Menjadi Pelakor

Menjadi Pelakor
Episode 75


__ADS_3

Pandangan dan penilaian orang lain terkadang terasa mengerikan, kritikan yang mereka lontarkan jua kerap kali terasa seperti mata pisau yang menusuk hati.


Padahal.... Sering kali mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Padahal... Sering kali mereka hanya bicara mengeluarkan pendapat.


Tapi tak ayal hal itu terkadang membuat kita sakit hati, hingga bahkan membuat kita melupakan kebaikan yang telah mereka lakukan.


Apalah daya... Kita hanya manusia yang di ciptakan sebagai makhluk sempurna, namun tak sesempurna sang pencipta.


Marah!


Arjuna sangat marah.


Tentu saja! Tak ada suami yang tak kan marah mengetahui istri yang dicintainya di perlakukan dengan buruk, walau tak menyaksikan kejadian secara langsung, namun Arjuna melihat apa yang terjadi dari layar komputernya.


Berawal dari rasa ingin tahunya, Arjuna pun mengintai ke mana dan apa yang hendak dilakukan sang istri di luar ruangannya, awalnya sang presdir tersenyum saat bisa melihat sang istri dari layar kamera CCTV, namun kemudian ia menggeram kesal saat melihat kejadian tak terduga yang menimpa sang istri.


“ beraninya dia yang hanya seseorang karyawan biasa, dengan sengaja menabrak istriku, istri seorang presiden direktur” ucapnya dengan penuh emosi


Sang presdir pun menekan satu tombol yang bisa membuatnya langsung terhubung pada beni, ia mengucapkan sebuah titah “ kumpulkan tim perencanaan di ruang rapat”


“ tapi pak, 5 menit lagi waktu istirahat para karyawan” ucap beni dengan berani, mencoba menolak titah yang tidak biasa itu.


“ karna itu lah aku tidak ingin di bantah ben” ucap sang presdir

__ADS_1


Mendengar itu, beni pun mengerti bahwa mereka telah melakukan kesalahan, ia bergegas keluar dari ruangannya, di salah satu koridor beni melihat Lika yang tengah membersihkan lantai, setelah memperhatikan keadaan sekitar, beni pun tahu kesalahan apa yang membuat sang presdir memberikan perintah yang tidak berperikemanusiaan itu.


Beni menghampiri ruangan tim perencanaan, di ambang pintu ia memberi dua tepukan tangan, meminta perhatian dari semua karyawan yang ada di sana, di ucapkannya titah dari sang presdir.


“ tim perencanaan berkumpul di ruang rapat sekarang juga! ”


Dengan nada bicara yang tegas dan seolah mendominasi, ia tak ingin membantu mereka untuk terlepas dari amarah sang presdir, biar saja mereka rasakan sendiri akibat dari apa yang telah mereka lakukan.


“ yang benar saja pak ben! Sebentar lagi kan jam makan siang” keluh seorang karyawan


“ makanya jangan membuat masalah, siapa suruh kalian melakukan hal di luar urusan pekerjaan dan membuat presdir kesal” ucap beni dengan nada bicara yang terkesan acuh.


“ini adalah buah dari pohon yang baru saja kalian tanam, jika menanam asam, yang kalian dapat tidak mungkin madu kan!” cibirnya kemudian sambil tersenyum 😼


Semua karyawan itu terdiam, mereka saling melirik seolah saling bertanya “ apa benar ini karna mereka mengganggu Lika?”


Dan, di saat semua karyawan lain pergi keluar untuk istirahat, menikmati makan siang mereka dengan kegembiraan, karyawan dari tim perencanaan justru tengah duduk menunggu sang presdir di ruang rapat.


Ada yang menunggu dengan gusar, ada pula yang bersikap tenang karna yakin tidak melakukan kesalahan, dan yang pasti mereka bahkan dengan sengaja tak membawa berkas apa pun, dengan sebuah keyakinan bahwasanya mereka dikumpulkan hanya untuk menerima kemarahan dari sang presdir tampan.


Suasana tegang teramat kental terasa saat Arjuna memasuki ruang rapat, ia menatap tajam para karyawan yang sudah duduk manis sambil menundukkan kepala.


