
“Kak bangun..... “
“ Kak Arjun....”
“ Kak ayo cepat bangun... Bukankah kakak harus bergegas masuk kantor?”
Seruan dari suara merdu itu terus terdengar bersama dengan sentuhan tangan yang lembut yang terus mengguncang tubuh, Arjuna tahu siapa pemilik suara dan tangan itu, pikirannya pun sudah memintanya untuk menuruti ucapan itu, namun rasa lelah membuat tubuhnya terasa berat, dan rasa kantuk yang masih tersisa memaksa matanya untuk tetap terpejam.
“ biarkan aku tidur sebentar lagi!”
Suara bariton yang terdengar sedikit serak itu membuat seorang wanita mendengus kesal, helaan nafasnya bahkan terdengar berat.
Hening untuk sesaat...
Arjuna kembali terlelap, ia hampir menggapai mimpi sebelum sebuah sentuhan membangkitkan sang naga yang juga masih terlelap.
Arjuna membuka kedua matanya bersama dengan rasa kantuk yang meluap entah ke mana, di cekalnya pergelangan tangan sang istri, kemudian di tarik hingga sang wanita jatuh terjerembap dalam dekapannya.
Arjuna tersenyum menatap sang istri, senang rasanya melihat sosok seseorang yang kau cintai saat membuka mata di pagi hari, namun kesenangan itu harus berakhir saat ada tangan lain yang menarik Lika hingga terlepas dalam dekapannya.
Ingin rasanya Arjuna marah, tapi tak bisa, bahkan untuk sekedar mengeluh pun sang presdir tampan itu tak mampu, bagaimana lagi, beliau juga adalah sosok yang amat ia sayangi dan hormati.
Seseorang yang membuat Arjuna tetap menjadi pria tampan yang malang, ayah Gunawan, sang mertua yang terkadang bersikap menjengkelkan.
Arjuna memaksa dirinya untuk duduk, ia menatap ayah mertuanya dengan wajah datar, tapi tersenyum manis saat melihat sosok sang istri yang berdiri di sampingnya (gunawan).
“ lekas bangun kak! Ini sudah sangat terlambat, pak Beni bahkan sudah datang menjemput sejak satu jam lalu” ucap Lika
Berbeda dengan ucapan Lika yang sangat lembut, sang ayah mertua justru bicara dengan kasar penuh ketegasan.
“ Cepat bangun! Kau tidak dengar istrimu bilang apa? Dasar menantu pemalas! Apa kau tidak berniat mencari nafkah untuk putriku?” hardik Gunawan
“ baiklah! Baiklah! Berhentilah mengomel ayah... Memangnya karna siapa aku sampai kelelahan sepeti ini? Harusnya aku mendapat pujian, Aku kan sudah bekerja keras semalaman”
Mendengar itu, Gunawan pun merangkul bahu sang putri lalu berkata “ kau dengar itu sayang, suamimu mengeluh karna harus bekerja keras semalaman, jadi nanti malam jangan biarkan dia bekerja, kau harus jauh-jauh darinya, mengerti!”
__ADS_1
“ tidak ayah... Jangan berkata seperti itu...
Gunawan mengabaikan ucapan Arjuna, ia pun berseru “ ayo kita keluar!” mengajak sang putri untuk keluar dari kamar.
“ bodoh! Bodah! Bodoh!”
Di saat Arjuna merutuki dirinya, Gunawan justru tengah tertawa terbahak-bahak, ia merasa puas setelah mempermainkan sang menantu.
“ cukup ayah! Sampai kapan ayah akan mempermainkan suamiku?” ucap tanya Lika, ia sedikit kesal dengan tingkah jahil sang ayah.
“ jangan marah sayang, ayah melakukannya bukan karna benci, tapi karna tanggapan suamimu terlihat lucu, apalagi saat melihatnya panik, itu adalah hiburan yang membuat ayah merasa kembali muda” terang Gunawan
“ terserah ayah saja lah... “ ucap Lika seraya berlalu
Lika mengambil jalan yang berbeda dengan sang ayah, ia pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk sang suami.
Sementara gunawan menghampiri sahabatnya yang tengah menikmati secangkir teh paginya.
Usai menyiapkan bekal, Lika pun hendak kembali ke kamar untuk membantu persiapan Arjuna, namun sebuah seruan menghentikan langkah kakinya di undakan tangga ke lima.
“ aku usahakan tidak akan lama lagi” jawab Lika yang kembali melanjutkan langkahnya.
Arjuna baru saja selesai membersihkan diri saat Lika masuk, rasa malas kembali dirasakan oleh sang presdir saat melihat wajah malu-malu sang istri, saat melihatnya tubuh polosnya.
