskan untuk berjalan kaki karna letaknya yang tidak jauh dari butik, Lika berjalan lebih dulu, sementara July dan Beni berjalan beriringan di belakang Lika, seperti bodyguard yang mengawal sang ratu.
Lika memperhatikan sikap Beni dari dinding kaca di sepanjang jalan yang mereka lalui, senyumnya mereka dengan indah kala melihat sikap pria satu itu, berulang kali Beni terlihat mencuri pandang pada July, dan sang mantan dokter cukup puas melihat sikap acuh July.
Lika tak tahu saja! July terlalu gugup untuk menanggapi sikap Beni saat ini, karnanya July lebih memilih untuk diam, dan pura-pura tidak tahu.
Tak butuh waktu lama mereka pun tiba di cafe, tapi apa yang terjadi? Lika malah mengusir July dan Beni dari hadapannya, padahal mereka baru saja mau duduk, wanita itu meminta Beni dan July untuk duduk terpisah dengannya.
“ pergi dari hadapanku, aku tidak mau duduk bersama kalian, lebih baik kalian duduk berdua saja sana! Aku ingin duduk sendiri dan merenung”
Seperti itulah alasan yang Lika ucapkan, padahal sebenarnya tak ada hal yang ingin Lika renungkan, sang mantan dokter itu memang sengaja agar membuat Beni dan July duduk berduaan, ia sampai melayangkan tatapan dingin agar kedua insan itu tidak menolak perkataannya.
Lika duduk sendiri di pinggir jendela, sementara Beni dan July akhirnya duduk satu meja menuruti perintah Lika, July merasa senang, tapi tidak dengan Beni, pria itu tengah gelisah memikirkan apa yang hendak kakak iparnya renungkan.
Keheningan tercipta di meja Beni dan July, kedua insan itu terus melempar senyum kikuk, ingin rasanya July mengajak Beni berbincang, tapi tak tahu harus membicarakan apa? tak tahu bagaimana? Dan tak tahu dari mana harus memulai obrolan.
Hati July terus meronta-ronta, rasanya tak ingin membuang kesempatan, dalam hati ia bersorak menyemangati diri untuk mengajak pria di hadapannya bicara, entah itu sekedar basa basi, atau membicarakan hal yang tak penting pun tak apa.
__ADS_1
Lika sungguh gemas melihat keadaan itu, ia tidak mendekatkan mereka untuk saling diam seperti ini, berulang kali, Lika menghela nafas panjang, lagi.... Dan lagi... Frustrasi melihat dua insan yang coba ia satukan ternyata hanya saling diam.
Dan akhirnya, Lika memilih untuk mencoba menikmati suasana di sekitarnya, wanita itu menatap ke arah luar jalanan yang ramai, sambil menikmati kopi pahit serta dessert yang ia pesan, dengan sebuah praduga yang terbungkus keinginan, abai dengan diiringi sebuah harapan agar nanti mereka akan saling bicara jika ia tak lagi memperhatikan.
Suara sirene mobil ambulans terdengar nyaring di telinga, Lika melihat sebuah mobil ambulans berusaha menerobos jalanan yang padat dan ramai, beberapa orang ada yang menepikan kendaraannya dengan suka rela, tapi ada pula yang tetap mempertahankan posisinya, enggan untuk di selak.
Sang sopir ambulans terus menekan klaksonnya, namun mobil itu masih enggan untuk memberi jalan, beberapa pengendara sepeda motor malah memperburuk keadaan dengan menyalip mobil ambulans itu, sehingga membuat jalanan macet total.
Suasana jalanan kala itu lebih ramai dari biasanya, dan itu terjadi akibat penutupan jalan setelah terjadi kecelakaan di persimpangan.
Mobil ambulans itu terhenti, tak bisa bergerak maju, atau pun mundur untuk memutar arah, kesal dengan keadaan, sang sopir ambulans pun meraih pengeras suara, seraya mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil.
Sang sopir ambulans pun berkata “ mobil sedan dengan nomor xxx dan kalian para pengendara motor, mohon berikan kami jalan, kami sedang membawa pasien kritis, jika tidak! Anda sekalian harus tanggung jawab kalau sampai terjadi hal buruk dengan pasien yang saya bawa”
Lika melihat dan mengenali sopir ambulans itu, hati sang mantan dokter terenyuh melihat keadaan itu, panggilan jiwanya sebagai seorang dokter seketika bangkit kembali, seolah menekan segala hal yang dulu membuat keinginan itu hanya terpendam, terkubur di dalam hati.
Sebuah kenangan buruk pun mencuat dalam ingatan, terkenang begitu saja, ia mengingat masa lalu saat dirinya menjadi dokter, tepatnya di hari lahirnya seorang dokter malik, sehari setelah Lika menyelesaikan semua urusan terkait study -nya, di hari pertama Lika, awal karier seorang dokter Malika putri Gunawan.
Pernah ada cerita, di saat hujan lebat mengguyur permukaan bumi, di sebuah rumah sakit, di depan ruang UGD Lika menunggu pasien pertamanya dengan gelisah, tak lama, sebuah mobil ambulans berhenti tepat di hadapannya.
Lika bergegas untuk memeriksa pasien sesaat setelah pasien itu diturunkan, namun tangan yang Lika genggam tiba-tiba jatuh begitu saja, langkah sang dokter muda itu pun perlahan terhenti, bersama dengan hilangnya kesempatan.
Pasien itu meninggal bahkan sebelum mendapatkan penanganan, Lika yang kesal sampai memaki sopir ambulans, karna menurutnya pasien itu mungkin saja bisa selamat jika sopir ambulans bisa membawanya lebih cepat.
Lika tersadar dari lamunannya, sopir ambulans yang ada di hadapannya itu, adalah orang yang sama yang pernah Lika maki, rasa sesal membuatnya bangkit dan berlari keluar cafe, bergegas menghampiri sopir ambulans yang mengendarai mobil seperti siput, berjalan merayap dengan perlahan, kesal sang sopir pun hanya bisa terus membunyikan klakson.
“ maaf!” kata itu terlontar begitu saja saat Lika berhadapan dengan sopir ambulans itu.
“ Dokter Malik!” seru sang sopir ambulans
“ ya!” seru Lika sambil mengangguk
“ Tolong bantu pasien di dalam” ucap sang sopir dengan wajah memelas
Sopir itu kemudian turun dari mobil, ia tak peduli keadaan jalan semakin macet karna ulahnya, karna baginya pasien di dalam mobilnya lebih penting.
Sang sopir membukakan pintu belakang untuk Lika. Sang mantan dokter pun naik ke dalam mobil ambulans tanpa ragu.
Lika langsung memeriksa pasien, membantu mengobatinya dengan peralatan seadanya, yang penting adalah mengurangi risiko kematian pasien itu.
Mungkin tak ada yang memperhatikan, mata Lika berbinar seolah mendapatkan sesuatu yang begitu ia inginkan dalam hidupnya, padahal ia hanya mengikat satu jaringan arteri untuk menghentikan pendarahan di kepala pasien, namun satu tindakan itu cukup untuk menyirami hatinya seolah kering menjadi kembali hidup, dan kembali mengharapkan mimpi yang telah kandas itu, kembali berperan aktif untuk menyelamatkan nyawa orang lain, kembali mengobati pasien, kembali menjadi dokter, mimpi yang ia pikir tidak akan mungkin dapat ia raih kembali.
__ADS_1