“ apa-apaan ini? Di mana berkas pekerjaan kalian? Apa kalian berpikir aku mengumpulkan kalian untuk mengadakan reuni?” geram sang presdir tampan


Para karyawan itu saling melempar tatapan bingung, seolah merasa bahwa ternyata apa yang mereka duga itu salah besar.

__ADS_1


“kenapa hanya diam? Cepat ambil berkas pekerjaan kalian” titahnya dengan tegas


Para karyawan pun bergegas bangkit dari duduknya, mereka sampai setengah berlari karna tak ingin membuat sang presdir menunggu lama, para karyawan itu kembali ke ruangan mereka untuk mengambil berkas pekerjaan mereka, dengan memikirkan “ situasi genting apa yang telah terjadi?”


Setelah mengambil berkas pekerjaan mereka yang belum selesai mereka pun kembali duduk di tempat masing-masing, dari wajah mereka terlihat jelas kecemasan yang begitu besar, namun sang presdir tampan itu malah tersenyum mengejek, seolah senang melihat penderitaan dan ketakutan para karyawan itu.


Tanpa keraguan Arjuna meminta mereka untuk melaporkan hasil pekerjaan mereka, ia sangat yakin bahwa mereka belum menyelesaikan pekerjaan yang ia (Arjuna) minta selesaikan dengan cepat, tanpa mereka ketahui sang presdir tengah mencari celah untuk memberikan teguran keras.


Satu persatu karyawan itu pun memberikan laporannya, dan benar saja! Pekerjaan mereka baru selesai setengahnya, dan hal itu membuat sang presdir bisa meluapkan kekesalannya.


" Yang benar saja! Sebenarnya apa saja yang sudah kalian kerjakan sejak pagi, masa mengerjakan tugas sedikit saja tidak selesai, kalian lihat beni, dia bahkan sudah menyelesaikan semua pekerjaan mendesak, dan separuh pekerjaan yang lainya, dan bla... bla... bla...


Arjuna mencemooh semua karyawan yang ada di dalam ruangan itu, merendahkan mereka dengan penuh emosi, dan tak memberikan ampun untuk kesalahan kecil yang biasanya tidak begitu Arjuna hiraukan.


Para karyawan itu hanya diam, walau pun dalam hati mereka merasa amat sangat kesal pada sang presdir, tapi tak ada satu pun yang berani untuk berdebat dengan sang presdir, mereka terus menahan diri meski mulut mereka sudah gatal.


" bagaimana rasanya di nilai sembarangan?"


Pertanyaan itu membuat para karyawan mendongak menatap Arjuna, dan sang presdir pun bangkit dari duduknya, ia menggeser kursi dan duduk di atas meja, bak seorang guru yang tengah menasihati para murid, Arjuna menjawab tatapan penuh tanya itu dengan suara lembut.


" Aku tidak suka dengan sikap kalian ini, perusahaan tidak menggajih kalian untuk membuli orang lain kan! Terlepas dari dia istriku atau bukan, tak sepantasnya kalian asal nge-judge orang begitu saja, yang kalian lihat itu tak ada 1% dari kehidupan dia yang sebenarnya, setiap orang pasti memiliki alasan dalam segala tindak tanduknya, karna itu aku harap kalian dapat mengerti, perusahaan bukan hanya tempat bekerja, tapi ada hubungan lain yang harus kita jaga demi kenyamanan bersama, dan yang harus kalian ingat adalah... DI SINI AKU LAH BOS NYA jadi beranikan diri kalian untuk menegur yang salah, jangan hanya diam dan menjadi penonton seperti seorang pengecut"


Ceramah panjang itu membuat karyawan termenung, mereka memikirkan ucapan sang presdir dengan serius.


Arjuna bangkit dari duduknya, langkah kakinya membawanya pergi menjauh,dan di ambang pintu ia berkata " bagai sebuah keluarga yang tak selamanya berhubungan baik, tapi aku berharap kalian akan berusaha mengendalikan perasaan kalian, bertemanlah sewajarnya, bergosip lah sewajarnya, dan membenci lah dengan sewajarnya"

__ADS_1


Hahahah.... [•.•ิ]


Beni tertawa begitu melihat Arjuna menghilang di balik pintu, sambil menggelengkan kepala ia berkata "Dia sudah berubah, tapi aku suka perubahannya"


__ADS_2