“ kau sudah sering melihatnya kan! Kenapa masih malu-malu “ goda Arjuna seraya memaksa sang istri untuk mendongak menatap wajahnya.
“ lekas pakai celanamu kak! Aku akan membantu kakak bersiap” ucap Lika seraya memalingkan wajah
Yang Arjuna katakan itu memang benar, Lika sudah sering melihat tubuh polos sang presdir, bahkan sering mencicipinya, tapi entah kenapa ia masih merasa malu saat melihatnya.
Melihat wajah malu-malu Lika membuat Arjuna gemas, ia tak hentinya menggoda sang istri, seperti mengelus punggung Lika, mengecup pipinya, dan mengeluarkan ucapan yang tidak senonoh.
“ Hati-hati saat kau memasukkan kemejaku, jangan sampai ular naga yang sensitif itu tersentuh, kalau sampai bangun kau harus bertanggung jawab ya!”
“ kau sangat cantik mengenakan pakaian itu, tapi aku lebih suka jika kau mau menanggalkannya”
__ADS_1
“ istriku seksi sekali ya! Tapi kau terlihat lebih seksi lagi saat bergoyang bersama ular nagaku”
Seperti itu lah contohnya!
Wajah Lika sudah memerah seperti udang rebus, hatinya terus berdebar mendengar pujian dari sang suami, suara detak jantungnya bahkan terdengar seakan hendak meledak, namun ia hanya bisa terdiam tak bersua dengan senyum yang terus mereka.
“ kau juga bersiaplah! Aku tunggu di bawah” seru Arjuna tiba-tiba
“ kenapa kak?” tanya lika bingung
“aku tidak akan berangkat ke kantor jika kau tidak ikut denganku” ucap Arjuna yang kemudian melangkah keluar kamar.
“ matilah aku” keluh Lika, ia menyadari betapa seriusnya ucapan sang suami, Lika bukan tak ingin ikut pergi ke kantor, ia hanya belum siap jika harus bertemu dengan para pegawai yang lain.
Lika masih ingat jelas bagaimana sikap juli saat terakhir kali mereka bertemu, karna itu ia sedikit takut untuk menghadapi para pegawai lain. Meski takut ia tak punya pilihan lain, Lika pun bersiap dan akhirnya ikut ke kantor bersama sang suami.
Tepat seperti apa yang Lika duga, sesaat setelah memasuki gedung kantor tatapan semua orang tertuju padanya, beberapa dari mereka menatap tak percaya, banyaknya menatap penuh kebencian, seolah Lika adalah wanita hina yang telah berhasil merebut suami orang lain.
Lika amat mengerti dengan pandangan di sekitarnya, tapi rasa tak nyaman itu pun sulit ia tampik. Arjuna pun bisa membaca kegelisahan sang istri, ia menarik pergelangan tangan Lika, memaksa sang wanita untuk berjalan sambil menggandeng tangannya.
Tak ada yang berani berkata apa pun saat Lika tengah bersama dengan Arjuna, karna itu, Lika pun memberanikan diri untuk keluar dari ruangan presdir, ia mengunjungi pantry untuk menyiapkan makanan bagi sang suami, menata bekal yang ia bawa di atas piring.
“ cih... Aku pikir dia wanita baik-baik, ternyata dia pelakor, tegak sekali dia sama kak layla”
“ wajahnya saja yang cantik seperti malaikat, tapi ternyata hatinya busuk”
Hinaan dari beberapa karyawan terdengar jelas saat Lika hendak kembali ke ruang presdir, sekuat hati Lika berusaha mengabaikannya, namun tampaknya ada yang tidak senang dengan keteguhan hati Lika.
Seorang pegawai pria dengan sengaja menepuk bagian bawah nampan yang Lika bawa, alhasil semua makanan yang sudah lika siapkan pun jatuh berserakan di lantai.
Ini adalah cobaan terberat bagi wanita yang dituduh sebagai pelakor, walau air matanya jatuh, namun Lika tak menaruh rasa benci, karna ia memiliki pemikiran yang positif pada para karyawan yang dulu sempat menjadi rekan kerjanya.
Wajar saja mereka begitu, mereka kan tidak tahu betapa menderitanya Arjuna, merek tidak tahu sosok istri pertama Arjuna yang selalu menyiksanya (Arjuna) dan mereka tidak tahu bahwa awalnya Lika tak pernah berniat untuk memisahkan Arjuna dari istri pertamanya (Layla) karna yang mereka tahu, Pegawai bernama Lika tiba-tiba saja menjadi istri kedua sang presdir, hingga berpikiran bahwa Lika lah yang menyebabkan presdir bercerai dengan istri pertamanya.
Seperti itulah isi pemikiran Lika...
__ADS_1